Tag Archives: pacar

The Good Vow

roy-sarah-the-vow

I promise to continue loving you wholeheartly like Carl loves Ellie.

I promise you always have got a friend in me.

I promise to never let us forget that adventure is out there.

I promise when life gets tough, we will just keep swimming together.

I promise to stick with you through ups and downs, inside out.

And I vow to love you from once upon a time to infinity and beyond.

PS: Happy anniversary, Mrs. Saputra. May the force be with us.

Advertisements

51 Hal yang Jangan Dilakukan oleh Pria Saat Ngapel ke Rumah Pacar

1. Datang terlambat.

2. Atau datang tepat waktu. Padahal ga diundang.

3. Atau diundang. Namun nyasar.

4. Atau ga nyasar. Tapi telanjang.

5. Belum mandi dan tidak rapih. Nanti kalo pas ngetuk pintu disangka gembel dan dikasih receh, malah seneng.

6. Berdandan dengan gaya rambut yang kurang pas untuk ngapel ke rumah pacar. Rambut dengan poni ke depan semua sampai menutupi muka, misalnya. Ingat, kamu bukan Sadako.

7. Ataupun Andika Kangen Band.

8. Datang dengan naik delman istimewa. Kecuali sambil turut Ayah ke Kota.

9. Datang naik motor. Ketika calon mertua keluar untuk menghampiri, berkata, “Bapak, Bapak Joni bukan? Yang ke Monas? Mau pakai masker, Pak?”

10. Maskernya masker bengkoang.

11. Mengetuk pintu dengan birama tertentu.

12. Saat ada seorang ibu tua keluar dari rumah, berkata, “Mbak, majikannya ada?”, eh ternyata itu Mama-nya.

13. Waktu ditanya dari dalam, “Siapa ya?”, malah menjawab, “Kasih tau ga ya?”

14. Atau, “Mau tau aja apa mau tau banget?”

15. Saat pintu dibuka, dengan antusiasnya berkata, “Halo, selamat malam. Bapak punya waktu 2 menit? Saya ga jualan kok.”

16. Saat pintu dibuka, menutupnya kembali.

17. Memakai kostum berbau alien, dan saat pintu dibuka, berkata, “We come in peace.”

18. Mengenakan piyama dan membawa guling. Dikata mau pajamas party?

19. Datang beramai-ramai. Bareng ayah, ibu, tanjidor, dan kawanan saudara beserta roti buaya. Itu mah lamaran, woy!

20. Ga melepas alas kaki. Malah melepas celana. Continue reading

Wawancaur: The Artsy Couple

Masih inget kan cerita perihal pre-wedding yang ini? Nah, di bulan Mei kemarin, gua dan si pacar mengeksekusi hadiah bareng si vendor yang mengadakan kuisnya tempo lalu.

Nama vendor fotonya Yongki Artroom, yang digawangi oleh Yongki Ongestu. Saat semua vendor lagi rame dengan foto di luar negeri atau foto sambil nunjuk langit, Yongki ArtRoom tampil beda dengan penawaran yang unik dan berani: prewedding film!

Namun ga lengkap rasanya sebuah film tanpa kostum. Yuris Laboratory yang dikomando oleh Yuris Aryanna menjadi pendukung yang sepadan. Ga hanya gaun malam atau sejenisnya, Yuris Lab juga bisa membuat kostum beraneka rupa. Keren kan?

Uniknya lagi, mereka berdua bukan hanya partner in business, tapi juga pasangan yang sedang menjalin hubungan asmara. Ciee.

Dibantu oleh si pacar, gua mau ngorek-ngorek para pemilik usaha ini. Kayak kenapa sih mereka bikin usaha yang beda dari kebanyakan? Gimana misahin antara hubungan asmara dan profesional? Dua pertanyaan dan hal-hal penting lainnya (ya keleus), bisa disimak di wawancaur kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Yuris (YA) dan Yongki (YO) benar-benar dilakukan via Whatsapp bareng si pacar (SP). Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi narasumber. Terima kasih.

yongki yuris

RS: Hi Yongki dan Yuris! Kita mulai ya wawancaurnya.

