Tag Archives: sejenak di sentosa

Tepat Waktu

“Bahasa Inggris-nya biru apa, anak-anak?”

“Blue!”

“Kalau bahasa Inggrisnya buku?”

“Book!”

“Kalau bahasa Inggrisnya tenggelam?”

“Blubuk, blubuk, blubuk…”

Suara itulah yang sedang jadi soundtrack saat mobil gua membelah genangan air setinggi betis orang yang udah siap nikah secara mental dan finansial tapi mungkin belum punya pasangan. Betis orang dewasa.

Memang beginilah resiko mengambil rute penerbangan di awal tahun. Hujan besar yang jadi siklus tahunan Jakarta membuat perjalanan jadi terganggu. Bukan hanya jadwal penerbangan yang delay karena cuaca, tapi perjalanan dari rumah ke bandara pun bisa terhambat karena hujan deras yang sering berbuah banjir di Jakarta. Dan itulah yang saat ini sedang gua alamin.

Gua sedang menerjang banjir demi bisa ke bandara.

Semua bermula ketika gua membeli tiket penerbangan pertama ke Singapura, pukul 7 pagi. Malam sebelumnya, gua pesan taksi agar jemput gua sekitar pukul 5. Kurang lebih dibutuhkan 45 menit dari rumah gua ke bandara saat subuh. Atau 15 menit jika digendong oleh The Flash. Setelah selesai pesan taksi dan packing, gua pun pasang alarm dan memutuskan untuk tidur.

Besoknya, gua bangun tepat pukul 4 pagi. Sialnya, bukan oleh alarm tapi gara-gara bunyi geledek yang kenceng banget. Di luar, hujan sedang turun sederas-derasnya deras. Tapi gua masih optimis kalo hujannya cuma sesaat, karena biasanya hujan besar itu bukan hujan yang awet. Yang awet itu cendol.

Guys, mau ke mana, guys? Buru-buru amat? Itu celananya kok ga dipake dulu? Guys?

Iya, iya, yang tadi itu dawet. Oke, lanjut ya.

Setelah mandi dan bersiap, yang gua lakukan berikutnya adalah duduk manis, menunggu pesanan taksi gua datang. Tapi setelah lewat 5 menit dari waktu yang dijanjikan, gua langsung inisiatif nelpon pangkalan taksi.

“Maaf, Pak,” jawab suara di ujung telpon, “Ga ada taksi yang mau ke sana. Banjir, katanya.”

Banjir? Gua buru-buru keluar dan melongok ke balik pagar. Meski hujan besar, di depan rumah gua masih terlihat becek-becek doang. Gua pun menjawab, “Pak, di sini ga banjir. Hujan sih. Tapi ga banjir.”

“Banjir, Pak.”

“Bentar, bentar. Ini Jakarta-nya sama ga sih?”

“Akses ke sananya banjir, Pak,” lanjut si Bapak.

Karena waktu mepet, akhirnya gua menyudahi perdebatan apakah kita berada di kota yang sama atau ga, dan membatalkan pesanan taksi. Nyokap yang sedari tadi nemenin, menyarankan untuk membangunkan kakak gua yang masih tertidur. Lebih baik gua minta kakak gua untuk dianterin keliling-keliling nyari taksi di jalan.

Singkat cerita, gua, kakak, dan nyokap keliling-keliling di tengah hujan deras. Namun perjalanan mencari taksi berbuah nihil. Sepanjang penglihatan kami, ga ada satupun taksi yang mangkal atau berkeliaran subuh itu.

Gua bingung. Semakin bingung ketika melihat jam di tangan udah menunjukkan pukul setengah 6. Gua harus jalan ke bandara sekarang kalo ga mau ditinggal pesawat.

“Udah, Roy, gue anterin aja ya ke bandara. Daripada telat,” tawar kakak gua yang dengan cepat gua iyakan.

Tapi masalah ga selesai sampai di sini. Seluruh akses antara rumah gua dan bandara udah tergenang air. Banjir udah meluas ke mana-mana. Sementara jarum jam terus berputar, ga menunggu gua menemukan akses tercepat tanpa banjir ke bandara.

Di saat itulah, gua mulai panik. Continue reading

Advertisements

Wawancaur: Akuntan Yeah!

