Tag Archives: pocong

46 Hal yang Jangan Dilakukan Ketika Ketemu Pocong di Tengah Jalan

1. Mengajaknya berjabat tangan. Kan tangannya kebungkus, cuy.

2. Menyapanya, lalu bertanya, “Anak sevel mana lo?”

3. Menawarinya MLM. Karena percayalah, meski diiming-imingi bisa dapet kapal pesiar, si Pocong ga bakal bisa nyetirnya. Lihat poin 1.

4. Mencegatnya di tengah jalan lalu bilang, “Sore, Kakak. Bisa bicara sebentar? Dua menit aja kok. Kita ga jualan kok, Kak.”

5. Curhat.

6. Membaca ayat kursi. Lalu sesaat sebelum amin, mengarahkan mic ke arah Pocong sambil berkata, “Mana suaranyaaa?”

7. Melambai-lambaikan tangan ke kamera. Hanya lakukan ini jika sebelumnya udah bertemu Harry Panca, Toro Margens, atau tim Pemburu Hantu. Jika belum, lupakan.

8. Menatapnya dari atas ke bawah lalu berkata, “Kamu tuh ga cocok kerja di air.”

9. Mengendus-ngendus lalu bilang, “Bro, tau teknologi terkini yang bernama deodorant?”

10. Membaca doa yang salah. Misalkan abis doa kok tiba-tiba terasa laper, itu artinya salah doa. Itu doa buka puasa.

11. Atau abis doa kok tiba-tiba konak. Itu doa sebelum senggama.

12. Berteriak, “Ada kuntilanaaak!” Kasian, nanti dia minder berasa kehilangan jati diri.

13. Langsung nelpon mantan dan bilang, “Eh, gue ngeliat cowok baru lu nih.”

14. Minta korek.

15. Atau minta folbek.

16. Atau combo keduanya.

17. Saat si Pocong melompat-lompat mendekat, malah teriak, “Yak, kiri, terus, terus, terus, balas dikit, yak, stop! Pre ya, Bang. Jangan rem tangan.” Continue reading

Advertisements

Curcong Part II

Pernah baca postingan ini? Jika udah pernah, maka anggap aja postingan ini sebagai kelanjutan kisah si Pocong dan Kunti yang mulai kehilangan job di dunia entertainment Indonesia. Jika belum pernah baca postingan yang tadi, baca dulu dong ah.

kuburan

Alkisah, hiduplah sebungkus Pocong. Semasa jayanya, dia adalah seorang pemain film papan atas. Hampir setiap film horor Indonesia pasti menggunakan jasanya sebagai bintang utama. Bermacam rumah produksi dan belasan sutradara berebut untuk kerja sama dengannya. Mereka sampai harus antri jika ingin memasang namanya di credit title film. Aktingnya yang begitu meyakinkan dianggap dapat membius penonton pada masanya.

Tapi, itu dulu.

Kini Pocong udah jarang keliatan di layar lebar. Belakangan dia mengisi hari-harinya hanya dengan nge-gym dan masih berharap suatu hari nanti, tawaran main film akan datang lagi. Rambut ia potong dengan model hipster ala anak Brightspot. Kain kafan pun dia beli yang model slim fit. Biar ngebentuk badan, begitu katanya.

Di masa sulit ini, Pocong berbagi kontrakan dengan Kuntilanak. Dulu, dia dan Kunti –begitu panggilan mesranya– berbagi kamar apartemen. Namun karena ga kunjung dapet kerja, apartemen itu terpaksa dijual ke Fenny Rose di hari Senin. Sebagian uang hasil penjualan digunakan untuk ngontrak rumah di Bekasi, sementara sisanya dipakai untuk usaha percetakan. Kebetulan Pocong seorang lulusan Design Komunikasi Visual sebelum ia menemukan passion di bidang seni peran.

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, Pocong gagal dengan usahanya dan uangnya ludas tertelan inflasi. Kini yang Pocong punya hanya Kunti.

Meski sama-sama terpuruk kariernya, Kunti menanggapi hal itu dengan lebih santai. Kini Kunti jualan capucino cingcau di Bekasi. Jualannya ternyata cukup digemari. Saking ramainya, Kunti punya visi untuk memasyarakatkan capucino cingcau dan meng-capucino cingcau-kan masyarakat. Entah apa artinya, namun jargon itu terdengar cukup ambisius di telinga Kunti.

