Tag Archives: pesawat

49 Hal yang Jangan Dilakukan Ketika Sedang Dalam Pesawat

1. Saat mau masuk pesawat, melepas alas kaki.

2. Merokok. Ingat kata Abang-abang yang ada di setiap iklan dan bungkus rokok: “Merokok membunuhmu.”

3. Berdiri dekat pintu. Lalu saat akan diminta untuk duduk oleh pramugari, malah beralasan, “Saya turunnya deket kok. Bentar lagi juga turun.”

4. Bertanya ke pramugari, “Mbak, gerbong khusus wanitanya sebelah mana ya?”

5. Duduk di bagian atas pesawat.

6. Sambil memukul-mukul galon air dan bernyanyi lagu-lagu tentang Persija.

7. Atau Persib.

8. Atau combo keduanya.

9. Duduk di kursi yang tidak sesuai dengan nomor. Misalkan dapat nomor kursi 16 C, tapi malah duduk di pangkuan pilot yang sedang bekerja mengendali pesawat supaya baik jalannya. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk.

10. Tertawa keras penuh arti saat mendapat kursi dengan nomor 36 B.

11. Duduk di kursi yang salah. Harusnya duduk di 9 A, malah duduk-duduk di rumah. Itu namanya ketinggalan pesawat.

12. Meminta pramugari untuk memijit pundak dan kaki.

13. Atau meminta pramugari untuk menjadi pacar.

14. Atau meminta pramugari untuk menjadi pacar hanya demi bisa dapet pijatan di pundak dan kaki.

15. Menonton televisi. Yang dibawa sendiri. 42 inch. Layar cembung.

16. Bermain games yang memerlukan space besar. Seperti gobak sodor, lompat karet, atau wak wak gung.

17. Berkampanye. Apalagi sampai debat dengan penumpang sebelah.

18. Melarang seseorang bertepuk tangan sebelum dipersilahkan.

debat capres

19. Melakukan sikap lilin di tempat duduk.

20. Membawa handuk. Gayung. Odol. Lalu mandi di kamar mandi pesawat.
Continue reading

Advertisements

#JalanJapan: Pengalaman Pertama

Selalu ada cerita dari sebuah pengalaman pertama. Begitu pun dengan pengalaman pertama gua menginjakkan kaki di Tokyo, Jepang.

Bulan lalu, kebetulan gua ada rejeki lebih untuk bisa jalan-jalan ke Jepang. Traveling kali ini masih bareng Tirta yang pernah berkelana bareng gua juga ke Filipina akhir tahun lalu. Rencananya kami akan berkunjung ke 5 kota selama 7 hari. Ekspres banget.

Bicara tentang pengalaman pertama, di postingan kali ini gua akan berbagi salah satu pengalaman pertama paling berkesan selama gua traveling ke Tokyo. Yaitu, pengalaman pertama boker di Jepang.

Iya, iya. Ini cerita tentang gua buang hajat di negara orang.

Awalnya gua sempet parno dengan toilet-toilet Jepang. Gua curiga toilet di Jepang ini berjenis toilet kering, toilet yang ketika mau cebok cuma dikasih tisu. Toilet jenis ini selalu membuat gua berpikir, “Kok cuma dikasi tisu? Ini mau cebok apa mau nangis?”

Sebagai orang Indonesia, gua paling ga bisa berhadapan dengan toilet model begini. Gua lebih suka toilet basah yang menyediakan air untuk membasuh bokong yang telah selesai menunaikan tugas. Toilet basah membuat gua lebih leluasa dan jauh dari rasa khawatir. Memang, kadang toilet basah mirip-mirip sama cicilan bunga 0%.

Untungnya, kecurigaan gua salah. Toilet Jepang ga berjenis toilet kering. Itu terbukti saat gua boker di bandara internasional Haneda.

Penerbangan yang memakan waktu 7 jam sukses bikin perut gua mules ga karuan. Menahan hasrat untuk buang hajat selama beberapa jam membuat pramugari yang bohai jadi terlihat seperti demit. Boker di pesawat jelas ga gua lakukan karena ga pewe. Dengan tubuh yang besar dan ukuran toilet yang minimalis, mobilisasi gua saat ngeden bisa terganggu. Meski gua naik Air Asia X yang memiliki badan ekstra panjang, tapi toilet di pesawat ini berjenis Y. Y U NO GEDEIN TOILETNYA?

Makanya, begitu turun dari pesawat, gua langsung ngibrit. Ngebut nyari toilet terdekat. Sepuluh menit setelah kaki menginjak tanah Jepang, pantat gua udah ga sabar mau ikutan eksis. Dia mau boker di Tokyo.

Begitu sampai di area terminal, jauh sebelum masuk imigrasi, gua berhasil menemukan toilet. Perasaan gua bahagia banget, mungkin sebahagia Alexander Graham Bell waktu menemukan telepon. Buru-buru gua melangkah masuk ke dalam ruang yang berlogo manusia biru tanpa rok yang sedang berdiri.

Kesan pertama gua terhadap toilet Haneda: bersih banget! Continue reading