Tag Archives: pilpres

Kaleidoskop 2014

Januari

Tahun 2014 diawali dengan berita baik untuk kita semua, yakni sadarnya Nia Daniati!

Bukan, bukan sadar dari pingsan atau karena diguna-guna. Nia (cailah, akrab bener manggilnya) akhirnya menggugat cerai suaminya sang pengacara kontroversial, Farhat Abbas, setelah menjalani 12 tahun bahtera rumah tangga.

Diberitakan, Nia menggugat cerai Farhat karena kelakuan Farhat yang suka nikah siri. Setelah berkali-kali nyaris memutuskan pisah, akhirnya Nia melayangkan gugatan cerai juga di awal tahun 2014. Alhamdulilah.

Februari

Seorang game developer asal Vietnam, Dong Nguyen, menggebrak dunia maya dengan game paling fenomenal sepanjang tahun 2014: Flappy Bird!

Game Flappy Bird bisa membuat orang begitu ketagihan dan emosional pada saat yang bersamaan. Padahal game-nya sederhana. Hanya meminta pemainnya untuk mengantarkan si burung berbibir tebal untuk melewati pipa-pipa hijau. Udah, cuma gitu doang. Ga ada kenaikan tingkat kesulitan atau karakter baru di tiap level-nya. Tapi entah kenapa, Flappy Bird bener-bener bikin nagih. Mungkin ada MSG-nya.

Maret

Kabar duka di akhir kuartal pertama 2014. Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 diberitakan hilang. Sampai hari ini, bangkai pesawatnya pun belum ketemu. Ada banyak teori-teori yang bersliweran, mulai dari terorisme, alien, sampai perbuatan intelijen, yang sempat membuat waswas para pelancong dalam menggunakan maskapai penerbangan.

Terlepas dari semua teori, harapannya sih semoga segera ditemukan kejelasan agar keluarga yang ditinggalkan bisa mendapat kepastian. Amin.

April

Tahun demokrasi Indonesia dimulai di bulan ini. Pemilihan umum legislatif dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014. Hasilnya, seperti dugaan para pengamat politik, PDI Perjuangan memenangkan pemilu legislatif meski ga semutlak prediksi.

Yang menjadi catatan gua, dibanding pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu kali ini minim spanduk-spanduk lucu dari para caleg. Mungkin yang ikutan kali ini udah banyak yang berulang sehingga udah ga melakukan kesalahan yang sama. Atau mungkin ada yang udah baca postingan ini dan ini, jadi mereka pada kapok.

Tapi yang jelas, gara-gara sedikitnya spanduk lucu, gua jadi kekurangan bahan ngeblog pas pemilu legislatif kemarin. Huff.

Mei

Tiada tahun tanpa kemunculan lagu dangdut yang fenomenal. Setelah Bang Toyib, SMS, Kucing Garong dan Alamat Palsu, tahun 2014 giliran “Sakitnya Tuh Di Sini” yang menggebrak industri musik Indonesia.

Lagu one hit wonder ini mengantar sang pendendang, Cita Citata ke puncak popularitas… sedaaap, kalimat barusan udah mirip narasi Silet belom tuh?

Cita Citata jadi naik pamor dan kebanjiran job. Tiap job-nya ngapain? Ya nyanyi sakitnya-tuh-di-sini-di-dalam-hatiku lah. Mau ngapain lagi coba? Debus makan gerobak? Lah wong ngetopnya karena itu.

Juni

Panasnya musim politik Indonesia dimulai di bulan Juni ketika dua pasangan calon presiden mengambil nomor urut di kantor KPU. Pasangan Prabowo – Hatta Rajasa mendapat nomor urut 1, sementara pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla memperoleh nomor urut 2. Continue reading

Advertisements

Perihal Pilpres

kata sarah

Akhir-akhir ini, timeline twitter gue didominasi oleh dua hal. Yang pertama, ekstrak kulit manggis, dan yang kedua, pilpres dan quick / real count. Untuk yang kedua, ada tiga jenis manusia, yaitu, yang peduli, yang apatis, dan yang nyinyir.