Sebagai orang kantoran, waktu adalah hal paling mahal yang harus dibayar ketika ingin liburan. Sempitnya jendela cuti dan ketidakpastian ijin dari atasan, membuat kadang gua harus merogoh kocek lebih dalam ketimbang mereka yang punya banyak waktu.

Mungkin itu juga yang dialamin akun termoderasi khas kaum pekerja dengan nama @Akuntan_Yeah.

Akun yang digawangi lebih dari 1 admin ini spesialis membagikan keluh kesah kaum kerah putih. Tentang lembur yang ga kelar-kelar atau rekan kantor yang ga pintar-pintar. Semuanya disampaikan secara tajam, sarkas, dan kadang, ngehe.

Kayak apa sih kehidupan asli adminnya? Dan kenapa mereka sampai perlu membuat akun termoderasi? Jawaban atas 2 pertanyaan tadi dan pertanyaan-pertanyaan lain akan dijawab dengan santai cenderung slenge-an oleh satu perwakilan dari admin Akuntan_Yeah di wawancaur kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Akuntan_Yeah benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

Akuntan Yeah

Min, certain dong awal mula bisa ada akun Akuntan_Yeah itu gimana. Tujuannya buat apa sih?

Katanya yang bikin sih supaya ada sarana buat melampiaskan frustrasi karena kerjaan dan profesi. Sambil menertawakan diri sendiri dan menertawakan mereka-mereka yang jadi perantara majikan dan majikan kita.

Dan kebetulan aja yang bikinnya dulu kuliahnya akuntansi. Kalo lulusan sastra ya pasti jadi @sastra_yeah.

Bener juga sih…

Intinya sih dulu pengen nampilin harsh truth aja soal profesi ini. Baik buruknya… eh, kebanyakan buruknya sih yang ditampilin. Soalnya keburukan entah kenapa kok ya lebih lucu.

Akuntan_yeah kan suka pake istilah sahabat korporat tuh. Apa sih sahabat korporat itu?

Itu sarkas aja, buat lucu lucuan. Makin lucu kalo ada mention yang nanggapin serius, dikiranya kita seneng gitu jadi mengabdikan hidup buat majikan. Kurang piknik itu orang.

Apa sih asiknya sih jadi akuntan? Continue reading

8 Tips ke Universal Studios Singapore

Akhir bulan Januari kemarin, gua jalan-jalan ke Singapura dengan tujuan utama bermain di Universal Studios Singapore (USS). Ini adalah kali kedua gua ke sini, setelah akhir tahun 2010 sempet mampir bareng keluarga ke amusement park ini. Kali ini kayaknya bakal lebih seru karena gua ke sana bareng pacar dan adiknya yang sama-sama penyuka adrenaline rush.

Nah, di postingan kali ini gua mau kasih 8 tips jika kalian mau main-main juga ke USS, terutama buat temen-temen yang baru pertama kali ke sana. Ada beberapa hal yang sebaiknya disiapkan sebelum dan selama seseruan di sana. Seperti yang biasa gua bilang kalo bikin postingan model begini, semoga kiat-kiat di bawah berguna buat nusa dan bangsa.

Here we go.

1. Spare your time!

Percaya deh, main di USS itu ga bisa sebentar. Dua kali gua ke sini, dua-duanya memerlukan waktu hampir satu hari penuh. Dengan 7 zona dan lebih dari 20 atraksi, USS bakal menyita waktu kita seharian. Belum lagi kalo kita suka banget dengan 1 wahana dan pengen main lebih dari sekali. Pasti bisa lebih dari 5-6 jam.

USS sendiri buka dari jam 10 pagi dengan waktu tutup yang bervariasi antara weekday dan weekend. Untuk jadwal jelasnya, bisa dicek di sini, dan cek tab “Visitor Info”.

Saran gua sih datang ke USS lebih awal, foto-foto di bola dunia, liat-liat retail shops yang berjejer di depan, sebelum akhirnya masuk dan having fun di dalam. Jangan datang jam 4 sore, makan kuaci, lalu pulang. Ini USS, bukan layar tancep!

Jadi, jangan lupa untuk spare waktu yang banyak di USS saat kalian menyusun itinerary ya!

