Tag Archives: orang tua

Kebangetan

Salah satu rangkaian acara yang harus gua dan Sarah lakukan pada hari pernikahan kami adalah ibadah pemberkatan nikah di gereja. Sebagai jemaat yang taat dan tidak menyembah pohon, maka kami pun melakukan hal tersebut.

Ada beberapa sesi yang harus kami lakukan selama ibadah pemberkatan nikah. Seperti urutan berjalan masuk ke ruang ibadah, pernyataan janji nikah, dan pengucapan terima kasih ke kedua orang tua.

Setiap sesi ada maknanya. Kayak urutan masuk pun ga bisa sembarangan. Urutan yang masuk ga bisa mempelai pria, orang tua mempelai pria, Beyonce Knowless, saudara kandung, lalu mempelai wanita. Ga bisa kayak gitu. Selain karena ga mampu bayar Beyonce, hal ini karena urutan masuk itu ada maknanya tersendiri.

Begitu pun dengan janji nikah. Diucapkan dengan kata-kata yang udah disusun tim gereja karena mereka ga ingin ada unsur yang terlewatkan saat memberikan janji kepada pasangannya. Karena harus sama persis, maka gua dan Sarah udah ngapalin ini dari beberapa bulan bahkan sampai beberapa jam sebelum ibadah pemberkatan.

Gua yang notabene anak IPA (ciee), agak kesusahan saat ngapalin janji nikah. Sialnya, gua yang mesti ngucapin duluan ke Sarah, sebelum gantian, Sarah yang ngucapin ke gua. Kalo misalkan Sarah yang ngucapin duluan kan enak.

“Begitulah janji nikah Sarah ke Roy,” kata pendeta, “Sekarang giliran Roy.”

“RT at sarahpuspita. Pake hashtag #nowplaying.”

Selain bisa lupa, ngucapin duluan itu banyak ga enaknya. Ada kekhawatiran ketika gua selesai mengucapkan janji nikah, Sarah malah berubah pikiran dan bilang, “Kthxbye.”

Setelah mengambil napas dalam-dalam dan memohon dengan sangat kepada sel otak untuk dapat mengeluarkan kalimat dengan tepat, gua bisa melewati sesi pernyataan janji nikah dengan lumayan. Sempat nge-blank di kalimat terakhir, tapi kata demi kata bisa gua ucapkan meski ga bisa sama persis dengan yang diminta.

Kelar urusan ngapal, datanglah sesi yang gua tunggu-tunggu dari ibadah pemberkatan nikah ini: pengucapan terima kasih ke orang tua.

Sejak gua lulus kuliah, posisi gua dan bokap nyokap udah ga kayak anak dan orang tua lagi. Tapi lebih ke teman diskusi dan sobat bercanda. Gua, bokap, dan nyokap sering tukar pandangan di antara makan malam, dan bahkan, saling ngeledek di sesi oboralan santai pulang gereja. Kami udah kayak sahabat dekat.

Kalo di pemberkatan nikah yang pernah gua datengin, si anak dan orang tua biasanya bakal sama-sama nangis dan berpelukan. Tapi gua yakin, di pemberkatan nikah gua ini bakal beda. Gua bakal ketawa bahagia setengah bercanda saat ngomong terima kasih ke bokap nyokap. Gua yakin.

“Kedua mempelai dipersilahkan mengucapkan terima kasih kepada orang tua, dimulai dari orang tua mempelai pria,” kata pendeta memulai sesi ini.

Kami berdua pun berjalan pelan dari depan mimbar menuju ke arah kursi tempat bokap nyokap gua duduk. Setelah tepat berdiri di depan mereka, gua pun mengambil nafas dalam-dalam. Di depan gua, bokap dan nyokap udah senyum-senyum. They know that this is going to be a fun and joyful moment, instead of a teary one.

Gua sendiri udah menyiapkan beberapa kalimat pendek untuk diucapkan. Beberapa kalimat singkat yang menunjukan rasa terima kasih gua ke bokap nyokap. Beberapa kalimat padat yang disusun dengan riang gembira.

But the thing is… I could not say a single word. Not a single fucking word.

Continue reading

Advertisements

Anekdot Favorit

Anekdot di bawah ini bukanlah karya gua. Gua hanya pernah mendengarnya dan ingin meneruskannya ke teman-teman semua. Alasan gua ingin meneruskannya adalah, karena meski hanya pernah mendengarnya satu kali, namun sampai hari ini, anekdot ini masih membekas di hati.

