Tag Archives: pernikahan

Selalu Punya Pilihan

Waktu kecil, rasanya pengen cepet gede biar tau apa itu jatuh cinta. Saat mulai ngerasain cinta monyet, penasaran gimana rasanya pacaran yang serius. Waktu udah ketemu pacar yang mau diajak serius, ngebet banget pengen kawin.

Setiap langkah di fase tadi bak kotak misterius buat gua. Kotak yang baru belum tentu lebih baik dari yang lama, meski yang dulu pasti akan lewat masanya dan seperti memaksa kita untuk membuka kotak yang baru. Kotak yang ada di depan mata, yang begitu menggoda untuk dibuka.

Khususnya, kotak menikah.

kotak

Rasa gembira, gelisah, khawatir, semua campur aduk jadi satu saat gua dihadapkan dengan kotak menikah. Gembira karena gua akan membuka lembaran baru dari buku kehidupan ini. Gelisah karena lembaran-lembaran baru yang gua buka tadi belum tentu sebaik lembaran sebelumnya. Dan tentunya, ada rasa khawatir yang datang hanya karena satu kata. Biaya.

Nikah itu ga murah, bro.

Sebagai suami, gua diberikan tanggung jawab untuk menghidupi satu manusia. Menurut gua, itu sebuah tugas mulia dan berat di saat yang bersamaan.

Pendapatan bulanan yang biasanya ada sisa buat beli pulau (cailah, Roy), kini harus dialokasikan untuk kebutuhan bersama. Yang dulu ada jatah untuk makan-makan ganteng di malam minggu, berubah jadi dana untuk beli beras dan minyak. Yang sebelumnya uang untuk beli pengharum badan, jadi budget untuk pengharum ruangan dan kamper kamar mandi.

Bahkan nikah udah bikin pusing sejak kita ingin masuk ke dalam jenjang tersebut. Karena resepsi nikah itu juga ga murah, bro.

Contohnya, resepsi nikah gua kemarin yang menguras tabungan gua dan Sarah. Ibaratnya, kalo kami ga menerima angpao yang cukup, bisa dipastikan besoknya kami makan nasi aking dan anak kami nantinya jadi pelacur.

Continue reading

Advertisements

Desember 2015!

This is the last month of 2015!

Gimana tahun 2015 buat kalian? Apa resolusi udah kecoret semua? Target kilogram di timbangan udah kecapai? Destinasi impian udah kecoret belum?

Buat gua pribadi, tahun ini jadi tahun milestone. Banyak banget kejadian yang bikin emosi naik turun, otot tegang lemes, dan kepala cenat cenut. Salah satu kejadian yang bikin semua itu akan gua bahas di bulan Desember ini. Yakni tentang pernikahan gua dan si istri.

Gua dan si istri udah nyiapin nikahan dari pertengahan 2014. Booking gedung dan milih vendor catering adalah 2 hal pertama yang kami lakukan waktu awal nyiapin sekitar Juni tahun lalu. Takut ga kebagian gedung jadi alasan utama kenapa kami berdua nyiapin jauh-jauh hari. Udah nyiapin satu setengah tahun pun, sempet ketar-ketir karena tanggal yang awalnya kita mau, udah di-booking orang lain. Gile.

Namun akhirnya kebagian juga tanggal di rentang bulan yang kami mau. Tanggal cantik pula ternyata. Mulai dari Juni sampai H-1 semua organ tubuh bekerja lebih ekstra. Otak mikir lebih kenceng, kaki berjalan lebih jauh, ginjal bekerja lebih giat. Semua demi kelancaran di hari H pernikahan.

Hasilnya ternyata sangat memuaskan. Ada selap-selip sedikit yang bikin panik dan bete, tapi secara keseluruhan, acara pernikahan gua dan si istri bisa dibilang sukses.

Puji Tuhan, tamu yang dateng rame banget. Ruangan berkapasitas 1,000 orang penuh sesak, bahkan ada beberapa tamu yang sampe melipir ke dekat panggung. Waktu gua dan si istri mau potong kue pengantin, tukang fotonya sampe susah untuk mengambil jarak karena di belakangnya ada orang yang berdesakan. Pas mau lempar bunga, tanpa diminta berlama-lama, orang udah berjubel di tengah. Gua berasa kayak Raffi Ahmad lagi kunjungan ke Bekasi. Continue reading

Perkara Resepsi yang Niatnya Ga Gitu-Gitu Aja

Dari dulu, gua selalu beranggapan resepsi nikahan ya gitu-gitu aja. Undangan bunga-bunga, dekor warna-warni, antrian siomay yang menggila, dan pakaian keluarga yang senada. Datang ke puluhan bahkan ratusan nikahan dengan penampakan yang serupa membentuk persepsi gua. Bahwa resepsi yang baik, ya yang seperti itu.

Yang gitu-gitu aja.

Namun untungnya, gua ketemu dengan pasangan yang mampu menggelitik kotak imajinasi dalam otak gua. Semua ide nakal nan binal melompat-lompat kegirangan saat tau bahwa si pacar sangat terbuka untuk segala jenis kemungkinan dalam menyiapkan sebuah resepsi pernikahan.

