Tag Archives: pelancong kere

Mendaki Gunung, Lewati Lembah

DISCLAIMER: Catatan perjalanan ini adalah kisah nyata yang terpetik dari #JalanJalanKemiskinan edisi Singapura tahun 2009. Cerita lengkapnya bisa kalian baca di sebuah buku yang sepertinya sih akan terbit ga lama lagi. Enjoy.

“Gunung?”

Gue mengernyitkan dahi ga lama setelah seorang teman menyebutkan tujuan traveling kami di hari Minggu itu.

“Beneran?” tanya gue sekali lagi, sekadar ingin memastikan bahwa telinga gue ga salah dengar. Awalnya gue pengen bilang ‘Ciyus? Miapa?’ tapi tahun kelahiran yang tertera pada KTP melarang gue untuk melakukan itu.

Naya, nama teman tadi, mengangguk dan mengonfirmasi sekali lagi bahwa kami memang akan jalan santai naik gunung. Mungkin ini akan jadi dialog yang biasa saja andai kami sedang berada di Bogor atau kota-kota dengan dataran tinggi sebagai tujuan utama wisatanya. Namun sekarang kami sedang di Singapura! Sebuah negara –yang juga sebuah kota– dengan tujuan utamanya berupa wisata belanja, pantai, theme park, atau apapun. Apapun selain gunung.

“Emang di Singapura ada gunung?”

Mount Faber, begitu jawab Naya. Gunung, well, sebenarnya bukit, setinggi 105 meter ini terletak di bagian selatan Singapura, tepatnya di daerah Bukit Merah. Yang patut dicatat, ketika bertanya arah Bukit Merah kepada penduduk lokal, pastikan menyebutkannya dalam bahasa Melayu. Meski bahasa utama di Singapura itu bahasa Inggris, jangan sekali-sekali menerjemahkan Bukit Merah menjadi Redhill, karena ada daerah lain yang bernama Redhill yang berbeda dari Bukit Merah.

Anyhoo,

Gue traveling ke Singapura bareng 3 teman semasa kuliah: Naya, Yosua, dan Audi. Perjalanan dengan mereka selalu dalam a very tight budget, atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: jalan-jalan kemiskinan. Ketika kami sedang merencanakan akan tinggal di mana selama di Singapura, pilihannya adalah numpang di tempat teman, telentang di mesjid, atau gelar tiker di bandara.

Kebetulan, ada 1 teman yang sedang S2 di Singapura, jadi pilihan menginap pun jatuh ke ‘numpang di tempat teman’. Teman yang S2 itu bernama Tuanku, yang setiap gue memanggil namanya, gue berasa kayak babu. Ia menyewa apartemen di daerah Sengkang yang selama 2 malam akan kami inapi dan gerayangi.

Tujuan jalan-jalan ke Mount Faber juga dalam rangka mengirit budget. Jalan santai naik gunung pasti gratis. Kemungkinan pengeluaran yang terjadi hanyalah ongkos transportasi ke sana, minuman ketika haus, dan biaya rumah sakit jika menggelepar kelelahan.

Tanpa banyak basa-basi lagi, perjalanan menuju gunung di Singapura pun dimulai. Continue reading

Advertisements

Ke Hong Kong Gratis?

“Gue ganteng banget kan?”

“Ganteng? Ganteng dari Hong Kong!”

Berawal dari becandaan kayak di atas, gua menjadikan Hong Kong sebagai salah satu destinasi yang wajib gua kunjungin. Penasaran aja gitu, kenapa semua-semua dari Hong Kong? Ganteng lah dari Hong Kong, cantik lah dari Hong Kong, baik lah dari Hong Kong. Sebenernya di Hong Kong ada apa sih?

Ditambah lagi, sejak gua kecil, film-film Hong Kong membanjiri televisi Indonesia. Aktor dan aktris film-film itu seperti menghipnotis gua untuk menggeser Hong Kong jadi salah satu negara prioritas traveling gua. Siapa coba yang ga pengen ketemu Andy Lau atau Aaron Kwok? Dua dari sekian banyak aktor Hong Kong yang masih tetep ganteng meski rambutnya belah tengah.