YA: Siap!

YO: Oke, Roy.

RS: Kenalin dong ke khalayak ramai (cailah), apa sih Yongki ArtRoom dan Yuris Lab itu?

YA: Yuris Lab itu costume lab yg mempunyai visi dan misi untuk menjadi sebuah wadah untuk menghubung dan mendukung growth talenta-talenta seni, entrepreneur, education, dan pertumbuhan sosial. Sejujurnya costume adalah 1 bagian kecil dari Yuris Lab. Kebetulan skill aku di costume design, jadi itu dulu yang aku kembangkan dan gunakan untuk benefit orang lain. Continue reading

Perkara Resepsi yang Niatnya Ga Gitu-Gitu Aja

Dari dulu, gua selalu beranggapan resepsi nikahan ya gitu-gitu aja. Undangan bunga-bunga, dekor warna-warni, antrian siomay yang menggila, dan pakaian keluarga yang senada. Datang ke puluhan bahkan ratusan nikahan dengan penampakan yang serupa membentuk persepsi gua. Bahwa resepsi yang baik, ya yang seperti itu.

Yang gitu-gitu aja.

Namun untungnya, gua ketemu dengan pasangan yang mampu menggelitik kotak imajinasi dalam otak gua. Semua ide nakal nan binal melompat-lompat kegirangan saat tau bahwa si pacar sangat terbuka untuk segala jenis kemungkinan dalam menyiapkan sebuah resepsi pernikahan.

Setelah melakukan photo prewedding dengan tidak menunjuk langit, gua dan si pacar nekad untuk menggunakan konsep yang berbeda pada resepsi pernikahan kami.

Well, konsepnya ga se-ekstrim nikah sambil jalan di atas bara api atau menyediakan makanan berupa daging babi rusa buruan cromagnon. Tapi kami mencoba sedikit berbeda agar bisa memuaskan hasrat imajinasi kami berdua.

Konsep yang kami pilih sederhana. Sama seperti konsep prewedding photoshot, kami memilih film Up. Saking cintanya sama film ini, gua berhasil membujuk si pacar untuk menggunakan film Up sebagai tema besar resepsi kami nanti.

Sampai sini, mungkin banyak yang bertanya-tanya, “orang tua marah ga tuh?”, atau “mahal ga sih?”. Jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah “ga kok”. Itu karena ornamen resepsi yang disesuaikan ga macem-macem banget. Sepertinya masih dalam koridor pemakluman orang tua, dan masih dalam budget yang telah gua tetapkan. Yang gua dan si pacar sesuaikan hanya aspek-aspek kecil. Aspek-aspek yang mungkin aja ga disadari oleh orang-orang yang bukan penikmat film atau pecinta Disney.

Nah, di postingan kali ini gua mau cerita beberapa ornamen resepsi yang sedikit kami bedakan dari resepsi kebanyakan agar bisa sesuai dengan konsep film Up. Semoga postingan ini bisa mengasah ide binal kalian. Selain itu, lewat postingan ini gua juga ingin berbagi semangat bahwa kita bisa kok bikin resepsi yang sesuai dengan imajinasi kita.

So, here we go.

1. Undangan

Let’s start with the invitation. Undangan jadi salah satu ornamen resepsi yang paling gampang untuk disesuaikan dengan konsep gua dan si pacar. Dari awal, kami memang ga mau design undangan dengan bunga-bunga atau ukiran-ukiran yang banyak ditemukan di resepsi orang lain.

Kami mau beda.

Maka, kami men-design undangan berbentuk tiket nonton pertunjukan teater. Iya, kayak tiket nonton bioskop. Lengkap dengan waktu, lokasi (teater), dan judul acara (film). Lalu di mana unsur film Up-nya?

