Tag Archives: singapura

Halloween Horror Nights 6: Berani?

Tahun lalu, sekitar 2 minggu sebelum hari resepsi pernikahan, gua dan Sarah dapet rejeki diundang ke Halloween Horror Night 5 (HHN) di Resort World Sentosa, Singapura.

Di tengah pusingnya nyiapin resepsi, gua dan Sarah memutuskan untuk ikut dalam rombongan media Indonesia. Kami bertugas untuk meliput dan menceritakan pengalaman bermain-main di acara Halloween yang udah menangin banyak penghargaan di Asia Tenggara ini.

Kalo kalian pernah mampir ke HHN, pasti ga akan heran kenapa HHN terus ada sampai edisi ke-enamnya di tahun 2016 ini. Itu karena penggarapannya yang super serius dengan tema yang selalu berbeda setiap tahunnya.

Di tahun 2016 ini, tim Resort World Sentosa masih mengangkat urban legend biar dekat dengan penduduk lokal. Di lain sisi, juga menyodorkan cerita horor yang mendunia agar menarik minat turis internasional. Sebagai bukti, di beberapa tahun sebelumnya, sempat ada cerita tentang Kuntilanak. Setan tipe ini tentu familiar buat kita, warga Indonesia yang taat lapor pajak dan yang suka bilang permisi kalo lewat kuburan.

HHN 5 kemarin adalah pengalaman pertama gua ikut event ini. Waktu mendapat undangannya, gua awalnya khawatir. Gua khawatir bakal mencret di tengah wahana yang bisa menganggu kenyamanan pengunjung lain. Biarlah objek lembek yang mengusik perasaan pengunjung hanyalah yang tertempel dalam komestik para karakternya, bukan yang keluar dari celana tanpa aba-aba.

Karena sesungguhnya, horor dan gua bukanlah dua kata yang biasa berdampingan dengan tentram. Sebagai orang yang gampang kaget, masuk ke wahana rumah hantu baru akan gua pilih kalo opsi lainnya adalah jogging santai bareng hyena.

Namun didorong rasa penasaran yang kuat, gua akhirnya mengiyakan undangan itu.

Melewati 3 haunted house dan 2 scare zone, gua kembali ke hotel dengan frekuensi mengeluarkan keringat yang lebih banyak daripada kegigit rawit dalem lontong. Jantung yang berdetak kencang, rahang yang lelah berteriak, namun senyum yang terus mengembang. Di balik kengeriannya, gua mendapat kesempatan untuk menguji nyali dalam wahana yang digarap dengan serius dan kedetailan yang bikin kagum. Continue reading

Advertisements

Halloween Horror Nights 5: Hell House

Pertanyaan terbesar dalam hidup, selain ‘who lets the dogs out?’, adalah apakah ada kehidupan setelah kematian?

Salah satu rumah hantu (haunted house) di Halloween Horror Nights 5 menawarkan sekelumit jawaban atas pertanyaan itu. Nama haunted house-nya adalah Hell House.

hell house

Kalo familiar dengan tradisi Cina, kalian pasti akrab sama Hell House ini. Saat seseorang meninggal, ada tradisi yang mengharuskan sang kerabat untuk membakar segala macam benda yang terbuat dari kertas. Membakar artinya kita “mengirim” barang tersebut ke akherat. JNE is so last year.

Tujuan “mengirim” barang ke akherat itu untuk memastikan bahwa yang meninggal akan berkecukupan selama di sana. Misalnya, bakar pelayan dari kertas bertujuan agar selama di akherat ada yang melayani. Begitu juga dengan uang kertas, rumah kertas, mobil kertas, dan bahkan, handphone kertas. Yang gua bingung, kalo handphone-nya udah dikirim, gimana cara yang di akherat ngisi pulsa? Mestinya counter hape sama mbak-mbaknya dibakar juga. Menara BTS-nya jangan lupa sekalian. Biar kenceng signalnya.

Nah, Hell House menawarkan pengalaman menjadi arwah yang baru aja meninggal dan sedang menuju ke neraka. Sebuah pengalaman untuk menjawab pertanyaan di paragraf pertama tadi.

Awalnya, gua menebak bahwa ini adalah haunted house paling mudah. Paling tidak menakutkan. Selain karena gua ga gitu familiar dengan tradisinya, dari yang gua cek di internet, muka-muka setannya ga menyeramkan. Hanya pelayan kertas (paper servants) yang mukanya terdiri dari bibir, mata, dan alis yang belum dibentuk.

Gua udah berencana menjadikan Hell House sebagai arena istirahat, setelah sebelumnya dibuat berkeringat dan menahan mencret di haunted house lainnya: MRT, Siloso Gateway Block 50 dan Tunnel People.

Tapi manusia boleh berencana, Universal Studio Singapore juga yang menentukan. Gua ga bisa mengistirahatkan sistem ekskresi gua di sini. Karena ternyata Hell House itu mengerikan. Banget.