Sejak saat itu lah gua jadi penasaran dan mulai cari tau lagi tentang Hong Kong.

Setelah gua cari info sana-sini, ternyata Hong Kong emang gua banget. Gua tuh bukan pecinta alam. Apalagi Vety Vera. Setiap kali traveling, gua lebih menikmati sosial budaya suatu negara. Bagaimana mereka menggerakkan ekonomi di kala siang dan seperti apa geliat kotanya ketika malam. Daripada ngeliat gunung dan laut, gua lebih suka naik sistem transportasi yang menjadi tulang punggung sebuah kota, nyobain makanan yang menjadi keseharian penduduk lokal, atau menawar barang dari sebuah toko yang mejajakan barang-barang yang ga ada di Indonesia.

Dan Hong Kong menawarkan semua itu.

HK!

Tadinya Hong Kong adalah koloni Britania Raya (United Kingdom). Lalu pada 1 Juli 1997, Britania Raya secara resmi menyerahkan Hong Kong kepada Republik Rakyat Cina (RRC) dan menjadikannya Daerah Administratif Khusus RRC setelah Makau.

Uniknya, meski merupakan bagian dari negara RRC, Hong Kong ga 100% sama dengan RRC. Karena menganut sistem “Satu Negara Dua Sistem” ciptaan Deng Xiaoping, Hong Kong menikmati otonomi seperti pada sistem hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi, dan peraturan jalan yang tetap berjalan di jalur kiri. Hal yang ditangani oleh pemerintah pusat (RRC) hanyalah pertahanan nasional dan hubungan diplomatik.

Penduduk Hong Kong mayoritas beretnis Cina Han. Tapi bukan berarti kalian akan menemukan Handoko ataupun Hanifa. Bukan, ini bukan Han yang itu. Selain itu, mayoritas penduduk Hong Kong beragama Budha dan menggunakan bahasa Kanton. Kanton Bagaskara.

Semua informasi tadi hanya bikin gua lebih pengen lagi untuk traveling ke Hong Kong. Gua pengen ngerasain berdesakan naik Mass Transit Railway (MTR) bersama ratusan penduduk lokal. Gua pengen nyobain naik satu-satunya layanan tram di dunia yang menggunakan kereta tram dua tingkat. Gua pengen nyoba nawar barang di sebuah negara yang diklaim sebagai salah satu surga dunia untuk belanja. Gua pengen jalan-jalan ke All Star Avenue Park, ngeliat memorabilia para artis Hong Kong, mampir ke museum Madame Tussauds, dan berakhir dengan nonton A Symphony of Lights.

Gua pengen banget ke Hong Kong.

hongkong

Ngomong-ngomong soal Hong Kong, belum lama ini gua nemuin informasi menarik. Gua, lu, encang-encing, enyak-babe, semua-semua, bisa mendapatkan kesempatan liburan ke Hong Kong secara cuma-cuma!

Caranya?
Continue reading

Wawancaur: Full Time Travel Junkie

Begitu pulang dari sebuah destinasi traveling yang menyenangkan, biasanya kita langsung ga sabar buat nyusun itinerary jalan-jalan berikutnya. Nyari-nyari tiket promo entah ke mana, atau nge-google destinasi keren yang kita tau dari orang asing yang kita ajak ngobrol di destinasi sebelumnya. Intinya, traveling itu nyandu banget.

Ga percaya? Coba tanya full time travel junkie yang satu ini: DebbZie Leksono.

Kecanduan DebbZie akan traveling terbukti dari keberhasilannya menginjakkan kaki di hampir 40 negara yang tersebar di 5 benua. Terbukti juga dari kenekadannya menepikan kemungkinan bekerja penuh waktu demi bisa traveling tanpa batasan. Dan semakin terbukti ketika gua tau bahwa proses “pembuatan” DebbZie pun terjadi saat kedua orang tuanya sedang traveling. Traveling is in her blood euy!