Usulan pindah ke Bekasi pun datang dari Kunti. Ide ini sempat ditolak oleh Pocong. Karena menurutnya, Bekasi itu jauh banget. Kalo Pocong naik ojek ke Bekasi, tukang ojeknya sampai harus pamitan dulu ke istri dan anaknya. Namun karena tuntutan ekonomi, mau ga mau, Pocong harus mengikuti usulan Kunti dan Bekasi kini jadi domisili mereka.
Continue reading

Menikmati (Bersama) Bintang

Sebuah tulisan lama. Pernah diposting di blog ini di bulan Juli, 4 tahun yang lalu. Dimodifikasi sana sini untuk keperluan Cerpen Peterpan. Dinaikkan kembali karena ga sengaja ketemu di folder lama, terselip di antara folder-folder project baru.

Sebuah cerita fiksi tentang bintang, waktu, dan cinta.

falling star

Alkisah, hiduplah seorang Pocong. Semasa jayanya, Pocong adalah seorang superstar, bintang film papan atas, dan bahkan pernah bermain iklan bareng Luna Maya di sebuah iklan sabun cuci. Luna Maya jadi ibunya, Pocong jadi baskom cuciannya. Berbagai judul film yang ada kata Pocong-nya, pasti ia yang perankan. Saking suksesnya, ia pernah mendapat gelar sebagai pemain film horror dengan bayaran tertinggi.

Tapi itu dulu.

Sekarang tawaran main film mulai berkurang. Meskipun ada, itupun untuk film komedi atau parodi. Tidak ada adegan kejar-mengejar calon korban, tusuk menusuk jantung, atau gigit mengigit leher. Yang ada hanya adegan lompat-melompat lalu kejedot tembok. Dan semua itu minim dialog. Padahal Pocong sudah ambil kelas aksen berbagai macam negara sebanyak 5 pertemuan di sela-sela jadwal shooting. Ia merasa kemampuan beraktingnya kurang dieksploitasi saat bermain film komedi. Ia ingin kembali bermain film horor namun tawaran sedang sepi.

Di masa sulit seperti ini, Pocong berbagi sewa apartemen dengan Kuntilanak di Jakarta Pusat. Kunti –begitu sapaan akrab Kuntilanak– juga seorang pemain film kawakan, seangkatan dengan Pocong, Suster Ngesot, dan Jelangkung.

Kunti berkenalan dengan Pocong saat ia sedang jalan-jalan ke Singapura naik budget airlines. Bertemu ketika Pocong kebingungan ingin minta tolong siapa untuk mengambil fotonya di patung Merlion. Jangankan teman, jempol untuk menekan tombol kamera pun ia tak ada. Untung ada Kunti di situ, dan singkat cerita, mereka menjadi akrab.

Di suatu malam yang naas, mereka berdua sedang santai di ruang tengah apartemen. Ditemani lagu yang bermain pelan dari radio, Pocong duduk di sofa, menonton acara berita di televisi yang dengan santainya bertanya bagaimana-perasaan-anda pada korban bencana alam. Kunti sendiri rebahan di karpet, membaca majalah anak muda masa kini, sambil menggoyang-goyangkan kaki. Awalnya mereka berbincang tentang politik dan kaitannya dengan harga bawang yang melonjak. Namun saat ada kesempatan, Pocong curhat tentang kariernya yang semakin suram. Tadinya ia mau curcol, alias curhat colongan. Tapi karena banyak yang ingin ia bahas, sepertinya ini akan jadi curpandik, alias curhat panjangan dikit.

“Kun, tawaran main film sepi banget ya sekarang?” Pocong memulai sesi curhat malam itu.

“Iya, Cong. Musim film sudah berganti. Film-film horror sudah ndak happening lagi,” jawab Kunti dengan logat Jawa-nya, sambil sibuk membalik-balikkan halaman majalah.

“Tapi kan gue ga mesti main film horror, Kun. Film apa aja gue cocok kok,” balas Pocong sambil menggaruk-garuk pipinya yang bernanah. Entah apa yang di pikirannya sehingga ia yakin bisa berhasil main di film non horror dengan pipi yang kurang higienis.

“Yang lagi ngetop itu film dari akun Twitter gitu. Kamu main Twitter ndak, Cong?” tanya Kunti.