Di bagian paling atas tiket, ada tulisan “adventure is out there”, sebuah jargon yang menjadi pembuka dari film Up. Seperti halnya pada film, kami ingin jargon itu menjadi pembuka atau sambutan bagi mereka yang menerima undangan kami. Selain itu, di bagian kiri bawah, ada icon film Up: dua sofa milik Carl & Ellie.

Undangan ini di-design dengan ciamik oleh temen designer yang memang udah sering men-design undangan nikah. Namanya Jennifer Widjaja. Kalo berminat bikin undangan yang unik, kalian bisa contact dia di jenny.widjaja@yahoo.com.

Continue reading

Surat Terbuka Untuk Si Pacar

Dear pacar,

Kamu inget ga, waktu kita masih awal-awal nyiapin resepsi nikah? Aku seneng banget kalo ternyata kita punya prinsip yang sama. Yaitu, daripada bermegah-megah di gedung dan makanan saat resepsi, lebih baik ngeluarin budget sedikit lebih besar untuk foto prewedding. Karena foto prewedding itu barangnya buat kita, bisa disimpan untuk selamanya. Sementara gedung hanya berlangsung 2 jam, dan makanan cuma bakal jadi feses pada akhirnya.

Selain prinsip, ternyata kita juga punya ide foto prewedding yang mirip. Kamu pernah liat satu konsep di nikahan orang lain, sementara aku kecetus ide ini setelah boker sejam di WC. Iya, aku rada sembelit waktu itu. Sekarang sih udah mendingan, udah sering makan sayur yang banyak seratnya. Brokoli, daun selada, sampai daun touch me aku makan semua. Sekarang pup aku lancar lho. Ga percaya? Kapan-kapan mampir ya.

Anyway, sampai mana tadi?

Oiya. Ide. Setelah perundingan yang sangat kilat, kita sepakat untuk mengeksekusi ide ini. Sebuah ide yang sepertinya belum banyak dilakukan di Indonesia. Sebuah konsep yang kayaknya bakal memorable buat kita dan orang-orang yang ngeliat. Foto prewedding dengan tema film.

Terus kamu inget ga, waktu kita lagi ngebahas lebih jauh soal konsep film ini? Awalnya kita mau bikin foto yang sama persis dengan poster-poster film. Kita akan bergaya bak dua tokoh pemeran utama yang biasa terpampang di bingkai now playing atau coming soon. Lalu foto-foto itu akan dipajang di selasar menjelang pintu masuk ruang resepsi. Menjadikan nikahan kita seperti teater bioskop yang sedang memutar banyak film.

Kita lalu sepakat hanya akan memilih film yang keliatannya do-able buat dieksekusi. Maka film kayak Jurassic World harus kita coret dari daftar. Meski muka aku mirip Stegosaurus dan sering pake kaos T-Rex, kayaknya masih banyak film lain yang lebih layak untuk dijadikan ide foto prewedding. Film Ada Apa dengan Cinta pun sepertinya ga do-able. Karena satu-satunya kesamaan antara aku dengan Nicholas hanyalah nama belakang kami berdua.

Nah, kamu inget ga, kenapa akhirnya ide poster film ini ga jadi dieksekusi? Karena ternyata ga gampang ya nyari vendor yang sesuai dengan harapan kita. Bolak-balik ke prewedding expo tapi selalu pulang dengan tangan kosong. Rata-rata mereka menghitung harga berdasarkan jumlah pakaian yang diganti. Ide poster film jadi ga ramah sama kantong, karena jika kita mau bikin 8 poster film, vendor akan men-charge dengan biaya 8 kali ganti wardrobe. Dan itu sama sekali ga murah.

Akhirnya kita ngalah. Konsepnya tetap film, namun angle-nya bukan poster lagi. Melainkan adegan-adegan dalam sebuah film. Kita hanya akan pilih dua film yang maknanya cocok sama nikahan, lalu beberapa adegannya dijabarin dalam bentuk foto.

Sekarang pertanyaannya adalah, film apa yang harus dipilih?

Continue reading