Mau tau lebih banyak lagi tentang keseharian DebbZie? Tinggal follow akun Twitternya: @twitdebbzie. Ingin melongok dunia melalui cerita dan gambar yang super-ciamik? Mampir aja ke time capsule pribadinya: debbzie.com. Mau tau betapa asal jeplaknya seorang DebbZie? Simak aja wawancaur saputraroy.com kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan DebbZie benar-benar dilakukan via Whatsapp dengan signal yang seperti nasib anak kos di tanggal tua. Kembang kempis. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar-gambar dalam postingan ini dipinjam dari travel-blog milik narasumber. Terima kasih.

debbzie

Hai Deb! Udah siap diwawancaur?

Siap, Roy!

Selain traveling, sekarang lagi sibuk apa, Deb?

Sekarang aku kerjanya freelance food photographer. Cuma bisa kerja freelance, soalnya ga ada perusahaan yang mau kasih libur tiap 3 bulan buat traveling.

Selain itu aku tiap hari masak dan feeding the street dogs and cats di sekeliling komplek rumah.

Ngomong-ngomong soal masak, gua pernah baca di travel-blog lu kalo lu itu sempet jadi pastry chef ya?

Iya, waktu kuliah di Swiss ama London, aku kerja jadi pastry chef dan coffee barista. Cari tambahan uang saku buat backpackeran di sana.

Kenapa memutuskan untuk berhenti?

Berhenti pas pulang ke Indonesia.

Sempat ditawarin kerja lagi sih di beberapa hotel di Bali, tapi lagi-lagi kebentur soal cuti. Ga bole sering bolos. Ya udah, milih freelance aja demi traveling

Demi traveling (‘-‘)9

Ho oh (‘-‘)9

Apa sih yang membuat lu jatuh cinta sama traveling, Deb?

Hmm, sejauh yang aku inget, traveling udah jadi bagian hidup. Dari umur 1 tahun, setiap 3 bulan sekali aku udah dibawa Papa Mama pulang pergi Hong Kong – Taiwan.

Syuting F4? :O

Papa ada kerjaan di sana…

Sampe kapan pulang pergi Hong Kong – Taiwan gitu?

Gaya hidup begitu sampe aku lulus SMP. Jadi sekolah udah biasa ngasih ijin sebulan lamanya tiap 3 bulan sekali.

Sekolahnya gimana tuh?

Sekolah jaman dulu kan gampang minta ijin. Jadi sebelum berangkat Mama udah minta bahan pelajaran sampe sebulan ke depan sama wali kelas. Selama aku di luar negeri, Mama yang ajarin aku semua pelajaran itu. Pas pulang ke Indonesia, aku nyusul semua ulangan yang tertinggal.

Untungnya sih ga pernah tinggal kelas lah, masih ranking 15 besar. Hihihi.

Keren!

Heh! Kok keren? Tukang bolos ini!

Hahaha. Bener juga. Adik-adik, jangan ditiru ya ini.

Hihihi.

Apa ketakutan terbesar lu saat traveling?

Terbang. Continue reading

Wawancaur: Solo Backpacker

Salah satu kekhawatiran terbesar gua saat traveling adalah terpaksa harus sendirian saat ada kejadian buruk menimpa. Namun sepertinya itu bukan masalah buat backpacker yang satu ini: Dendi Riandi.

Karyawan bank dan penikmat adrenalin rush ini acap kali melakukan backpacking sendirian, alias solo backpacking. Tercatat udah 6 negara ia jelajahi dengan metode ini, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan tentu aja, Indonesia. Bahkan dari kegemarannya akan solo backpacking ini, dia telah berhasil menelurkan 2 buah buku.

