Tag Archives: toko bahagia

Oktober 2014!

September has ended! Someone, please wake Green Day up!

Anyway, ga terasa, 3 bulan lagi tahun 2014 akan selesai dan berganti jadi tahun 2015. Gimana, resolusi udah kelar? Badan masih sehat? Status udah berubah? Kerjaan beres semua?

Gua sendiri sangat disibukkan dengan kerjaan kantor 2 bulan belakangan ini. Pun dengan Toko Bahagia dan FMB Consultant. Aktivitas dan persiapan kedua usaha sampingan itu ga jarang menyita waktu gua. Tapi di balik hujan besar, pasti ada pelangi. Harapannya di bulan Oktober ini, semua bisa berjalan normal dan hasilnya udah bisa mulai dipetik. Jadi, gua bisa lebih punya waktu mengisi blog ini dengan postingan-postingan seru.

Kalo kalian perhatikan, di tahun 2014 ini gua lagi belajar untuk lebih sering bikin postingan yang bisa bikin ngikik. Karena harus gua akui, jumlah postingan-postingan ngawur terus berkurang, terutama di tahun 2013 kemarin.

Dulu, sebelum gua memutuskan hiatus menulis bloh selama tahun 2010-2011, blog ini penuh sama cerita-cerita absurd yang entah kepikiran dari mana. Baik itu pengalaman pribadi yang sedang apes atau cerita fiksi yang dibuat super ngasal. Buat temen-temen yang udah baca blog ini dari tahun 2010 ke bawah, pasti tau kegemaran gua akan cerita ngawur dengan tokoh utama setan atau parodi film horor yang lagi tayang di pasaran. Semua gua tulis dengan lepas dan tanpa ekspektasi apa-apa.

Untuk mengobati rasa kangen menulis random itu, gua akan coba nulis yang ngawur-ngawur lagi di blog ini. Entah kisah si Pocong dan di Kunti, catatan perjalanan yang ngasal, atau cerita harian yang kadang ngaco juga.

Kalo ga ada halangan, gua mau cerita soal pengalaman gua berobat bulan lalu, catatan perjalanan saat ke salah satu kuil paling masyur di Jepang, serta pemikiran acak yang terjadi saat gua nonton konser Sheila on 7 bulan lalu. Semoga semua calon tulisan tadi bisa membuat temen-temen semua nyengar-nyengir pas baca ceritanya nanti.

Continue reading

Advertisements

#TokoBahagia: Di Balik Layar

“Eh, ternyata lumayan ya?”

Sore itu, gua dan pacar sedang menghitung profit Toko Bahagia yang udah melakukan open pre-order sebanyak 4 periode. Meski jumlahnya ga gede-gede banget, tapi lumayan untuk jajan saat kencan pas weekend.

Awalnya gua dan pacar memang ga terlalu berharap banyak pada Toko Bahagia. Penghasilan kami dari kerja kantoran udah lebih dari cukup untuk menghidupi kami setiap bulannya. Gua pribadi menganggap Toko Bahagia hanya sebagai perwujudan mimpi yang tertunda dan keinginan gua untuk menyampaikan kata-kata bahagia lewat media baru, selain blog.

Tapi ternyata, seperti kalimat dalam tanda kutip di atas, hasilnya lumayan.

Berawal dari itulah akhirnya gua dan pacar memutuskan untuk membuat Toko Bahagia lebih sering beroperasi. Agar kata-kata bahagia yang kami coba sampaikan, juga semakin tersebar dengan luas. Dan tentunya, agar kami bisa menabung untuk persiapan pernikahan kami tahun depan.

Maka setelah open pre-order yang kelima, Toko Bahagia gua nyatakan hiatus. Rolling door virtual gua tutup, demi bisa lebih matang menyiapkan Toko Bahagia baru, tanpa terganggu proses jual beli yang biasa. Momennya juga bertepatan dengan libur Lebaran, jadi gua pikir ya sekalian aja lah tutup dulu dan dibuka lagi bulan Agustus nanti.

Begitu pintu ditutup, gua dan pacar langsung menyusun taktik. Strategi pertama dalam merubah wajah Toko Bahagia adalah toko ini harus punya situs sendiri. Selama ini, Toko Bahagia masih “ngontrak” di blog gua dan ke depannya, kami ingin Toko Bahagia bisa mandiri. Namun permasalahannya adalah nama Toko Bahagia ini umum banget!

Saking umumnya nama Toko Bahagia, dulu pernah ada yang ngehubungin gua dan nanya, “Mas, saya mau beli magic bra dong.”

