Tag Archives: penerbit

Menulis Kembali

Seperti yang pernah gua ceritain di sini, sejak tahun 2014 gua memutuskan untuk berhenti berkarya lewat buku.

Hasil yang ga sepadan dengan usaha jadi alasan utama mengapa waktu itu gua enggan menulis buku kembali. Rasanya segala sumber daya yang gua punya lebih layak untuk difokuskan ke hal-hal lain. Hal-hal selain menulis buku.

Bekerja kantoran, mengurus usaha sampingan, membangun keluarga yang harmonis, serta hal-hal lain dalam hidup yang sepertinya lebih pantas untuk gua prioritaskan. Bagi gua, menulis jadi urutan ke sekian dalam beberapa tahun terakhir.

Buktinya terlihat dari blog yang makin jarang di-update. Dulu, sebulan bisa 10 postingan. Nge-blog udah kayak ngapel pacar, seminggu dua kali. Nulis kayak kesurupan. Apa aja bisa jadi bahan postingan. Ngeliat motor ngepot aja jadi ide cerita. Sekarang, sebulan sekali aja udah puji syukur ke hadirat yang Maha Kuasa.

What happened? Life happened.

Kesibukan, kemalasan, keenakan, begitu tumpang tindih. Entah mana alasan utama yang coba gua sodorkan pada hidup. Hanya tumpukan pembenaran kalo gua udah enggan menulis buku.

But life always surprise you when you least expect it.

Di saat gua sedang menikmati rutinitas, hidup membalas alasan gua dengan satu hal. Yang terus mengganggu sejak tahun lalu. Yang mengusik hati hampir setiap hari. Yang lalu kian matang seiring isu sosial yang terus berkembang.

Sebuah hal bernama keresahan.

Continue reading

Advertisements

Porsi

Salah satu mimpi terbesar gua adalah bisa dikenal lewat karya tulisan. Bermimpi kalo suatu hari gua bisa diwawancara infotainment di televisi dengan pertanyaan, “Memangnya Roy sejak kapan udah suka nulis?”

Jika ditanya demikian, maka jawaban gua adalah, “Sejak SD. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya memang suka mengarang, khususnya saat keadaan tertekan.”

Setiap ada tugas yang mengharuskan gua untuk mengarang cerita, gua bisa minta kertas lebih saat teman yang lain masih berkutat dengan kalimat ‘pada suatu hari’. Bercerita lewat tulisan seperti manifestasi bagi otak bawel gua yang terjebak dalam sikap pemalu.

Iya, gua memang pemalu. Gua lebih banyak terdiam kalo sedang dalam keramaian. Pun jika menjadi pusat perhatian, gua bisa menjadi sangat ga nyaman dengan diri gua sendiri. Menulis jadi seperti terapi buat otak gua yang penuh akan kata-kata yang ga sempat dilontarkan lewat percakapan.

So I thought at that time, writing would fit for me just well. I told to myself that writing was meant for me.

Kegemaran gua akan menulis berlanjut sampai ke jenjang SMA. Gua sempat menulis cerita bersambung tentang Josh, seorang anak band SMA yang ganteng dan istiqomah. Cerita ini digandrungi oleh teman sekelas gua yang selalu menagih seri berikutnya. Dukungan dan dorongan ini yang terus membuat gua melaju di jalan ini.

Begitupun saat kuliah. Gua masih rutin berbagi cerita lewat mailing list teman-teman seangkatan. Cerita keseharian gua yang dibalut komedi jadi santapan renyah yang banyak ditunggu. Dan di saat kuliah ini pula gua berkenalan dengan novel-novel Indonesia yang gua jadikan referensi serta acuan saat menulis.

Mimpi dikenal lewat karya terus gua pupuk. Disuburkan dengan latihan dan referensi yang semakin banyak di pasaran.

Hal ini juga dipicu oleh semakin banyak lahirnya penerbit baru. Gua pun melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang udah lama tertanam. Di tahun 2008, gua nekad mengajukan naskah berjudul “Kancut” ke sebuah penerbit. Long story short, naskah itu rilis dengan judul “The Maling of Kolor” di tahun yang sama.

Waktu buku itu rilis, gua seneng banget. Rasanya pengen gua ngabarin ke seluruh dunia kalo buku gua udah terbit. Gua semangat abis. Karena sepertinya gua berada dalam jalan yang tepat untuk menggapai mimpi gua dulu. Jawaban ‘saya-menulis-sejak-SD’ kini seperti makin dekat untuk diucapkan.

Continue reading