Jadi, selamat membaca anekdot favorit gua.

asiong

Sebutlah Asiong, seorang anak warga negara Indonesia keturunan Cina yang berusia 8 tahun. Saat ini, Asiong menginjak bangku kelas 2 Sekolah Dasar, yang membuat ia kadang dimarahi gurunya. Bangku kok diinjak-injak?

Diceritakan Asiong sangatlah perhitungan. Mungkin karena darah Cina yang mengalir dalam darahnya, mungkin juga karena Asiong sering membantu Mama-nya di toko, atau karena sejak kecil Asiong hobi nyemil tombol kalkulator. Ga heran, nilai pelajaran menghitung Asiong selalu bagus di sekolah.

Suatu pagi, sebelum Asiong berangkat sekolah, menulislah ia di secarik kertas. Selesai menulis, kertas itu ia lipat rapih dan tinggalkan di atas meja belajar dalam kamarnya. Sebelum beranjak keluar, Asiong membubuhkan besar-besar di bagian atas kertas yang terlipat. ‘Untuk Mama’, begitu tulisnya.

Sekitar jam 10 pagi, setelah Asiong berangkat sekolah, masuklah Mama Asiong ke dalam kamar. Saat sedang asik menyapu, Mama Asiong menemukan selembar kertas yang ditinggalkan Asiong tadi pagi. Hampir saja Mama Asiong membuang kertas itu, sampai matanya menangkap tulisan yang dibubuhkan dengan jelas di bagian atas. Dengan harap-harap cemas, Mama Asiong membuka kertas dan membacanya dalam hati.

“Mama.

Kemarin Asiong bantuin Mama nyapu. Mama hutang Asiong jasa nyapu. Mama hutang Asiong 10 ribu.

Dua hari lalu, Mama minta Asiong beli telur di warung. Mama hutang jasa jalan ke warung. 10 ribu.

Satu minggu yang lalu, waktu Mama sakit, Mama minta Asiong beli obat di apotek. Mama hutang Asiong 10 ribu.

Jadi, total, Mama hutang Asiong 30 ribu. Ditunggu ya, Ma. Asiong mau beli mainan.”

Mama Asiong hanya bisa tersenyum geli, merogoh saku, menaruh uang, mengambil pinsil dan kertas, lalu menuliskan pesan balasan untuk Asiong. Setelah beberapa menit, Mama selesai menulis, melipat kertas menjadi 2 bagian, dan meletakkannya di atas meja belajar. Agar tidak salah dan terbuang, Mama membubuhkan catatan di bagian atas kertas, persis seperti yang Asiong lakukan tadi pagi: ‘Untuk Anakku Tersayang’. Continue reading

Pertanyaan Sederhana

Cerita kali ini bermula ketika gua teringat sebuah pertanyaan sederhana yang diajukan oleh seorang pengunjung di talkshow “Bankers Writers” beberapa bulan lalu.

“Apa peran orang tua dalam karier menulis Mas dan Mbak sekalian?”

Beberapa kali hadir pada talkshow atau sejenisnya, baru kali ini gua ditanya seperti ini. Biasanya hanya pertanyaan serupa yang ga jauh-jauh dari dapet-inspirasi-dari-mana dan gimana-bagi-waktu-antara-kerja-dan-nulis. Dua pertanyaan yang hampir aja membuat gua untuk membeli tape recorder, merekam jawaban, menari poco-poco, lalu memutarnya setiap kali ada yang bertanya hal yang itu-itu lagi.

Namun hari itu, sebuah pertanyaan segar berhasil mengusik otak gua. Dilempar oleh seorang ibu yang anaknya ingin menjadi penulis dan sedang mencari masukan sebanyak-banyaknya.

Untungnya, bukan gua yang mendapat giliran pertama untuk menjawab. Mungkin, jika diharuskan menjawab saat itu juga, gua akan berteriak, “ISTANA MAIMUN! ISTANA MAIMUN!”. Nina Ardianti, penulis novel Restart, dipersilahkan untuk menjawab duluan. Sambil mendengarkan jawaban Nina, otak gua berputar mencari jawaban apa yang pas bagi pertanyaan tadi.