Continue reading

Halloween Horror Nights 5: The Story

Gua dan horror bukanlah dua kata yang biasa bersandingan. Kalo ada satu kata yang dapat menghubungkan antara gua dan horror itu adalah kata mencret. Iya, sistem ekskresi gua akan bekerja dalam mekanisme yang berbeda jika gua bertemu dengan hal-hal yang berbau horror.

Hal itu pula yang terjadi ketika gua berkesempatan untuk hadir di Halloween Horror Nights 5 (HHN 5) di Universal Studios Singapore, akhir bulan lalu.

Halloween Horror Nights tahun ini adalah kali kelima Universal Studios Singapore membuat mimpi buruk kita menjadi kenyataan. Dengan totalitas ala Universal Studios, ga perlu diragukan lagi, sajian HHN 5 pastilah berkelas dunia. Total ada tiga scare zone dan empat haunted house yang diplot untuk “menemani” kita selama menjelajah HHN 5.

Tema besar dari HHN 5 tahun ini adalah blood moon, atau gerhana bulan darah, yang emang kejadian di periode akhir September – Oktober ini. Ceritanya, akibat blood moon ini, banyak terjadi hal-hal aneh di dunia spiritual. Seperti siklus kedatangan hantu yang ga teratur, wabah penyakit yang tiba-tiba menyerang, rambut Donald Trump, dan hal-hal aneh lainnya.

Sebelum rangkaian acara HHN 5 dimulai, gua udah terkagum-kagum duluan sama segala informasi yang diberikan. Universal Studios Singapore tutup pukul enam sore, sementara HHN 5 dimulai pukul tujuh malam. Itu artinya mereka hanya punya waktu 1 jam untuk menyiapkan itu semua. Bandung Bondowoso juga ga akan sanggup ngerjain sendiri. Dia pasti bakal nge-outsource ke Sangkuriang.

Halloween Horror Nights adalah acara tahunan yang digarap super serius. Total ada 400 scare-actors, 150 make up artists, dan ratusan kru produksi yang terlibat di HHN 5 setiap malamnya. Kebayang ga tuh berapa nasi kotak yang mesti disiapin?

Terlepas dari masalah nasi kotak, gua dan si pacar, bersama tim media dari Indonesia lainnya, langsung diarahkan ke rumah hantu pertama: True Singapore Ghost Stories: The MRT. Rumah hantu ini mengambil urban legend lokal Singapura yang udah diceritain turun-temurun dari masa ke masa.

“Nanti kita akan dibawa melintas waktu ke masa di mana MRT belum dibangun. Sebagian MRT di Singapura dibangun di bawah kuburan orang Melayu,” kata Anggi, sang pemandu, “Jadi karena kuburan Melayu, hantunya akan sangat familiar dengan orang Indonesia, kayak tuyul dan kuntilanak.”

Dan saat itu juga, gua berharap pemerintah Singapura seharusnya bisa lebih bijak dengan membangun MRT di bawah kedai donat.

Tapi ga apa. Karena sampai detik itu, gua masih merasa aman. Kelompok media dari Indonesia lumayan banyak, sekitar 15-17 orang. Gua bisa berdiri di tengah kerumunan dan menjadikan tubuh peserta lain sebagai tembok dari gangguan-gangguan makhluk halus. Kalo ada setan mau gigit, gua bisa menjadikan mereka sebagai tumbal.

“Tolong, Tan. Jangan makan saya. Kolesterol saya tinggi, lemak tak jenuhnya banyak, asam urat tak terkendali. Mending makan yang ini. Sehat. IP-nya 3.5 lagi.”

Bagi gua, semua terkendali. Semua aman. Sampai si pemandu di depan membuat satu pengumuman kecil.

“Ya kalian tolong bikin barisan ya. Jangan berdiri berdampingan. Barisannya satu-satu ke belakang…”

KAMPRET.

“…Terus pecah jadi 2 grup ya. Masing-masing 8-9 orang.”

DOUBLE KAMPRET.

Continue reading

Oktober 2015!

Bulan ke-10 tahun 2015!

Akhirnya, bulan yang gua tunggu-tunggu di tahun ini dateng juga. Di bulan ini, bakal banyak kejadian seru nan menarik yang bakal gua alamin.

Yang pertama, tentu aja pernikahan. Yes people, I’m getting married in this October! Doain ya semuanya lancar-lancar. Sejauh ini persiapannya sih udah 90%. Tinggal tersisa hal-hal minor yang masih bisa ditunda atau dipikirin belakangan. Buat teman-teman yang diundang, ditunggu kedatangannya ya. Untuk yang lain, mohon maaf banget, karena keterbatasan dana jadi ga bisa undang semua.

Tapi kalo kalian mau share sesuatu di social media pas hari H nanti soal resepsi gua dan si (calon) istri, tinggal ngetwit atau post di Instagram terus dipakein hashtag #MrMrsSaputra. Lalu pertanyaannya adalah, emang kapan sih hari H-nya? Jawabannya bisa didapet kalo mantengin terus akun-akun social media gua dan si (calon) istri.