Yang peduli, biasanya paling getol nge-tweet dengan hashtag #KawalKPU, nyebarin berita seputar penghitungan surat suara, sampe informasi mengenai aplikasi atau website yang memungkinkan untuk berpartisipasi dan ambil bagian. Yang apatis, sibuk nge-tweet quotes, humble brag, atau memberitakan kabar gembira tentang ekstrak kulit manggis. Yang nyinyir… tentu aja nyinyirin yang peduli, yang apatis, bahkan yang bahas esktrak kulit manggis. Orang lain berpartisipasi dalam demokrasi salah, cuek bebek juga salah. Udah gitu, bikin pusing, mau di-block nanti drama, nggak di-block juga ganggu. Serba salah.

Anyway, kembali lagi ke Pilpres.

Gue sendiri ikut menghitung hari menuju turunnya THR pengumuman resmi dari KPU. Karena sejumlah lembaga yang mengadakan quick count nggak berakhir dengan satu kesimpulan, lepas dari kredibilitas dan keberpihakannya. Yang biasanya percaya kalo quick count udah pasti bener, akhirnya terpaksa menunda kesimpulan karena kedua calon presiden kita sama-sama mendeklarasikan kemenangan. Pusing.

Tadinya gue pikir, keriaan pilpres di Twitter akan berakhir di tanggal 9 Juli 2014. Tapi sepertinya gue salah. It wasn’t over yet.

Tapi yang bikin gue seneng adalah, gue menyaksikan banyaknya masyarakat yang bersemangat untuk ikut ambil bagian dalam pemilihan umum ini. Lintas lapisan, suku, bahkan agama.

Partisipasi itu udah sangat nampak dari saat kampanye, hari H nyoblos, sampe inisiatif melakukan pengawalan terhadap surat suara untuk mendeteksi kecurangan yang mungkin timbul. Nggak sekedar cuap-cuap, they also give what they can give. Entah itu berupa uang, tenaga, edukasi, waktu, ide, dan sebagainya, lepas dari siapa capres pilihan mereka.

Antusiasme ini, tentu saja membuat sebuncah rasa bangga terbersit. Siapa bilang anak muda Indonesia nggak peduli nasib negri? Siapa bilang anak muda Indonesia nggak berpartisipasi dalam demokrasi? Di pilpres ini, banyak yang telah membuktikan kalo tuduhan tersebut nggak bener. Kami peduli, dan hal itu diwujudkan dalam banyak tindakan nyata dan konkrit. Gimana nggak bangga, coba?

Tapi sepertinya sisi mata uang, begitu pula dengan pemilu. Di tengah hingar binger pilpres tahun ini, banyak juga hal-hal yang bikin gue sedih. Continue reading

Setuju dengan Prabowo

Setelah membaca sekilas visi misi kedua pasangan capres, menyimak kegiatan kampanye keduanya, dan menonton debat capres beberapa kali, akhirnya gua menetapkan pilihan, siapa yang akan gua coblos pada pemilihan presiden tahun ini.

Dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan dari pihak manapun, gua memutuskan untuk setuju dengan Prabowo. Setuju dengan apa yang beliau lakukan pada foto di bawah ini.

prabowo salam dua jari

Gua sepakat dengan beliau untuk mengangkat tangan dan melakukan salam dua jari. Karena pada pemilihan presiden tanggal 9 Juli besok, gua akan memilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi – JK) sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2014 – 2019.

Alasan gua hanya satu. Bukan, bukan karena soal kasus HAM yang masih mengganjal kubu nomor satu. Atau karena anak sang calon wakil presiden yang masih bisa kuliah di London setelah menabrak anak orang sampai tewas. Tapi lebih karena banyak orang-orang baik dan kompeten yang siap membantu pasangan Jokowi – JK jika mereka dipercaya untuk jadi pemimpin negeri ini.

Siapa pun presidennya, dia pasti membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah yang kompleks di Indonesia. Ga mungkin satu orang bisa memperbaiki semuanya sendirian. Ga mungkin daya segelintir orang bisa mendobrak masalah-masalah dalam sekejap saja. Semua perlu sumber daya yang besar dan kompeten.

Karena itu lah gua mendukung Jokowi – JK. Karena ada orang-orang baik dan kompeten di belakang pasangan nomor 2 tersebut.

