Tag Archives: resort world sentosa

Halloween Horror Nights 5: Hell House

Pertanyaan terbesar dalam hidup, selain ‘who lets the dogs out?’, adalah apakah ada kehidupan setelah kematian?

Salah satu rumah hantu (haunted house) di Halloween Horror Nights 5 menawarkan sekelumit jawaban atas pertanyaan itu. Nama haunted house-nya adalah Hell House.

hell house

Kalo familiar dengan tradisi Cina, kalian pasti akrab sama Hell House ini. Saat seseorang meninggal, ada tradisi yang mengharuskan sang kerabat untuk membakar segala macam benda yang terbuat dari kertas. Membakar artinya kita “mengirim” barang tersebut ke akherat. JNE is so last year.

Tujuan “mengirim” barang ke akherat itu untuk memastikan bahwa yang meninggal akan berkecukupan selama di sana. Misalnya, bakar pelayan dari kertas bertujuan agar selama di akherat ada yang melayani. Begitu juga dengan uang kertas, rumah kertas, mobil kertas, dan bahkan, handphone kertas. Yang gua bingung, kalo handphone-nya udah dikirim, gimana cara yang di akherat ngisi pulsa? Mestinya counter hape sama mbak-mbaknya dibakar juga. Menara BTS-nya jangan lupa sekalian. Biar kenceng signalnya.

Nah, Hell House menawarkan pengalaman menjadi arwah yang baru aja meninggal dan sedang menuju ke neraka. Sebuah pengalaman untuk menjawab pertanyaan di paragraf pertama tadi.

Awalnya, gua menebak bahwa ini adalah haunted house paling mudah. Paling tidak menakutkan. Selain karena gua ga gitu familiar dengan tradisinya, dari yang gua cek di internet, muka-muka setannya ga menyeramkan. Hanya pelayan kertas (paper servants) yang mukanya terdiri dari bibir, mata, dan alis yang belum dibentuk.

Gua udah berencana menjadikan Hell House sebagai arena istirahat, setelah sebelumnya dibuat berkeringat dan menahan mencret di haunted house lainnya: MRT, Siloso Gateway Block 50 dan Tunnel People.

Tapi manusia boleh berencana, Universal Studio Singapore juga yang menentukan. Gua ga bisa mengistirahatkan sistem ekskresi gua di sini. Karena ternyata Hell House itu mengerikan. Banget.

Continue reading

Advertisements

Halloween Horror Nights 5: The Story

Gua dan horror bukanlah dua kata yang biasa bersandingan. Kalo ada satu kata yang dapat menghubungkan antara gua dan horror itu adalah kata mencret. Iya, sistem ekskresi gua akan bekerja dalam mekanisme yang berbeda jika gua bertemu dengan hal-hal yang berbau horror.

Hal itu pula yang terjadi ketika gua berkesempatan untuk hadir di Halloween Horror Nights 5 (HHN 5) di Universal Studios Singapore, akhir bulan lalu.

Halloween Horror Nights tahun ini adalah kali kelima Universal Studios Singapore membuat mimpi buruk kita menjadi kenyataan. Dengan totalitas ala Universal Studios, ga perlu diragukan lagi, sajian HHN 5 pastilah berkelas dunia. Total ada tiga scare zone dan empat haunted house yang diplot untuk “menemani” kita selama menjelajah HHN 5.

Tema besar dari HHN 5 tahun ini adalah blood moon, atau gerhana bulan darah, yang emang kejadian di periode akhir September – Oktober ini. Ceritanya, akibat blood moon ini, banyak terjadi hal-hal aneh di dunia spiritual. Seperti siklus kedatangan hantu yang ga teratur, wabah penyakit yang tiba-tiba menyerang, rambut Donald Trump, dan hal-hal aneh lainnya.

Sebelum rangkaian acara HHN 5 dimulai, gua udah terkagum-kagum duluan sama segala informasi yang diberikan. Universal Studios Singapore tutup pukul enam sore, sementara HHN 5 dimulai pukul tujuh malam. Itu artinya mereka hanya punya waktu 1 jam untuk menyiapkan itu semua. Bandung Bondowoso juga ga akan sanggup ngerjain sendiri. Dia pasti bakal nge-outsource ke Sangkuriang.