2. Selalu cek jadwal

Semua pertunjukan dan photo session di USS punya jadwalnya. Pertunjukan kayak Monster Rock, atau mau foto bareng Minions, semua ada keterangan waktu dan tempatnya, jadi mesti selalu cek jadwal biar ga ketinggalan. Untuk tau jadwal lengkapnya, kalian bisa ambil selebaran yang biasanya ada di sebelah kanan ketika kita baru masuk ke zona Hollywood. Di situ tertulis jelas, jadwal atraksi dan sesi foto yang dibagi per zona.

Remember, the show always start on time. So be punctual!

3. Tunggu agak sorean

Kalo kalian adalah para pemacu adrenalin dan pengen banget main Transformers The Ride, usul gua sih dateng ke wahana ini agak sorean, sekitar jam 3 atau 4. Karena dari yang gua alamin sendiri, orang-orang cenderung masuk USS dan berbondong-bondong langsung menuju ke Transformers.

Bulan Januari kemarin, gua dua kali ngantri di Transformers, yaitu pagi (sekitar jam setengah 11) dan sore (sekitar jam 4). Antrian waktu pagi lumayan panjang, namun begitu sore, panjang antrian berkurang sampai sepertiganya.

Lumayan.

4. Bawa baju ganti

Dan jika perlu, sampai ke daleman!

Itu karena di Jurassic Park Rapid Adventure, kemungkinan besar kalian bakal basah kuyup. Dan kalo lagi sial, basah kuyupnya sampe ke celana dan daleman. Jadi ada baiknya kalian bawa tas yang berisi baju ganti.

The Lost World - Jurassic Park Rapids Adventure

The Lost World – Jurassic Park Rapids Adventure

Males bawa-bawa tas pas lagi ngantri? Simak tips gua berikutnya. Continue reading

Kenapa Ga Bosen ke Universal Studios Singapore?

Pagi itu gua memasuki kawasan Universal Studio Singapore dengan satu pertanyaan ini di kepala: “kenapa ya gua ga bosen ke sini?”

Universal Studio Singapore

The Happy Faces

Setelah naik MRT North East line ke arah Harbourfront dan naik Sentosa line seharga SGD 4, akhirnya gua, pacar, dan adiknya sampai juga di Resort World Sentosa Singapore. Gua sampai di sana beberapa menit sebelum jam buka, namun puluhan orang udah berjejalan di depan bola dunia Universal yang masyur itu. Pada ngapain? Ya pada foto lah ya. Masa mau ikut kelas menggambar Pak Tino Sidin?

Ini adalah kali kedua gua berkunjung ke Universal Studio Singapore (USS). Pertama kali gua ke sini itu akhir tahun 2010, ketika USS baru buka beberapa bulan. Meski ini udah yang kedua kali, namun excitement-nya masih sama kayak waktu pertama kali gua ke sini. Perasaan ga sabar pengen main dan seseruan udah menggelinjang sejak bangun tidur tadi pagi. Begitu jam menunjukkan tepat pukul 10, penantian gua pun usai. Pintu dibuka dan kita bertiga langsung bergegas masuk.

Setelah melewati area Hollywood, gua langsung belok kanan, masuk zona New York untuk nyobain wahana yang katanya ga ada di Universal Studio lain: Sesame Street Spaghetti Space Chase. Atraksi ini belum ada waktu pertama kali gua ke sini, makanya gua penasaran mau nyobain.

Sesame Street Spaghetti Space Chase ini mirip-mirip sama Istana Boneka di Dunia Fantasi Jakarta. Bedanya, kalo di Istana Boneka kita naik perahu, maka di Sesama Street Spaghetti Space Chase kita naik kapal luar angkasa. Bedanya lagi, selama permainan kita punya misi menyelamatkan Elmo yang diculik alien. Jadi kita ga cuma sekadar lewat dan liat-liat aja, tapi ada jalan cerita yang bisa disimak. Serunya lagi, track kapal luar angkasanya ini dibuat ga keliatan dan kita kayak bener-bener ngambang di antariksa. Asoy.

