Tag Archives: traveling

Menikmati Wisata Alam yang Hijau di Tengah Sesaknya Kota Jakarta

Dikenal sebagai kota metropolitan, Jakarta dipenuhi gedung pencakar langit di berbagai penjuru. Suasana panas, penuh asap, dan macet menjadi pemandangan sehari-hari. Ga heran kalo warga Jakarta kerap memilih liburan ke luar kota untuk merasakan suasana yang alami.

Lalu, apa ga ada tempat wisata yang alami di Kota Jakarta? Tentu aja ada. Apalagi, Jakarta memiliki garis pantai yang cukup panjang. Nah, ingin tahu destinasi wisata alam mana saja yang ada di kota metropolitan ini? Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Wisata Hutan Mangrove PIK

Sumber: thetripcorner.com

Wisata Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi wisata alam yang kini populer di Jakarta. Apalagi, pihak pengelola menyediakan fasilitas yang komplit di dalamnya. Mulai dari area berkemah, menara pandang, hingga perahu untuk berkeliling perairan sekitar hutan bakau.

Berjalan kaki mengelilingi area hutan bakau menjadi aktivitas utama para wisatawan di Wisata Hutan Mangrove PIK. Di tengah jalan, kita bisa menjumpai beragam hewan liar yang tinggal di area tersebut. Di antaranya, berbagai jenis burung, biawak, dan lain-lain. Wisatawan juga bisa turut serta dalam aksi penanaman pohon bakau. Dijamin, seru! Continue reading

Advertisements

Duri dalam Daging

“Ini namanya UI. Unexplained infertility.

Dokter itu lalu memasukkan beberapa lembar hasil tes lab kami berdua kembali ke amplopnya masing-masing. Gua dan Sarah saling berpandangan, tanpa tau harus bereaksi seperti apa.

“Kenapa?” lanjut Bu Dokter, “Kok kayak bingung?”

Gua cuma bisa nyengir, “Eh iya, Dok. Itu kabar baik atau buruk ya?”

“Intinya sih, ga ada salah dengan kalian berdua. Sel telurnya bagus, salurannya normal, sel spermanya juga bagus, masih banyak yang bisa berenang dengan baik ke arah yang benar. Makanya, ini namanya unexplained.

Dalam hati, gua dan Sarah mengelus dada. Setidaknya ga ada yang salah dengan fisik, organ, atau hormon kami berdua yang menyebabkan sampai hari ini kami belum mempunyai anak.

Pertanyaan kapan-punya-anak memang udah jadi makanan kami sehari-hari. Berondongan pertanyaan, mulai dari yang basa-basi sampai kepo menggurui, mulai dari keluarga dekat sampai driver ojek online, rutin mengisi bulan-bulan awal kami menikah sampai usia pernikahan kami tepat menginjak satu tahun.

Awalnya biasa aja, tapi lama-lama kuping ya gerah juga.

Didorong rasa ingin mengenyahkan pertanyaan-pertanyaan orang dan menuntaskan rasa penasaran dari dalam diri sendiri, gua dan Sarah memutuskan untuk ngecek ke dokter, apa yang membuat kami belum memiliki anak. Apa yang salah dengan kami berdua.

Dalam memilih tempat ngecek, gua dan Sarah punya beberapa ketentuan. Pertama, kami menghindari rumah sakit bersalin umum. Itu karena kami ga ingin ditatap dengan penuh tanda tanya dari pasangan yang sedang berkunjung untuk mengecek kondisi kehamilan. Atau yang terlalu ramai, sampai harus datang jam 5 pagi untuk bisa diperiksa jam 3 sore. Kami hanya ga ingin proses pengecekan yang panjang dan melelahkan ini, terasa tambah panjang dan melelahkan karena antriannya.

Bermodal browsing kanan-kiri, gua menemukan satu klinik di barat Jakarta yang sepertinya cukup friendly bagi pasangan yang panasaran namun pemalu macam kami. Dokternya pun ramah dan mau ngejawab semua pertanyaan kami berdua. Dirujuk untuk tes ini itu, dan begitu hasilnya keluar, berangkat lagilah kami ke sana untuk pembacaan hasil.

“Jadi, Bapak Ibu tetap bisa usaha secara normal,” jelas Bu Dokter seraya menyerahkan kembali amplop hasil tes, “Namun karena UI, probabilitasnya memang cenderung lebih kecil. Atau kalau mau, bisa IVF. Dari data historis kami, pasangan UI yang melakukan IVF punya probabilitas untuk hamil sampai 99%.”

Gua dan Sarah hanya tersenyum, lalu berpamitan dengan Bu Dokter. Ada rasa bingung dalam diri kami saat kembali duduk dalam mobil. Berpandang-pandangan, tanpa ekspresi. Dalam hati, bersyukur karena ga ada yang salah-salah banget pada diri kami. Namun juga khawatir, karena kata unexplained bisa berarti apa aja.

“Kenapa ya kita susah banget punya anak?” tanya Sarah, memecah keheningan yang sempat menggantung lama.

Gua terdiam, ga bisa langsung menjawab. Kondisi di kepala lagi sama kacaunya dengan situasi jalanan Jakarta di Sabtu siang itu. Ruwet, mumet, dan bertanya-tanya apa yang salah di depan sana. Truk terguling kah, demonstrasi kah, atau ada apa kah. Kenapa semua ga selancar yang kita inginkan?