Pocong terdiam sejenak dan membuka akun Twitter dari gadgetnya. Akun @Pocong_Asli_Sumpah_Deh sudah ia buat sejak beberapa bulan lalu, tapi followernya hanya 3. Ibu, Bapak, dan seorang satpam yang ia ancam sebelumnya. Isi twitnya berkisar tentang kehidupan sehari-hari, sambil sering kali meng-RT  artis idolanya, Anisa Chibi. Suatu kali si satpam menge-twit bahwa Pocong sepi follower karena ia RT abuser dan sering pakai twitlonger. Pocong mengiyakan pernyataan itu, dengan meng-RT sampai perlu pakai twitlonger.

Begitu semangatnya mencari follower, Pocong sampai memasang bio: Folbek? Just mention. Tidak hanya sampai di situ. Ia membuat kuis. Jika followernya sudah sampai 100, ia akan bagi-bagi voucher pulsa. Tapi itu semua gagal. Sempat terpikir untuk meng-copy paste twit akun lain, namun ia punya prinsip lebih baik sepi follower daripada harus mencuri kreativitas orang.

Diam-diam, Pocong meng-log out Twitter, “Ga, Kun. Gue ga main Twitter. Ada film lain?” Continue reading

Setan Indonesia Royal Deathmatch: A Prequel

Ada yang masih inget postingan ini?

Nah, postingan kali ini adalah prequel, atau kisah sebelum, dari cerita yang itu. Tanpa banyak basa-basi, mari kita sambit saja cerita yang berikut ini. Mari.

Karena cintanya yang besar terhadap dunia film, seorang sutradara lulusan Geologi ingin membuat film terobosan agar bisa menjadi hiburan bagi para penonton Indonesia. Kini, ia sibuk merancang sebuah naskah film yang dia yakini akan meledak di pasaran. Ia mendapatkan ide ketika sedang duduk di pinggir pantai di saat hujan… lalu tersambar kilat.

Ribuan volt telah membuat otaknya menjadi encer, lunak, dan kreatif. Ia, yang sebelumnya tidak bisa menulis, tiba-tiba bisa menulis cerita untuk filmnya sendiri dan sangat yakin ini akan meledak. Para pemain papan atas yang ia telah kontrak, membuatnya semakin yakin film ini akan meledak. Dan jika semua rencana di atas gagal, sang Sutradara telah membuat rencana cadangan untuk meledakkan acara ini. Sebuah rencana yang bernama kardus petasan.

Setelah segelas kopi jahe dan sengatan volt membuat jidat Sutradara terbuka lebar, ia akhirnya berhasil menyelesaikan draft skenario filmnya. Sebuah skenario dengan tema yang lagi happening saat ini di Indonesia: Horor.

Meski di Indonesia sering menyisipkan adegan panas menjurus mesum pada film horor, Sutradara berprinsip tidak akan menggunakan siasat yang sama. Masih jelas dalam ingatannya ketika ia menyutradarai film Susuk Kuntilanak, dimana si Kuntilanak kalah bersaing dengan artis berbadan seksi. Kuntilanak stress dan hampir saja merobek kain kafan di bagian dada, sampai Sutradara segera melarang tindakan ini. Sutradara minta Kuntilanak untuk istighfar dan mengingatkan bahwa film ini berjudul Susuk Kuntilanak, bukan Susu Kuntilanak.

Skenario itu pun selesai. Tugas berat berikutnya telah menanti. Sutradara harus mencari produser yang cukup gila untuk mau membiayai film ini.

Produser 1

“Setan Indonesia Royal Deathmatch?! Apa pula ini?!” 

BRAK!

Produser membanting draft skenario film yang ditulis 8 hari 8 malam dengan dukungan kopi jahe itu. Sutradara memungut draft yang jatuh dan mengembalikannya ke hadapan produser.

“Mana ada yang mau nonton film ini?” tanya produser dengan intonasi naik.

BRAK!

Si Sutradara kembali memungut, “Tapi ini bagus, Pak! Bagus! Percaya deh!”

“Dengkulmu bagus?! Mana ada yang mau nonton setan-setan berantem?!”

BRAK!

Hampir saja si Sutradara memberi piring cantik kepada produser, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghapus keringat dari jidat, dan kembali, memungut. Ia masih belum menyerah.

“Tapi ini beda, Pak. Berantemnya… sampai… mati.” Sutradara sengaja memberi jeda untuk memberi kesan dramatis, namun gagal. Itu karena melihat setan berkelahi sampai mati bukanlah sesuatu yang cerdas sebab para setan tersebut… sudah mati dari sananya.

Dahi produser berdenyut kencang. Semakin kencang setelah melihat deretan artis yang akan dipakai sebagai pemeran film tersebut.