Karena kalo diinget-inget, sebenernya orang tua gua ga pernah setuju-setuju banget sama kegemaran gua akan dunia tulis-menulis. Gua yang notabene lulusan fakultas teknik, dianggap hanya akan menghabiskan waktu percuma menggeluti dunia yang jauh berbeda dari gelar akademis tadi.

“Kamu fokus aja sama kerjaan kamu yang sekarang.”

Begitu alasan yang bolak-balik dilempar oleh bokap dan nyokap. Mereka ingin gua memanjat pohon karier setinggi-tingginya dan ga terdistraksi hal lain.

Namun saking tertariknya gua dengan dunia tulis menulis, gua pernah sempat resign dan memutuskan untuk menulis novel penuh waktu. Berhari-hari menulis di depan komputer, dengan celana pendek dan kaos butut. Sesekali malah tanpa baju. Mengangkat kaki ke atas meja sambil mencari inspirasi. Asisten rumah tangga yang kebetulan ke kamar untuk mengantarkan makanan, kaget, lalu berteriak, “Bu, Mas Roy akhirnya gila beneran, Bu! Mas Roy akhirnya gila beneran!”

Dua bulan kemudian, naskah itu rampung dan terbit dengan judul “The Maling of Kolor”. Iya, itu judul novel, dan iya, ternyata, gua udah gila beneran.

Namun karena tekanan lingkungan, gua memutuskan untuk mencari kerja lagi. Salah satu pekerjaan yang gua coba lamar adalah sebagai editor di penerbit yang tergolong baru. Tapi lagi-lagi, keinginan ini bentrok dengan harapan bokap dan nyokap waktu itu.

Maka kalo ditanya apa peran orang tua gua dalam dunia tulis menulis gua, dukungan bukanlah jawabannya.

Bakat? Bukan juga. Bokap dan nyokap jauh dari dunia kesenian. Momen terdekat bokap dan nyokap dengan hal-hal yang berbau seni adalah saat sesi karaoke rutin mereka setiap Minggu sore. Namun jangan bayangkan suara mereka seperti duet suami istri Muchsin Alatas dan Titiek Sandora. Mereka lebih mirip Tom dan Jeff Hardy. Suaranya Smackdown, argh!

Jadi sebenarnya, apa peran orang tua dalam karier penulisan gua ya?

Saat Nina sampai di penghujung jawabannya, tiba-tiba gua terbesit sebuah jawaban yang sepertinya bisa menjawab pertanyaan ibu tadi.
Continue reading

Selagi Bisa

Gua pernah heran, dari mana asal muasal sifat nekad gua?

Karena bisa dibilang, gua ini orang yang suka bertualang. Suka pergi ke tempat-tempat yang belum pernah didatengin, nonton pertunjukan yang orang jarang pilih, atau nyobain makanan-makanan baru yang bisa aja bikin sakit perut. Dan itu semua beda banget sama Papa dan Mama gua.

Terutama Papa. Beliau kalo makan, menunya ya itu lagi-itu lagi. Kalo nonton, nunggu pendapat orang-orang yang udah nonton dulu, baru dia mau ikutan nonton. He’s playing safe.

Udah gitu, beliau lebih suka menghabiskan waktu di rumah, beristirahat jika sempat, atau mengurusi bagian-bagian rumah yang perlu diurusi. Nyapu halaman, ngerapihin genteng, atau ngereparasi pemutar audio yang ia koleksi. Papa benar-benar orang rumahan, sementara gua suka bertualang.

Salah satu petualangan terseru gua adalah waktu jalan kaki sejauh 5 kilometer. Hari itu lagi ada demo hari buruh sehingga jalanan Jakarta benar-benar macet total. Bus dan mobil-mobil bagai parkir di tengah jalan, hanya bisa menunggu pasrah jalanan untuk terurai. Daripada membuang waktu dengan naik angkot yang terjebak macet, akhirnya gua memutuskan untuk berjalan kaki dari kantor gua sampai ke jalanan yang sedikit lebih lapang untuk mencari ojek atau taksi. Begitu sampai rumah dan menceritakan hal ini, gua diomelin sama Papa.

Gua juga suka beli tiket traveling mendadak. Kayak waktu ke Filipina akhir tahun 2012, atau ketika gua secara impulsif melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur untuk menonton Liverpool. Gua orangnya nekad, tapi Papa tidak.

Makanya gua sempat heran, dari mana sifat nekad ini berasal?

Continue reading