Gua pengen jawab, “Ga ada, Mbak. Kita adanya magic jar motif bra. Renda-renda gitu deh. Ada bunganya dikit di pojok kiri atas. Gimana, mau ga?”. Tapi niat itu segera gua batalkan karena gua tau, di luar sana, ada situs tokobahagia.com yang berjualan alat-alat kecantikan.

Pernah di lain kesempatan, ketika lagi asik ngobrol sama pelanggan, sebuah notifikasi baru masuk. Gua kira ada pembeli baru, tapi ternyata seorang mbak-mbak yang nanya:

“Mas.”

“Ya, Mbak?” tanya gua.

“Ini tempat yang bisa minjemin duit ya?”

“Mbak butuh pinjeman duit? Dengan bunga ringan? Tanpa agunan?”

“Iya, Mas!” jawabnya, semangat.

“SAMA DONG.” Continue reading

Agustus 2014!

Halo, teman-teman pembaca.

Sebelum memulai postingan tema bulan Agustus, gua mewakili segenap redaksi saputraroy.com mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi teman-teman yang merayakan. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Nah, sekarang balik ke pembahasan tema bulan Agustus 2014.

Bulan Agustus identik dengan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 nanti. Oleh karena itu (cailah), di bulan ini gua akan banyak membahas tema kemerdekaan. Kemerdekaan di sini bukan hanya berarti kebebasan Indonesia dari para penjajah, tapi juga makna kebebasan secara umum.

Salah satunya, gua akan berbagi beberapa cerita tentang upaya-upaya gua dalam membebaskan diri dari jeratan kerja delapan pagi sampai lima sore, lewat berwirausaha. Continue reading

Mimpi yang Tertunda

Dear teman-teman pembaca saputraroy.com,

Kalian punya mimpi?

Tenang, tenang. Ini bukan postingan tentang Multi Level Marketing (MLM). Gua bukan seorang teman lama yang tiba-tiba menghubungi untuk menanyakan kabar, lalu dengan timpangnya menawarkan bisnis yang melibatkan kata downline dan passive income.

Bukan, bukan itu. Tapi kalian udah punya asuransi?

Ga deng. Gua juga bukan mau nawarin asuransi. Jadi tenang aja. Bisa gua pastikan, di postingan kali ini ga akan ada foto gua dengan latar mobil sport mahal atau kapal yacht yang gua aku-aku sebagai milik pribadi. Gua cuma mau cerita tentang salah satu mimpi gua yang selalu ketunda. Mimpi yang bergeser atau terabaikan hampir di setiap tahunnya. That dream was to make my own clothing line.

Iya, itu mimpi gua. Punya brand kaos sendiri.

Itu semua karena gua suka banget pake kaos. Kaos dengan tulisan dan design yang unik selalu berhasil mencuri perhatian gua. Joger dan Dagadu adalah 2 brand yang pertama kali membuat gua jatuh cinta pada dunia perkaosan dengan kata-kata yang unik. Kaos yang saking bagusnya pengen gua pake terus. Kaos yang saking bagusnya bikin gua sampai berikrar dalam hati, “Suatu hari gua harus bisa punya usaha seperti ini.”

Mimpi ini terus gua buru. Masa SMA tahun terakhir, saat gua merasa udah cukup besar untuk mengambil keputusan dan punya uang tabungan yang lumayan, gua mengajak seorang teman untuk memulai usaha ini. Pergilah kami suatu sore ke daerah Mangga Dua untuk mencari tukang sablon. Waktu itu, harga ga masalah buat kami. Yang penting murah.

Setelah berkeliling ke sana kemari, kami gagal menemukan tukang sablon dengan kriteria kami: mampu diecer. Kebanyakan tukang sablon hanya mau menerima order dalam partai besar. Gua mengatakan ke tukang sablon itu bahwa gua bukanlah konstituen Golkar atau PDI Perjuangan. Hal terdekat antara gua dengan partai-partai besar adalah suka ngata-ngatain politikus waktu nonton mereka di Metro Tipi. Tukang sablon itu menjawab kalo yang dia maksud adalah dalam jumlah yang banyak, setelah sebelumnya menoyor gua dengan mesin sablon.

Sore itu, gua pulang dari Mangga Dua tanpa kesepakatan dengan tukang sablon mana pun. Karena waktu itu, seindie-indienya tukang sablon, ga ada yang nerima eceran. Resiko dan kebutuhan dana yang besar membuat gua pulang dengan tangan hampa. Hanya 1 VCD asusila yang berhasil kami beli. Itu pun patungan. Teman gua dapet side A, gua dapet side B. Alhasil, gua nontonnya mundur. Kek moonwalk. Continue reading