Pemain:

Pocong
Kuntilanak
Suster Ngesot
Setan Budeg
Hantu Jamu Gendong
Iblis Pempek

Produser geleng-geleng melihat nama yang terakhir, “Iblis Pempek? What the…

BRAK!

“Ini keren, Pak! Setan baru! Belum pernah ada sebelumnya. Dia mati tragis, Pak. Dia mati karena inflasi yang terlalu tinggi dan harga bahan baku terus meningkat. Lalu di dalam tekanan ekonomi yang hebat, ia mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan yang…

“Singkatnya?”

“Gantung diri pake gesper, Pak.”

Produser menepuk jidat dengan keras. Setelah nyaris menggampar Sutradara dengan yellow pages, akhirnya ia mengusir si Sutradara keluar dari ruangannya tanpa banyak memberi penjelasan.

Tapi si Sutradara belum menyerah. Ia bertekad akan berkeliling dari pintu ke pintu, menjajakan skenario andalannya ini ke semua produser yang ia kenal.

Produser 2

BRAK!

Sutradara berinisiatif keluar dari ruangan produser setelah terjadi kegiatan banting-skenario-ke-lantai-dan-memungut-kembali lebih dari sepuluh kali. Awalnya, si Sutradara mengira ini adalah salah satu dari gerakan senam lantai yang sedang digemari para produser. Sutradara akhirnya sadar bahwa kegiatan itu tidak ada sangkut pautnya dengan senam lantai setelah si Produser mulai mengancam untuk melemparnya dengan gayung.

Produser 3

Sutradara masuk ke dalam ruangan produser, duduk, menjelaskan skenario, bangkit dari kursi, lari sambil menghindari sambitan pulpen, kertas 1 rim, dan alat tulis kantor lainnya dari produser.

Produser 4

“Bagaimana, Pak? Mau memproduseri?” Continue reading

Curcong, Curhatan Pocong

Terilhami dari film-film Indonesia yang lagi diputer di bioskop sekarang.

Alkisah (aaaah gila, udah lama banget ga alkisah-alkisahan, ampe kangen gua), hiduplah seorang, eh… hm, sebungkus pocong. Dia gaul, ganteng, keren, tapi sayang kebungkus.

Semasa jayanya ia adalah seorang pemain film kawakan. Ia banyak menjadi pemeran utama di berbagai judul film. Sebut saja Pocong 1 – 3, 40 Hari Bangkitnya Pocong, atau Sumpah Ini Pocong.

Tapi itu dulu.

Sekarang tawaran mulai berkurang. Bahkan di film terakhirnya yang berjudul Susuk Pocong itu pun ia harus bersaing ketat dengan Dewi Perssik dan Andy Soraya untuk merebut hati sutradara. Hampir saja si Pocong membuka bungkusannya di bagian dada dan berakting seronok. Tapi aksi nekad itu berhasil digagalkan setelah para kru mengingatkan si Pocong bahwa judul film ini Susuk Pocong, bukan Susu Pocong.

Di masa sulit seperti ini, Pocong berbagi sewa apartemen dengan Kuntilanak. Kuntilanak, atau yang biasa dipanggil Kunti, adalah seorang wanita berambut panjang, bermata panda. Dia juga seorang pemain film dan penggemar berat d’Masiv.

Selain bermain film, Kunti juga sempat membuka usaha lain. Mengikuti jejak artis Hollywood, ia membuat racikan parfumnya sendiri. Kalau artis Hollywood membuat parfum beraroma terapi, maka Kunti bikin parfum beraroma menyan. Entah kenapa kurang laku.

Di suatu sore yang naas, Pocong curhat sama si Kunti tentang kariernya di dunia film yang semakin suram. Tadinya dia mau curcol alias curhat colongan. Tapi karena topiknya seru, kayaknya dia bakal curpandik alias… curhat panjangan dikit.

“Kun, kok orderan film sepi banget ye sekarang?”

“Jaman udah beda, Cong. Film horor udah ga happening lagi,” jawab Kunti sambil dengerin iPod.

“Ya, kan gua ga mesti maen film horor. Film apa aja gua juga bisa kok,” balas Pocong sambil garuk-garuk borok di pipinya yang bernanah. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini sehingga ia yakin bisa berhasil main di film non horor dengan pipi yang kurang higienis.

Kunti melihat Pocong dari ujung kaki ke ujung kepala.