Dan di bulan ini juga, gua dan si (calon) istri bakal bulan madu ke Jepang, empat hari setelah nikahan. Bulan madu kali ini bakal memakan waktu 12 hari. Rencananya kami bakal ke Tokyo, Osaka, Kyoto, dan Tottori. Mudah-mudahan bisa beli banyak oleh-oleh buat dijadiin kuis di blog ini. Ihiy!

Oiya, bulan madu kali ini bakal gua kasih judul #Japaneymoon. Alasannya, ya karena kami bakal pergi ke Jepang dalam rangka honeymoon. Dan kalo ga ada aral melintang, #Japaneymoon bakal jadi catatan sejarah tersendiri buat gua dan si (calon) istri. Catatan sejarah apa? Tungguin aja deh ceritanya di blog ini.

Terus apa lagi ya yang baru di bulan ini? Continue reading

6 Hal Gratis yang Bisa Dilakukan di Singapura

Tahun 2009, saat melakukan #JalanJalanKemiskinan bersama teman-teman kuliah, gua hanya merogoh kocek sedalam satu juta rupiah untuk menjelajah Singapura selama 5 hari. Tapi nilai mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dolar Singapura dalam setahun terakhir, menjadikan Singapura ga lagi ramah sama kantong gua.

Meski begitu, ternyata ada beberapa objek wisata yang masih bisa dinikmati secara cuma-cuma di Singapura. Saat melancong bareng keluarga ke Singapura akhir Desember kemarin, itinerary hari kedua gua banyak melibatkan objek-objek gratisan.

Nah, di postingan kali ini, gua mau berbagi 6 hal gratis yang bisa dilakukan di Singapura. Enam hal gratis ini udah pernah gua coba sendiri, baik itu ketika #JalanJalanKemiskinan tahun 2009 sampai dengan ketika family trip awal Desember 2014 kemarin.

Dan seperti yang biasa gua bilang ketika bikin postingan kayak begini, anggap saja ini sebagai sumbangsih gua buat negara. Auwo.

1. Berpose di Merlion dan Esplanade

Belum ke Singapura kalo belum berfoto di patung yang menjadi simbol pariwisata negara Singapura ini. Total, ada 5 patung Merlion yang diakui oleh Singapore Tourism Board, namun yang paling sering jadi objek foto dan diunggah kelas menengah ngehe ke social media adalah patung Merlion yang berada di One Fullerton, dekat area bisnis Singapura.

Patung ini memiliki tinggi 8.6 meter dan memancurkan air selama 24 jam (kecuali jika sedang dalam perbaikan). Air pancuran ini biasanya dijadikan gimmick turis dalam berfoto. Ada yang pura-pura minum airnya sampai pura-pura pipis. Jadi, jangan lupa untuk berfoto sebanyak-banyaknya karena ga ada pungutan biaya untuk melakukan itu.

Ga jauh dari Merlion, ada juga objek lainnya yang bisa dijadikan objek foto gratisan juga. Namanya Esplanade, yang merupakan gedung konser dengan kapasitas 1,600 tempat duduk. Bentuk eksteriornya yang menyerupai buah durian, menjadikan Esplanade sebagai objek foto yang unik dan sayang kalo dilewatkan. Saat malam, lampu yang menyorot dari setiap sela “duri”-nya membuat Esplanade makin kece.

Untuk mencapai dua objek wisata ini, kalian bisa naik MRT jalur Circle (warna kuning) dan turun di stasiun Esplanade. Dari Esplanade ke Merlion, kalian bisa jalan kaki menyebrangi sebuah jembatan yang juga bisa jadi spot foto yang oke. Jadi, selamat berfoto ria!

2. Mendaki Mount Faber

Di daerah Bukit Merah, ada sebuah bukit setinggi 105 meter yang bisa dijelajahi dengan jalan santai. Di tahun 2009 gua pernah coba mendaki bukit ini bersama teman-teman kuliah, yang cerita lengkapnya bisa dibaca di sini. Pemandangan sepanjang berjalan naik memang ga begitu bagus, namun panorama ketika udah sampai di atas terbilang cukup menarik.

Perpaduan modernisasi dan alam terpampang di sepanjang mata memandang. Warna hitam dan kelabu menyatu bersama hijaunya pepohonan. Seperti berdesak-desakan, berlomba mengisi langit Singapura.

mount faber

Kalo kalian ingin mencari sesuatu yang “beda” di Singapura, maka jalan-jalan naik gunung di Mount Faber bisa jadi alternatif yang seru. Untuk mencapai Mount Faber, kalian bisa naik MRT jalur North East (warna ungu) dan turun di stasiun Harbourfront. Ambil exit D dan berjalanlah ke arah jalan Mount Faber sekitar 7 menit. Cobain deh. Continue reading