Apakah jalan-jalan versi Dendi itu sedendi namanya? Lalu apa-apa aja yang perlu disiapin kalo mau traveling tanpa teman? Bisakah mendapat jodoh saat pergi sendirian? Nge-wawancaur Dendi dengan pertanyaan-pertanyaan tadi pasti seru karena blog dendiriandi.com dan akun @dendiriandi sering menyuarakan isi kepalanya yang random banget. Caur deh!

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Dendi benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar dipinjam dari blog narasumber. Terima kasih.

dendi riandi

Hai, Den. Langsung kita mulai aja ya wawancaurnya.

Oke!

Menurut seorang Dendi Riandi, traveling itu apa sih?

Bagi gue, traveling itu ya jalan-jalan. Perjalanan sedeket apapun, kalo untuk hiburan ya jadinya traveling.

Biasanya apa sih yang lu cari kalo lagi traveling?

Pemandangan alam, budaya, sama tantangannya. Semakin challenging tempatnya, semakin pengen gue ke sana.

Tapi semakin sering traveling, ternyata gue lebih seneng perjalanannya, bukan destinasinya. Selalu ada cerita seru yang gue dapet di setiap perjalanan.

Contohnya?

Contohnya, gue pernah keliling Malaysia gratis sama TKI. Pernah juga keliling Jawa Timur 3 hari 3 malem, tidur di mobil, dan mandinya numpang di SPBU. Terus pernah juga makan siang sama TKW di Singapura!

Wuih, yang terakhir gimana ceritanya tuh, Den? Continue reading

Review Man of Steel

Gua bukan penggemar Superman.

Namun untuk mengikuti tabiat kaum di mana gua bernaung, yaitu kaum kelas menengah ngehe, maka gua memutuskan untuk nonton Man of Steel sesegera mungkin setelah rilis di Indonesia. Atas nama itu, gua dan pacar memutuskan untuk nonton kemarin malam di Planet Hollywood. Dan postingan hari ini adalah reviewnya.

man of steel

Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

Dibanding Superman, gua lebih suka tokoh Batman. Setidaknya, Batman itu manusia biasa yang punya kelemahan dibanding Superman yang alien super-jago. Kebal peluru, bisa terbang, lari cepet, badan kuat, mata bisa tembus pandang dan keluar sinar laser, serta kupingnya bisa denger omongan orang dari jauh. Jangan-jangan kalo Superman main Twitter, dia bisa tau kalo kita twit nomention soal dia!

Tapi lewat film Man of Steel, penonton diajak untuk mengetahui perjuangan hebat di balik kekuatan super itu.

Film dibuka dengan adegan yang grande. Konflik di planet Krypton yang berawal ketika Jor-El, sang ilmuwan, percaya bahwa planet Krypton sebentar lagi akan hancur dan penduduknya harus segera dievakuasi.

Para pemimpin bangsa Krypton ga sependapat dengan Jor-El dan memilih untuk tinggal diam. Saat lagi asik berdebat, muncullah sang penjahat utama: Jendral Zod. Jendral Zod mendukung Jor-El agar penduduk Krypton harus dievakuasi. Namun bedanya, jika Jor-El ingin penduduk Krypton beradaptasi dengan planet barunya, Jendral Zod ingin mengakuisisi planet baru tersebut.

Cekcok tersebut berujung pada sebuah pertarungan epik antara belasan kapal perang, ratusan tentara, dan seekor naga. Di tengah kemelut itu, Jor-El berhasil meloloskan diri dan pulang ke rumah. Bukan untuk update status Facebook, melainkan untuk menyelamatkan anaknya (Kal-El, tanpa Dul) dengan menerbangkannya ke bumi. Menjadikan Kal-El seorang pelancong di sebuah dunia yang baru. Inilah yang menjadi latar belakang konflik di film Man of Steel.

Sebagai catatan, semua adegan di atas dilakukan dalam bahasa Inggris. Padahal kan mereka alien gitu ya. Gua curiga di planet Krypton ada EF buat kursus bahasa Inggris. Ya minimal LIA lah.

Anywaaay,

Continue reading