“Toket lu kekecilan buat maen film komedi panas yang lagi happening sekarang ini. Lagipula… Muka lu itu kok berantakan, muka lu itu kok ga karuan…,” jawab Kunti pake nyanyi.

“Ah. Yang happening kan bukan cuman film genre itu aja, Kun. Ada lagi kan?”

“Iye. Ada. Lu bisa maen bulutangkis, atau bola kaki? Film anak-anak yang jago olahraga juga lagi jaya nih.”

“Ah, gua ga cocok maen film gituan.”

“Kenapa? Ga bisa maen bulutangkis?”

“Gua ga cocok pake celana pendek. Kaki gua buluan, Kun.”

“…”

“Eh, bentar, Kun. Gua kebelet.” Pocong loncat-loncat ke WC. Setelah dua menit berlalu dengan sepi, akhirnya terdengar juga suara Pocong dari dalam WC.

“Kuuuuuun! Ke sini dooooong! Tolong bukain bungkusan gua doooong!”

“Lah, pake tangan lu sendiri aja kali! Masa gua yang bukain? Aku bukan siapa-siapa untukmuuu…” jawab Kunti pake nyanyi.

“Nah itu dia masalahnya, Kun. Tangan gua kan juga kebungkus!”

“Aaah. Ribet!”

Kunti dengan sabar ngebantuin Pocong yang kesulitan dalam melakukan ekskresi. Setelah beres, Kunti memberi sebuah petuah penting.

“Makanya, besok-besok kalo mati jangan dibungkus kain kafan.”

“Abis dibungkus apaan dong?”

“Pampers.”

Setelah adegan WC itu, mereka berdua duduk kembali di ruang tamu. Mereka akan melanjutkan sesi curhat sore ini.

“O! Gua tau, Kun! Kita bikin geng motor aja. Lu, gua, Setan Pondok Indah, Suster Ngesot, ama Hantu Tanpa Kepala! Terus kita bikin film judulnya… Tarix Jabrix! Gila, orisinil banget dah!”

“Orisinil pala lo. Tarix Jabrix udah ada oi!”

“Ooo. Ya udah, kalo soal nama gampanglah. Tapi yang jelas anggota geng motornya itu tuh! Gimana?”

“Setan Pondok Indah udah pindah. Yang gua denger terakhir dia pindah ke Pondok Labu. Nah, namanya jadi Setan Pondok Labu dah. Sejak itu dia sekarang minderan, udah jarang gaul lagi. Menurut dia, nama Setan Pondok Labu kurang hip, dan jadi berasa lebih mirip ulet daripada setan.”

“Ckckckck. Kalo Suster ngesot gimana? Cocok kan buat jadi anak geng motor?”

“Suster Ngesot mana bisa naek motor. Jalan aja ngesot, gimana mau naek motor coba.”

“Kalo Hantu Tanpa Kepala?”

“Caranya dia pake helm gimana hayo?”

“O iye, bener juga.”

Di sela obrolan yang maha penting itu, pocong ambil laptop lalu nyari-nyari wi fi colongan dari kamar sebelah. Setelah dapet signal yang cukup kenceng, dia buka 21cineplex.com.

“Apa gua ke Hollywood aja ye? Bisa nih gua ikutan maen di Transformers.”

“Gini ya, Cong. Transformers itu cerita tentang robot luar angkasa yang bisa berubah bentuk jadi mobil. Robot. Mobil. Luar angkasa. Kebayang ga kira-kira lu yang PUTIH, HOROR, KEBUNGKUS, cocoknya jadi apa?” Kunti mulai naik darah, turun bero.

“Ah, bisa kok. Judul Transformers-nya ditambahin dikit aja. Jadi Susuk Transformers.”

“#@*&?$!”

“Kurang bagus ye? Kalo Transformers Rumah Ampera?”

Kunti kejang-kejang. Pocong yang bingung memutuskan untuk ikut rebahan di lantai dan solider. Pocong kejang-kejang juga.

Beberapa bulan setelah obrolan itu, kabar terakhir mengatakan Pocong sempat ditawari untuk jadi bintang iklan deterjen. Sayang kalah saingan sama Luna Maya dan Sandra Dewi. Pocong marah-marah dan berpikir apa yang ada di pikiran produsernya. Saking marahnya, si Pocong sempat teriak:

“Gua sumpahin ga ada setan yang mau beli!”

Kuntilanak sendiri lebih sibuk jadi grupis-nya d’Masiv dan mencoba eksis di beberapa konser.

kunti nonton konser

Dan si Kunti hanya diam, tanpa kata