Tag Archives: Pandji Pragiwaksono

Gerakan Senyum Massal

Udah lama juga gua ga nonton stand up comedy special secara langsung. Acara terakhir yang gua tonton adalah Stand Up Fest sekitar bulan Juni lalu. Makanya begitu Aethra Learning Center mengadakan stand up special Gerakan Senyum Massal, gua dan pacar ga ingin melewatkannya.

Setelah sukses dengan Mentertawakan Indonesia tahun lalu, Aethra Learning Center kembali menggelar acara serupa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Namun berbeda dengan pergelaran sebelumnya, kali ini banyak kursi yang masih kosong. Entah karena harga tiketnya yang semakin mahal atau karena animo akan stand up comedy itu sendiri yang semakin berkurang.

Acara ini sendiri diliput oleh Kompas TV dan rencananya akan disiarkan. Jadi, bagi kalian yang kelewatan, bisa nonton siaran taping-nya di Kompas TV nanti.

Sekitar pukul setengah delapan malam, acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai dan dibuka oleh juara 2 Stand Up Comedy Indonesia season 2 yang digadang-gadang sebagai seorang komika yang pintar, Gilang Bhaskara.

Ini adalah kali pertama gua menonton Gilang secara penuh, dari awal sampai selesai. Terakhir kali gua nonton Gilang adalah ketika Stand Up Fest, tapi itupun hanya setengah karena gua udah jenuh dengan performa line up sebelumnya dan memutuskan untuk pulang aja.

Dari penampilannya di Gerakan Senyum Massal, gua mengamini yang selama ini dikatakan orang-orang tentang Gilang. Gilang memang seorang komika yang pintar. Premis-premisnya beda dan banyak banget lubang yang bisa dihajar dengan punchline. Topik yang diangkatnya ga umum tapi tetap dekat dengan keseharian kita.

Namun sayang, dengan set up yang sekaya itu, kadang delivery-nya nanggung dan kurang ekspresif. Gua yang mau ketawa lepas jadi agak tertahan karena punchline-nya ga semenonjok yang gua harapkan.

Tapi overall, malam itu Gilang udah jadi pembuka yang cukup berhasil. Bit favorit gua adalah ketika Gilang bercerita tentang penerbangan tersingkat di dunia, antara pulau Inggris dengan sebuah pulau yang berada di utaranya. Dari take off sampai landing hanya perlu 2 menit dan lama di udaranya hanya 47 detik!

“Penerbangan kayak gini cuma ada di luar negeri. Kalo di Indonesia, bisa-bisa lamaan delay-nya daripada terbangnya.”

Bayangan akan seberapa cepatnya pramugari menyapa penumpang dan aktivitas buka tutup kabin yang seolah sia-sia, menjadikan bit itu sepertinya favorit semua orang.

Selesai dengan Gilang, dengan dijembatani Pandji Pragiwaksono sebagai MC, masuklah komika kedua: Ernest Prakasa.

Continue reading

Advertisements

Review: Mesakke Bangsaku Jakarta

Malam itu, gua datang ke Mesakke Bangsaku bukan sebagai fans Pandji.

Kebetulan, si pacar adalah penggemar berat Pandji, dan sebagai pacar yang baik gua pun menemaninya untuk nonton stand up special bertajuk Mesakke Bangsaku itu. Gua bukan ga suka sama Pandji, tapi jika ditanya apa gua rela mengeluarkan uang 400 ribu untuk menonton Pandji, dengan cepat gua akan menjawab tidak. Karena dari penampilannya di konser Glenn Fredly, Stand Up Fest, atau Mentertawakan Indonesia, bagi gua, Pandji hanya di tahap menghibur. Belom ada penampilannya yang bisa meyakinkan gua untuk bergadang dan menyisihkan uang ratusan ribu demi tiket show-nya.

Satu-satunya special Pandji yang pernah gua tonton sebelumnya adalah Bhineka Tunggal Tawa lewat DVD. Stand up special show pertama di Indonesia itu gua tonton sekitar satu tahun setengah dari acara sesungguhnya berlangsung. Lagi-lagi pendapat gua sama. Pandji hanya sampai di tahap menghibur. Satu-satunya alasan gua ga menyesal meminjam DVD itu adalah penampilan para opener-nya yang lebih cocok untuk masuk ke dalam kategori lucu.

Singkatnya, Pandji is not my cup of tea.

Jadi, datanglah gua malam itu ke Teater Jakarta, TIM, dengan tanpa ekspektasi dan tiket kelas Silver seharga seratus ribu di tangan. Hadir ke sebuah stand up special show yang menjadi final dari tur dengan nama yang sama. Dan seperti yang Pandji janjikan di postingan H-1 Mesakke Bangsaku Jakarta, acaranya mulai tepat pukul 8 malam.

