Tag Archives: putus

Surat dari Desy

Di sepanjang usia yang semakin matang ini, gua udah beberapa kali mengalami putus cinta. Meski lagu dangdut menghimbau cukup sekali merasakan kegagalan cinta, namun apa mau dikata, gua udah 5 kali patah hati.

Proses putusnya pun macem-macem. Yang paling unik itu mantan gua yang terakhir. Dia mutusin gua via email! Dia menjabarkan semua alasan-alasannya dalam sebuah surat eletronik, dan di penghujung email itu, dengan kasualnya dia berkata, “Best regards.”

best regards pala lu.

Hari Sabtu kemarin, saat lagi ngebongkar-bongkar lemari, gua menemukan sebuah surat. Surat yang tersembunyi di bagian laci lemari paling dalam. Surat yang telah lusuh tertelan waktu. Surat yang ditulis oleh seseorang dari masa lalu.

Namanya Desy. Ia adalah mantan gua waktu SMP.

Seperti layaknya anak SMP, ketika naksir, gua ngeceng-ngecengin dia demi mendapat perhatiannya. Gua memanggilnya dengan julukan Desy Bebek. Bukan karena wajahnya mirip unggas atau tampak menarik bila digoreng sambel ijo, namun karena itu hal pertama yang melintas di kepala saat ingin ngecengin dia. Simply, karena Desy adalah pasangan Donald, tokoh dalam film kartun Walt Disney.

Setelah berhasil meraih perhatiannya, gua pun memberanikan diri mengajak dia jalan di akhir pekan. Bioskop bukan hal yang lazim tahun itu. Di tahun itu, bukan IMAX yang lagi ngetrend, tapi IREX. Tapi mari kita tepikan fungsi IREX dalam cerita ini dan kembali fokus ke keberhasilan gua mengajak Desy untuk jalan-jalan.

Di sebuah Sabtu siang, kami hanya makan Hoka-Hoka Bento berdua, nonton orang main dingdong, dan jalan santai sesudahnya. Butuh beberapa Sabtu siang seperti tadi sampai akhirnya, di sebuah Sabtu siang lainnya, gua memutuskan untuk menyatakan perasaan. Singkat cerita, kami pun jadian.

Dia bukan pacar pertama gua, tapi rasa-rasanya dia adalah pacar pertama yang ingin gua seriusi. Entah apa parameter serius anak SMP, tapi setidaknya ia berhasil membuat gua menyanyikan lagu Anugrah Terindah yang Pernah Kumiliki-nya Sheila on 7 via telpon.

Saat kau di sisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sejak saat itu, lagu itu jadi lagu favorit kami berdua. Ketika gua ulang tahun, ia menghadiahkan album pertama Sheila on 7. Kami sering bernyanyi bersama di sela jam istirahat. Kadang bersenandung lagu yang sama saat tangan saling menggenggam di sepanjang selasar sekolah. Semua itu gua tasbihkan sebagai pertanda bahwa kami baik-baik saja. 

We were okay.

At least, I thought we were okay. Sampai beberapa bulan kemudian, sepucuk surat datang atas namanya.

Continue reading

Advertisements

Perkara Move On

Seringnya, yang membuat kita sulit move on dari yang lama itu bukan karena rasa cinta yang kadung besar. Tapi lebih karena kebiasaan-kebiasaan yang hilang setelah perpisahan.

Move on dari pacar yang lama (alias mantan) akan terasa berat karena kita udah tau di mana restoran favoritnya, es krim rasa apa yang harus dibawain kalo dia ngambek, atau benda pecah belah mana yang harus dijauhkan ketika dia lagi PMS. Sulit move on dari rumah lama karena kita terlanjur hafal berapa jumlah langkah dari kasur ke kamar mandi, tetangga mana yang punya stok gula berlebih, atau titik-titik mana yang mesti ditaruh ember ketika hujan turun terlampau deras.

Begitu juga dengan gadget. Biasanya yang membuat kita gagal move on adalah karena kita udah paham hot keys mana yang harus dipencet, di mana lokasi gallery pada menu, atau apa yang harus dilakukan ketika jam pasir mulai muncul di layar.

Ketika pada akhirnya harus berpisah, seringnya kita akan galau. Mau makan ga enak, mau tidur ga bisa, mau kayang juga ga sanggup. Tabiat lama yang dulunya udah hafal mati, mesti dibuang jauh-jauh. Muscle memory yang udah kebentuk, juga harus dihilangkan. Kebiasaan-kebiasaan yang ada harus di-tidakbiasa-kan.

Tapi setiap perpisahan pasti terjadi karena suatu alasan.

Seperti halnya pacar lama ternyata selingkuh, tukang pukul, atau keteknya bau bawang, begitu juga dengan rumah atau gadget. Kita berpisah karena suatu alasan.

Gua putus dengan pacar yang lama karena dia berpindah ke lain hati. Pindah ke rumah yang baru karena yang lama udah ga sanggup menampung penghuninya yang semakin besar. Memutuskan untuk pisah dengan gadget yang lama karena dia sering nge-hang. Terlalu sering nge-hang. Udah ga reliable.

Cabut-pasang batre udah jadi semacam olahraga ringan setiap harinya. Andai itu bisa membakar setidaknya 100 kalori, pasti gua ga bakal ganti gadget. Tapi perut gua masih membuncah dengan manja (baca: buncit) karena ternyata cabut-pasang batre bukanlah salah satu gerakan dalam senam lantai, senam ritmik, ataupun senam-senam lainnya.

Belum lagi batrenya yang cepat terkuras membuat kebutuhan pokok warga perkotaan bertambah satu. Pangan, sandang, papan, dan colokan. Tiap mampir ke café atau restoran, yang ditanya pertama pasti ada colokan atau ga. Gadget gua yang lama telah menggeser kata ‘mojok’ dari berkonotasi mesum menjadi warga-kota-ngecharge-hape. Continue reading