Setelah melakukan photo prewedding dengan tidak menunjuk langit, gua dan si pacar nekad untuk menggunakan konsep yang berbeda pada resepsi pernikahan kami.

Well, konsepnya ga se-ekstrim nikah sambil jalan di atas bara api atau menyediakan makanan berupa daging babi rusa buruan cromagnon. Tapi kami mencoba sedikit berbeda agar bisa memuaskan hasrat imajinasi kami berdua.

Konsep yang kami pilih sederhana. Sama seperti konsep prewedding photoshot, kami memilih film Up. Saking cintanya sama film ini, gua berhasil membujuk si pacar untuk menggunakan film Up sebagai tema besar resepsi kami nanti.

Sampai sini, mungkin banyak yang bertanya-tanya, “orang tua marah ga tuh?”, atau “mahal ga sih?”. Jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah “ga kok”. Itu karena ornamen resepsi yang disesuaikan ga macem-macem banget. Sepertinya masih dalam koridor pemakluman orang tua, dan masih dalam budget yang telah gua tetapkan. Yang gua dan si pacar sesuaikan hanya aspek-aspek kecil. Aspek-aspek yang mungkin aja ga disadari oleh orang-orang yang bukan penikmat film atau pecinta Disney.

Nah, di postingan kali ini gua mau cerita beberapa ornamen resepsi yang sedikit kami bedakan dari resepsi kebanyakan agar bisa sesuai dengan konsep film Up. Semoga postingan ini bisa mengasah ide binal kalian. Selain itu, lewat postingan ini gua juga ingin berbagi semangat bahwa kita bisa kok bikin resepsi yang sesuai dengan imajinasi kita.

So, here we go.

1. Undangan

Let’s start with the invitation. Undangan jadi salah satu ornamen resepsi yang paling gampang untuk disesuaikan dengan konsep gua dan si pacar. Dari awal, kami memang ga mau design undangan dengan bunga-bunga atau ukiran-ukiran yang banyak ditemukan di resepsi orang lain.

Kami mau beda.

Maka, kami men-design undangan berbentuk tiket nonton pertunjukan teater. Iya, kayak tiket nonton bioskop. Lengkap dengan waktu, lokasi (teater), dan judul acara (film). Lalu di mana unsur film Up-nya?

Di bagian paling atas tiket, ada tulisan “adventure is out there”, sebuah jargon yang menjadi pembuka dari film Up. Seperti halnya pada film, kami ingin jargon itu menjadi pembuka atau sambutan bagi mereka yang menerima undangan kami. Selain itu, di bagian kiri bawah, ada icon film Up: dua sofa milik Carl & Ellie.

Undangan ini di-design dengan ciamik oleh temen designer yang memang udah sering men-design undangan nikah. Namanya Jennifer Widjaja. Kalo berminat bikin undangan yang unik, kalian bisa contact dia di jenny.widjaja@yahoo.com.

Continue reading

Tanggal Baik

kata sarah

Lahir dari keluarga Chinese, bikin gue dan Roy nggak bisa tutup mata terhadap rentang umur pasangan. Dalam kepercayaan Cina kuno, perbedaan umur sering jadi pertimbangan dalam menentukan pasangan hidup.

Konon katanya, pasangan dengan jarak umur 4 tahun adalah yang paling ideal. Empat tahun diibaratkan sebagai empat kaki meja yang akan berdiri kuat dan kokoh. Harapannya, pernikahan pasangan dengan jarak umur 4 bisa sekuat dan sekokoh meja.

Sedangkan pasangan yang berbeda umur 3 tahun dan 6 tahun harus dihindari. Karena jarak ini mengundang ketidakcocokan (atau disebut ciong). Tiga tahun artinya ciong kecil, sedangkan 6 tahun artinya ciong besar. Dan selisih umur gua dan Roy… tepat 6 tahun.

Actually, gue dan Roy nggak percaya sih sama takhayul macem itu. Lha wong yang bedanya empat tahun banyak yang cerai juga kan?

Tapi kan, kalo bisa main aman, kenapa enggak? Toh kami nggak nyari tanggal baik. Menurut himbauan orang tua, kami cuma musti menghindari bulan buruk, yang mana udah berakhir beberapa hari sebelum ulang tahun gue di tahun depan. Dengan kata lain, nikahnya mah kapan aja bebas, asal nggak di dalem area bulan buruk itu.

Jadilah gue mengusulkan sebuah tanggal di antara ulang tahun gue dan Roy. Tujuannya tentu saja ngakalin perbedaan umur tadi. Karena kalo gue udah ulang tahun dan Roy belum, otomatis selisih umur kami jadi… LIMA TAHUN!

Pinter kan?

Enggak.

Iiih!

Anyway, palu akhirnya diketuk. Ultah gue 24 Agustus, sedangkan ultah Roy 14 September. Kami berdua dan keluarga udah sepakat resepsi akan digelar di tanggal 5 September. Letaknya bener-bener persis di tengah. Tanpa ragu, kami booking gedung tanggal segitu, lalu bayar DP sebagai tanda jadi.

calendar1

Namun, beberapa hari kemudian, tiba-tiba kami berdua dapet kabar kalo tanggal 5 September 2015 itu masih termasuk bulan Cit Gwee.

Cit Gwee itu apa sih?

Continue reading