Halloween Horror Nights adalah acara tahunan yang digarap super serius. Total ada 400 scare-actors, 150 make up artists, dan ratusan kru produksi yang terlibat di HHN 5 setiap malamnya. Kebayang ga tuh berapa nasi kotak yang mesti disiapin?

Terlepas dari masalah nasi kotak, gua dan si pacar, bersama tim media dari Indonesia lainnya, langsung diarahkan ke rumah hantu pertama: True Singapore Ghost Stories: The MRT. Rumah hantu ini mengambil urban legend lokal Singapura yang udah diceritain turun-temurun dari masa ke masa.

“Nanti kita akan dibawa melintas waktu ke masa di mana MRT belum dibangun. Sebagian MRT di Singapura dibangun di bawah kuburan orang Melayu,” kata Anggi, sang pemandu, “Jadi karena kuburan Melayu, hantunya akan sangat familiar dengan orang Indonesia, kayak tuyul dan kuntilanak.”

Dan saat itu juga, gua berharap pemerintah Singapura seharusnya bisa lebih bijak dengan membangun MRT di bawah kedai donat.

Tapi ga apa. Karena sampai detik itu, gua masih merasa aman. Kelompok media dari Indonesia lumayan banyak, sekitar 15-17 orang. Gua bisa berdiri di tengah kerumunan dan menjadikan tubuh peserta lain sebagai tembok dari gangguan-gangguan makhluk halus. Kalo ada setan mau gigit, gua bisa menjadikan mereka sebagai tumbal.

“Tolong, Tan. Jangan makan saya. Kolesterol saya tinggi, lemak tak jenuhnya banyak, asam urat tak terkendali. Mending makan yang ini. Sehat. IP-nya 3.5 lagi.”

Bagi gua, semua terkendali. Semua aman. Sampai si pemandu di depan membuat satu pengumuman kecil.

“Ya kalian tolong bikin barisan ya. Jangan berdiri berdampingan. Barisannya satu-satu ke belakang…”

KAMPRET.

“…Terus pecah jadi 2 grup ya. Masing-masing 8-9 orang.”

DOUBLE KAMPRET.

Continue reading

Belajar dari Lumba-lumba

kata sarah

Good morning, Singapore! Rise and shine!

Kelar sarapan, gue keluar dari kawasan Festive Hotel dan langsung di sambut dengan hangatnya sinar mentari. Buseeet, ini mah Adam Levine aja kalah hot! Setengah merem (karena terik), gue mengendong tas ransel dan menyeret kaki menuju Dolphin Island.

Di tengah perjalanan, ponsel gue geter. Didiemin, geternya gak udah-udah. Sebenernya, gue adalah tipe orang yang paling males diganggu waktu lagi liburan. Apalagi kalo masalahnya bisa menunggu dan kalo kemungkinan besar masalah kerjaan. Tapi berhubung geternya gak berenti-berenti, akhirnya terpaksa gue keluarin dari tas dan gue cek.

And yes, it’s my boss. And it isn’t his first time, ngejar-ngejar gue ke mana pun gue pergi kayak begini. Pernah, gue di-BBM panjang lebar di hari Sabtu pagi, waktu gue lagi duduk dalam kereta wahana rumah hantu Jungleland. Haloh, Pak? Gak punya kalender ya di rumah?

Belum lagi doi hobinya nyuruh gue ngelakuin sesuatu yang mustahil. Ngejelasin itungan via BBM, misalnya. Kayak sekarang ini. Alhasil sempet miskom, dan berbuah percakapan panjang kali lebar sama dengan luas yang mana hasilnya enol besar. Bentzi aku, bentziii!

Abis kan gue mau seneng-seneng, kok ya ada aja ujian kesabarannya. Tambah gondok lagi kalo inget susahnya gue dapet cuti kayak hari ini. Sekalinya dapet cuti kok ya masih digangguin masalah kantor?