Gua ingin Menteri Pendidikan diisi oleh Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina, orang yang telah membuktikan kompetensi dirinya di bidang pendidikan melalui program Indonesia Mengajar. Bukan oleh orang partai yang di beberapa kesempatan terlihat ga santun dalam berkampanye.

Gua ingin kursi Menteri Komunikasi dan Informasi diduduki oleh Surya Paloh, orang yang telah lama bergelut di industri media massa. Bukan oleh orang yang malah nanya, “kalo internet cepat memangnya buat apa, tuips yang budiman?”

Gua ingin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dijabat oleh Kurtubi, seorang akademisi dan pengamat dunia minyak dan gas yang selama ini kritis terhadap kebijakan migas pemerintah. Bukan oleh orang yang mendapat jatah pos menteri hanya karena koalisi, tanpa mengerti betul tentang sumber daya alam dan energi.

Gua ingin jabatan Menteri Pekerjaan Umum diberikan ke Tri Rismaharini, orang yang luar biasa membangun kota Surabaya dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup. Bukan oleh orang yang nerima kerjaan apa aja, asal ada untungnya buat mereka.

Gua ingin posisi Menteri Koordinator Perekonomian dipegang oleh Faisal Basri, seorang ekonom berpengalaman yang memiliki integritas. Bukan oleh orang yang pernah atau sedang terlibat kasus pengemplangan pajak.

Tapi yang terutama,
Continue reading

Memilih Sendiri

Tahun 2014 adalah tahunnya pesta demokrasi Indonesia. Pada tanggal 9 April nanti, warga negara yang udah berumur di atas 17 tahun boleh melakukan hal yang sangat penting: nonton film dengan rating dewasa secara legal. Selain itu, mereka bisa ikut Pemilu.

pemilu 2014

Total ada 12 partai politik macam warna dengan ideologi serupa tapi tak sama, bertarung demi titel mayoritas di gedung MPR DPR. Dari 12 partai, hanya ada 1 partai baru milik Pak Brewok, salah satu bos media di Indonesia. Sisanya adalah petarung-petarung lama yang udah menjabat di DPR atau pernah bersaing di pemilu periode sebelumnya.

Setelah beres memilih anggota DPR, sekitar bulan Juli 2014, kita akan dapat libur satu hari lagi untuk ikut berpatisipasi memilih orang yang duduk di kursi nomor satu negeri ini. Iya, kita akan memilih idola Indonesia. Toneng, toneng, toneng, toneng.

Ga deng. Yang bener, di bulan Juli 2014, kita akan memilih Presiden Republik Indonesia.

Pemilihan Presiden 2014 ini akan menarik karena Presiden yang sekarang udah ga boleh mengajukan diri lagi karena udah 2 kali menjabat. Itu artinya di tahun ini kita pasti akan punya pemimpin baru.

Sebagian partai besar udah mengumumkan siapa bakal calon Presiden-nya jauh-jauh hari. Sementara ada juga beberapa orang yang mendeklarasikan diri meski belum tau apa partainya. Mulai dari menteri, akademisi, mantan jendral, bos televisi, raja dangdut, sampai pengacara ngawur yang sepertinya kurang asupan ASI semasa kecil.

Pemilu tahun 2014 menjadi semakin menarik karena akan berlangsung di era digital yang lagi happening. Kampanye di ranah digital pun ga terelakkan. Mulai dari yang puja puji buta demi rupiah, sampai yang mendukung sepenuh hati. Twitter, blog, atau Youtube yang ga dieksploitasi di periode pemilu sebelumnya, jadi primadona baru bagi para bakal calon Presiden serta tim suksesnya untuk mengencangkan promosi diri.

Di era digital yang sedang berkembang ini, alur informasi juga sangat deras dan mudah untuk diakses. Kita bisa dengan mudah mencari informasi tentang seorang calon anggota DPR atau Presiden di dunia maya. Saking terbukanya, lewat social media kita bisa tau Ibu Ani abis foto apa hari ini. Bahkan kita bisa tau di mana Bu Jokowi dan Bu Ahok berada.