Mesakke berarti “kasihan” dalam bahasa Jawa. Dan malam itu, Mesakke Bangsaku dibuka oleh komika dengan muka yang paling messake se-Indonesia; Arief Didu. Musik lenong Betawi dan riuh tepuk tangan penonton mengiringi langkah Arief Didu masuk ke panggung Teater Jakarta yang megah. Sumpah, dia kocak banget. Bit-bitnya terdengar tulus dan jujur. Meski intonasinya terdengar seperti orang marah-marah, tapi sebetulnya ia sedang mengundang penonton untuk mentertawakan dirinya. Self depreciation.

Bit Arief Didu favorit gua adalah cerita ketika ia jadi figuran di film Make Money. Betapa sedikit kemunculannya di layar lebar dan tanggapan istrinya tentang proses syuting membuat gua ketawa ngakak. Bener kata Carol Burnett, comedy is tragedy plus time. Dan Arief Didu berhasil menceritakan ulang tragedinya untuk menjadi komedi yang sangat lucu. Sangat-sangat lucu.

Selesai dibuat empuk oleh Arief Didu selama kurang lebih 20 menit, masuklah tuan rumah Mesakke Bangsaku; Pandji Pragiwaksono.
Continue reading

Mentertawakan Indonesia

Tanggal 10 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa sedunia. Tepat malam sebelumnya, gua dan pacar ikut berpartisipasi dalam merayakan hari itu dengan menonton stand up comedy special Mentertawakan Indonesia.

Acara ini diselenggarakan oleh Aethra Learning Center, sebuah biro pembelajaran berbasis psikologi yang berkomitmen untuk menyeimbangkan antara kecerdasan akademik intelektual dengan kecerdasan sosioemosional. Lengkapnya tentang Aethra bisa dibaca di web resminya ini.

Tepat jam tujuh malam gua dan pacar tiba di Taman Ismail Marzuki. Dengan setengah berlari, kami langsung masuk ke dalam Graha Bhakti Budaya, tempat Mentertawakan Indonesia diadakan. Sayangnya, ketergesaan gua berbuah percuma.

Di tiket tertulis gate akan dibuka pukul tujuh. Namun ternyata pukul tujuh lewat lima belas, penonton baru dipersilahkan masuk dan duduk di kursinya masing-masing. Ketika udah duduk pun, acara ga langsung dimulai. Di depan, hanya ada dua layar memutar beberapa iklan yang sama berulang-ulang, seperti ingin mencuci otak penonton. Jika besok ada ujian dengan pertanyaan “bagaimanakah jingle iklan anu?” maka tanpa diragukan lagi, gua bisa menjawab dengan baik. Belum lagi, lampu panggung menyorot ke tempat gua duduk. Ibarat iklan jaman dulu, ini silau, men. Gua seperti sedang berada di ruang interogasi dan mata gua disinari lampu ruangan secara langsung oleh polisi. Entah gua salah apa, padahal tiket yang gua beli berlabel Very Important Person. Ah, mungkin karena itu gua mendapat sorotan lampu semalaman.

Mentertawakan Indonesia dibuka oleh Ryan Adriandhy. Penampilan Ryan malam itu gua simpulkan sebagai penampilan yang “Ryan banget”. Keunggulan Ryan dalam melahirkan bit dari pengamatannya terhadap hal-hal kecil udah pernah gua saksikan di Koper, From Tiny to Funny dan Little Man Big Problem. Dan malam itu, Ryan kembali berhasil men-juggling perut penonton dengan bit-bit seperti itu. Bit-bit yang “Ryan banget”.

Bit Ryan favorit gua adalah tentang situasi saat kita berkunjung di rumah teman atau kerabat. Basa-basi berlebih seperti di bawah ini sangat sering terjadi saat sedang makan di rumah teman tersebut.

“Ayo, nambah, nambah. Ga usah malu-malu.”

“Ga deh, gue udah kenyang. Makasih.”

“Ayo, nambah, nambah. Ga usah malu-malu.”

“Ga deh, gue udah kenyang. Makasih.”

Padahal menurut Ryan, kalo kita ga mau nambah bisa jadi bukan karena malu. Tapi bisa aja karena KENYANG. Saat kata kenyang ditekankan ditambah ekspresi wajah yang kocak, Graha Bhakti Budaya pun digoyang tawa. Ga selesai sampai di situ. Ryan melanjutkan.

“Ayo, nambah, nambah. Ga usah malu-malu. Ga usah sopan-sopan amat lah.”

“Ga deh, gue udah kenyang, Anjing.”

As requested. Ga sopan.

Bit signifikansi peran alat musik kastanyet dalam sebuah orkestra, alasan di balik Ariel mengganti nama band-nya, serta bagaimana kita bisa mempercayakan korek api pada seseorang yang belum kita kenal di smoking room, menjadikan Ryan sebagai pembuka acara yang sangat sukses. Oh sebentar, biar gua ralat pernyataan tadi. Semua bit yang “Ryan banget” tadi menjadikannya sebagai pembuka acara yang sangat-sangat-sangat sukses.

Selesai dibuat cape tertawa oleh Ryan, lampu panggung kembali padam. Lalu muncullah performer kedua malam itu: Ernest Prakasa.

Continue reading