Roy, ngeliat pacarnya manyun dan lagi bad mood, milih melipir dan gak nanya-nanya penyebab muka gue seasem ketek. Dese juga gak banyak komentar waktu tau gue mau resign. Yastralah, mari dipikirkan sekembalinya ke tanah air. Sekarang bersenang-senang sama bule-bule lumba-lumba dulu!

Waktu gue dan rombongan (Adis, Roy, dan Fahmy) sampe di Dolphin Island, kami ber-waw-wow-waw norak begitu ngeliat lumba-lumba dari jarak dekat. Setelah dipersilakan masuk kolam dan elus-elus, gue langsung memikirkan sederet trik untuk menyelundupkan satu aja mamalia ini ke rumah gue. Ih, aku kepingin pelihara!

sarah & dolphins

Udah gitu, bukan cuma lucu aja, mereka juga pinter! Bayangin, they can memorize hundreds of hand instructions. Ya amplop, siapa yang ngafalin puluhan rumus fisika aja keok? Sayaaa! Hihihi.

Waktu menyaksikan dengan mata kepala sendiri gimana kepiawaian lumba-lumba dalam melaksanakan instruksi sang trainer, gue sampet bertanya dalam hati, ini ngelatihnya gimana ya? Kan lumba-lumba gak ngerti bahasa manusia. Begitupun sebaliknya, si trainer gak bisa bahasa lumba-lumba. Trus mengkomunikasikannya gimana?

Pertanyaan gue terjawab waktu gue diminta menjadi ‘lumba-lumba’. Sebelum makan siang, kami di-brief singkat tentang pentingnya kesabaran seorang trainer dalam melatih lumba-lumba. Supaya lebih jelas, akhirnya kami praktek. Continue reading

Wawancaur: First Time Foreigner

Seperti halnya kebanyakan orang Indonesia, destinasi traveling ke luar negeri pertama gua adalah ke Singapura, negara tetangga dengan akses dan transportasi yang tergolong mudah untuk dimengerti.

Begitu juga dengan narasumber wawancaur gua kali ini. Pengalaman pertamanya menjadi foreigner adalah dengan melancong ke negara berlambang singa dan berjuta denda ini. Namun spesialnya, pengalaman pertamanya ini ia dapatkan secara cuma-cuma. Lho kok bisa? Sebelum makin jauh, perkenalkan dulu, dari sudut biru, Fahmy Muchtar!

Pemilik akun @FHMYMCHTR adalah salah satu teman pembaca blog saputraroy.com yang berpartisipasi di kuis #RWSID #BarengRoy dan keluar sebagai pemenang. Sebagai hadiahnya, Fahmy berhak mendapatkan weekend getaway ke Resort World Sentosa (#RWSID) selama 3 hari 2 malam. Menginap di salah satu hotel berbintang di kawasan #RWSID, makan di restoran-restoran nomor wahid, dan berkesempatan untuk mengalami ratusan exiciting moments!

Gimana sih rasanya jadi foreigner untuk pertama kalinya? Dan cerita seru apa yang Fahmy bawa dari perjalanannya kemarin? Dua pertanyaan tadi dan beberapa lainnya bakal terjawab di sesi wawancaur kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Fahmy benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi saat jalan-jalan ke #RWSID #BarengRoy. Terima kasih.

fahmy muchtar

Halo, Fahmy. Udah siap diwawancaur belum?

Siap, Bang!

Bagus. Jawabnya “Siap, Bang!” Karena kalo lu jawabnya “Kiri, Bang!”, gua reflek nginjek rem. Mulai pertanyaan pertama ya.

Oke, Bang!

Awal Mei kemarin, lu berkesempatan menang jalan-jalan gratis ke #RWSID selama 3 hari 2 malem. Ceritain dikit dong awal mula perjalanan lu itu?

Awalnya, waktu itu baru aja sampe kost setelah pulang kerja. Sebagai anak masa kini, yang pertama kali dibuka adalah Twitter karena seharian hari itu belum Twitteran.

Cie, #TwitterOD nih ye.