Untuk tau rekam jejak seorang calon anggota DPR atau bakal calon Presiden, buka aja Google, terus ketik namanya. Kalo dia emang banyak karyanya, pasti namanya ada di sana sini. Kalo emang karyanya punya imbas baik, pasti berita positif yang mencantumkan namanya bakal mudah ditemukan. Sesial-sialnya, kita bisa nemuin namanya di Facebook, di antara 24 juta pengguna lainnya di Indonesia. Kalo di Facebook ga ketemu juga, mungkin dia pake username “BaMbaN6 yNg xL4Lu tErS4cKiiity…”

Semua begitu dimudahkan. Karena jarak antara tau dan tidak tau tentang seorang calon, kini hanya sejauh mesin pencari di internet.

Tapi sayangnya, Continue reading

My Political View

Postingan kali ini merupakan pandangan politik gua secara pribadi. Boleh didebat, boleh didukung, boleh dikitik-kitik. Ditoel-toel juga boleh.

Rabu besok, bangsa Indonesia akan mengadakan Pemilihan Presiden (Pilpres).

Awalnya gua (dan gua yakin banyak orang juga sama) akan sangat mendukung jika SBY dan JK kembali jalan bareng. Mereka saling melengkapi satu sama lain. SBY yang hati-hati diimbangi dengan JK yang berani mengambil resiko.

Tapi mereka sekarang udah pecah kongsi. SBY duet dengan Boediono, sementara JK dengan Wiranto.

Jadi gua bingung akan memilih siapa. Mega – Prabowo? Dengan segala hormat, gua ga masukkan mereka sebagai calon yang kuat. Kasian Prabowo, sebenernya visi dia jelas tapi posisinya hanya sebagai cawapres yang mana orang Indonesia masih melihat figur capresnya ketimbang cawapresnya (menurut gua, ini yang membuat SBY menang pada pilpres 2004). Idenya konkrit dan visioner meski di beberapa bagian agak ekstrim. Seperti menutup semua pintu impor hasil pertanian dan perkebunan. Bisa-bisa negara kita kena embargo juga nantinya.

Dan tibalah kita pada pertanyaan maut kebanyakan orang saat ini: SBY atau JK?

Setelah melihat debat capres kemarin, gua melihat JK sangat memahami masalah dan selalu coba mengelaborasinya dari pendekatan ekonomi. Buruk? Sama sekali tidak, karena jika dipikir-pikir memang semua masalah di Indonesia itu bermula dari kesenjangan ekonomi dan keterbatasan APBN.

Dari debat itu pula, keliatan kalo JK punya peran yang ga sedikit di pemerintahan sekarang. Beda dengan pemerintahan-pemerintahan lalu ketika wapres hanya sebagai ban serep, JK adalah the working vice president.

Yang paling gua kagumi adalah penjelasan dia tentang mengurangi objek subsidi (konversi minyak tanah ke gas), konsep BLT, dan apa-apa yang perlu dibenahi untuk menarik para investor asing masuk ke Indonesia (infrastruktur, listrik, dll). Ide-idenya sangat konkrit dan logis.

Sangat disayangkan kalau orang secerdas dan sevisioner ini tidak dipercayakan untuk memegang peranan di negara ini.

Di beberapa bagian debat, beliau memang mengakui bahwa ada beberapa ide dia yang tak didengarkan oleh SBY, ya i think it’s just part of his campaign strategies.

Ditambah lagi, beliau begitu dinamis, tidak kaku, dan mampu menghidupkan suasana.

Elektabilitas JK juga terus meningkat. Selain karena iklan kampanyenya yang tepat, itu juga disebabkan blundernya tim sukses SBY. Mulai dari kasus-kasus yang nyerempet SARA, atau soal satu putaran yang menurut gua sangat tidak penting itu.

Jadi, sebagai kesimpulannya, gua akan memilih JK pada Rabu besok. Bukan berarti SBY itu buruk. Tidak sama sekali. Tapi karena gua pikir Indonesia dengan segala permasalahannya saat ini, perlu seorang pemimpin yang visioner, cerdas, dan lebih berani.

Karena saat ini Indonesia butuh yang… lebih cepat, lebih baik.

lebih cepat lebih baik

Semoga Indonesia memilih dengan tepat.

Kalau kamu, pilih siapa?