Kelar main di wahana keluarga ini, kita bertiga langsung menuju zona Sci-fi City untuk main atraksi yang katanya paling seru se-USS: Transformers The Ride; wahana hyper-realistic 3D, sebuah combo roller coaster dengan animasi 3D.

Ditilik dari antrian yang lumayan panjang, kayaknya sih wahana ini emang keren banget. Namun asiknya, nunggu di barisan jadi ga ngebosenin karena, lagi-lagi, ada cerita yang bisa kita tonton sepanjang mengantri. Di wahana ini, ceritanya kita adalah sukarelawan yang ditugaskan untuk menyelamatkan Allspark yang mau dicuri dari NEST Headquater.

Konsepnya keren banget ga sih? Maksud gua, kita ga hanya diminta untuk duduk dan nonton para Transformers beraksi. Tapi kita jadi bagian dari pertarungan sengit antara Autobots dan Decepticons. We are part of the attraction.

Reaksi gua setelah naik Transformers? Continue reading

Review Comic 8

Sesungguhnya sulit untuk mereview Comic 8 tanpa sedikitpun membocorkan alur ceritanya. Tapi marilah kita memulai review kali ini dengan membahas salah satu pemeran Comic 8 yang paling ditunggu kemunculannya.

Nikita Mirzani.

nikita comic 8

Pembahasan Nikita Mirzani, selesai.

Comic 8 adalah film komedi aksi yang bercerita tentang delapan orang dari tiga kelompok yang berbeda, merampok satu bank dalam waktu yang bersamaan. Ernest, Ari, dan Kemal mewakili The Gangster; mereka yang udah ahli dan memang hidup untuk berbuat jahat. Lalu ada Babe, Fico, dan Bintang yang tergabung dalam gerombolan The Amateurs; anak gang sebelah yang nekad nyari uang tambahan. Terakhir, duet Mongol dan Mudy memberi diri mereka label The Freaks; yang mengingatkan gua akan duo Tenacious D.

Chaos terjadi saat 3 kelompok ini berebut uang hasil rampokan dan polisi mengepung bank. Kedelapan rampok yang awalnya bersaing dan saling menjatuhkan, akhirnya bahu membahu supaya bisa keluar dari kepungan polisi.

Alur cerita Comic 8 dibuat maju mundur, namun asiknya, ga membingungkan. Seperti main puzzle, penonton diajak untuk memasang dan mengurut-ngurutkan adegan dengan panduan yang sangat jelas. Contohnya, Fajar Umbara (penulis cerita) dengan cerdik memakai tukang delivery pizza sebagai titik yang membalikkan cerita ke masa kini. Kemunculannya dibuat sedemikian seru dan comical sehingga membuat penonton ga mungkin lupa kalo orang ini berada di alur masa kini.

Plot ceritanya sendiri udah jadi pertanda cerdiknya Fajar. Akan ada momen di mana penonton dibuat ber-“Oh?”, “Eh?”, “Lho?”, “Kok?”, “Walah!”, atau ber-“Anjis! Ternyata begini!”.  Plot twisting yang berlapis dan mengejutkan jadi primadona dari Comic 8. Tentunya selain adegan menembak Nikita Mirzani dan dadanya yang bergetar.

Eh, oh, sampai di mana tadi? Oh iya, primadona.

Permainan kamera slow motion mode juga jadi primadona tersendiri di film ini. Slow motion mode saat tembak-tembakan membuat gua teringat akan film Sherlock Holmes: The Game of Shadows. Meski belum sekelas Guy Richie, permainan kamera model begini oleh sineas Indonesia udah boleh banget lah.

Props-nya pun keren. Suara dan percikan api yang dihasilan dari setiap tembakan membuat gua berkomentar, “Niat banget euy!” Suara tembakannya ya emang kayak suara tembakan yang sering kita denger di film-film luar. Ga kayak suara petasan di kondangan orang Betawi. Suaranya ya DOR-DOR-DHUAR, bukan TOR-TAR-TOR-TAR-KAWIN-KAWIIIN! Meski sesekali ada efek api dan ledakan kayak di sinetron Indosiar, itu jadi termaafkan oleh scene meledaknya brankas utama yang terlihat nyata. Epic.

Lalu gimana akting delapan stand up comedian yang jadi poros utama film ini? Continue reading