Nah, saat lagi scroll-scroll timeline, nemu twit yang pakai hashtag #RWSID. Waktu itu nggak penasaran sampe nyari-nyari. Tapi beberapa hari setelah itu nemu lagi tulisan tentang #RWSID di blog Bang Roy, yang meski nggak sering buka blognya (pengakuan), tapi mungkin udah rejekinya, akhirnya ikutan kuisnya deh. Dan akhirnya menang.

Wah, pembaca musiman ternyata!

Ampun, Bang, ampun X)))

Kuis gua waktu itu menantang pembaca untuk cerita ke gua dan temen-temennya via social media, hal tergila apa yang bakal dilakuin selama di #RWSID #BarengRoy. Emangnya waktu itu lu mau ngapain?
Continue reading

Liburan Untuk Semua

Setelah mengikuti program Trainer for a Day di Dolphin Island; gua, Fahmy, Adis, dan Sarah, masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum kami harus berkumpul di hotel untuk makan malam. Selisih waktu kosong itu memang diagendakan buat seseruan di wahana yang masih satu area dengan Dolphin Island: Adventure Cove Waterpark.

Adventure Cove Waterpark adalah taman bermain air yang gede banget dan masih termasuk dalam kawasan Resort World Sentosa, Singapura #RWSID. Tanpa panjang lebar lagi, di postingan kali ini gua akan ngejelasin beberapa zona yang sempet gua coba atau lihat selama di sana. Cekidot.

1. Adventure River

Cara terbaik memulai keseruan di Adventure Cove Waterpark adalah dengan mengambil ban dan pelampung, lalu menyusuri Adventure River. “Sungai” yang berarus pelan ini bisa bikin kita rebahan di atas ban dan menikmati setiap pemandangan sepanjang 620 meter. Ada air terjun, tetesan air dalam goa kelelawar, suasana hutan hujan tropis, dan masih banyak lagi.

Namun jangan khawatir bagi kalian yang pengen berenang di sepanjang sungai ini. Dengan kedalaman 0.9 meter, Adventure River memungkinkan bagi kalian yang ingin bergerak aktif. Bentuknya yang panjang dan berkelok-kelok dijamin bisa jadi arena membakar kalori buat kalian yang gemar berolahraga.

Gua sendiri memilih untuk mengambil ban dan memasrahkan diri pada arus sungai. Setelah seseruan di Dolphin Island selama 5 jam, kayaknya lebih bijak buat gua untuk bermalas-malasan sambil memanjakan diri dengan panorama yang disuguhkan Adeventure River.

Selain mata, telinga juga terpuaskan selama mengarungi Adventure River. Suara jangkrik di tengah hutan, suara kucuran air yang saling bertubrukan jadi soundtrack yang asik saat mata terpejam dan melepaskan penat di kepala.

Sebuah pengalaman yang syahdu.

2. Bluwater Bay

Di sepanjang Adventure River, kita akan dipertemukan dengan beberapa zona lainnya. Kalo kita pengen main suatu zona, tinggal berdiri dan berjalan keluar dari arus. Kalo udah selesai main, bisa balik lagi bermalas-malasan di aliran sungai. Ibarat sebuah kota, Adventure River adalah jalan arteri sementara zona lainnya merupakan mall atau restoran favorit.

Salah satu zona yang jadi favorit banyak orang adalah Bluwater Bay. Kita bisa merasakan asiknya terayun gelombang laut di zona yang berada di tengah-tengah Adventure Cove Waterpark ini. Bentuk zona ini menyerupai pesisir pantai, membuat kita seolah-olah berada di alam bebas meski sebenarnya sedang berada di wahana buatan manusia.

Setiap 15 menit, gelombang laut akan muncul dan orang-orang biasanya akan berlarian mengejar riak. Melemparkan diri ke ayunan gelombang yang seru namun juga menenangkan.

Jika kalian mengunjungi Adventure Cove bersama keluarga, Bluwater Bay adalah tempat yang cocok untuk dijadikan “basecamp”. Orang tua bisa duduk berteduh sambil memperhatikan anak-anak yang bermain dengan gelombang. Meski banyak lifeguard bertugas, sebaiknya anak kecil selalu ditemani dan mengenakan pelampung ya.

3. Spiral & Whirlpool Washout

Ini dia zonanya penikmat adrenalin rush. Continue reading