Semua tumpang tindih dalam kepala. Pertanyaan yang kadang menggerus logika. Permainan apabila yang menimbun tanda tanya. Coba mencari “karena” terbaik pada “kenapa”-nya. Memilah-milah kata yang ingin gua lontarkan agar semuanya terdengar ga seberat seharusnya.

“Ya, mungkin,” gua menelan ludah sebelum bisa meneruskan, “Ya, mungkin ini duri dalam daging-nya kita, Ay.” Continue reading

Menelusuri Keindahan Sulawesi Dengan Trigana Air

Meski belum pernah ke sana, gua meyakini kalo Sulawesi memiliki banyak pesona alam yang sayang jika dilewatkan. Ga salah jika perlahan, wisata di Sulawesi semakin terkenal tak hanya di dalam negeri, tapi juga sampai ke mancanegara.

Meski begitu, destinasi wisatanya belum sebanyak Bali. Namun beberapa di antaranya udah jadi salah satu tujuan impain para traveler dunia, seperti Bunaken, Wakatobi dan Toraja.

Ada beberapa maskapai yang memiliki rute ke tempat ini, salah satunya adalah Trigana Air. Berbasis di bandara Soekarno Hatta, Trigana Air melayani ke 20 destinasi di nusantara. Bahkan, Trigana melayani rute ke Papua dengan harga terjangkau. Dengan Slogannya “We Serve You Here, There, and Everywhere”. Maskapai milik swasta ini menjanjikan pelayanan yang maksimal untuk penumpangnya di semua rute.

Trigana pun mempermudah kalian yang ingin berlibur ke Sulawesi dengan menyediakan rute penerbangan ke sana. Dan sebagai pertimbangan, berikut beberapa spot wisata Sulawesi berskala internasional yang bisa kalian kunjungi.

Menyelam dan Nikmati Surga Bawah Laut Taman Nasional Wakatobi

sulawesi1

Indonesia memiliki banyak Taman Nasional, salah satunya adalah Wakatobi. Banyak penyelam yang menyebutnya Surga bawah laut. Bahkan sebuah ekspedisi dari Inggris pun dilakukan untuk meneliti jumlah spesies terumbu karang di Wakatobi. Dan hasilnya adalah 750 dari 850 jenis spesies di dunia ada di Taman Nasional Wakatobi ini. Negeri ini kaya luar biasa bukan? Continue reading

Oh No Shanghai Metro

Kereta adalah moda transportasi favorit gua saat berkelana di negera orang. Jika ada, maka kereta lah yang pasti gua pilih untuk wara-wiri selama di kota destinasi. Kalo kereta ga ada, maka pilihan akan bergulir dari bus, taksi, dan pilihan terakhir, ojek gendong.

Begitupun saat gua dan Sarah jalan-jalan ke Shanghai, November tahun lalu. Kami berdua selalu naik kereta selama berada di kota terpadat dan tersibuk di Tiongkok itu. Jika di Singapura namanya MRT, Metro adalah nama yang disematkan untuk moda transportasi yang ga akan kena macet itu.

Shanghai Metro adalah rapid transit system dengan rute terpanjang di dunia, yakni sekitar 588 kilometer. Kalo naik go-jek, udah pasti ga dapet promo dan dijamin ga ada driver yang mau ambil. Selain itu, Shanghai Metro berada di peringkat kedua -setelah New York- untuk jumlah stasiun terbanyak dengan 364 stasiun. Shanghai Metro juga berada di peringkat kedua untuk jumlah penumpang dengan total 3 milyar penumpang setiap tahunnya.

Jadi, bisa dibayangin betapa besar dan pentingnya Shanghai Metro bagi warga lokal dan juga bagi turis yang suka berkereta macam gua ini.

Namun pengalaman berkereta gua di Shanghai jauh berbeda dengan kota-kota lain yang pernah gua kunjungin. Gua terkejut-kejut, terkaget-kaget, tercengang, tersentak, terperangah, terperanjat, dan terheran-heran.

Nah di postingan kali ini gua mau cerita beberapa kejadian yang bikin pengalaman berkereta gua di Shanghai jadi catatan tersendiri.

1. It’s time to rumble!

Berbeda 180 derajat dengan Tokyo yang rapih jali saat naik turun penumpang, berkereta di Shanghai bak perang kolosal. Ada beberapa faktor yang membuat perang saat berkereta ini bisa terjadi. Pertama, penumpang yang sedang menunggu kereta, ga mau ngantri. Mereka berjubel di depan pintu, tanpa memberi celah bagi penumpang yang nantinya akan turun dari kereta.

Hal ini berimbas ke faktor berikutnya: mereka ga membiarkan penumpang yang akan turun untuk keluar duluan. Kebayang kan betapa chaos-nya?

Begitu pintu kereta terbuka, genderang perang ditabuh. Penumpang yang akan masuk dan keluar jadi dua kubu yang saling berhadapan. Yang ingin naik, bergegas melangkahkan kaki sesaat pintu terbuka, entah karena didorong orang di belakangnya atau berharap dapat tempat duduk karena perjalanannya yang jauh. Yang ingin turun, menerobos kawanan orang-orang ga sabaran sebelum pintu tertutup dan kelewatan stasiun tujuannya.

Jika dalam gerakan slow motion, proses perpindahan penumpang ini terlihat seperti perang kolosal. Kebayang kan? Continue reading

Ngasong Anak di People’s Park

Kata orang, jodoh ada di tangan Tuhan. Tapi di Shanghai, jodoh ada di tangan Tuhan dan orang-orang tua yang nongkrong di People’s Park.

Shanghai, salah satu kota terbesar dan termodern di Asia, memiliki tradisi yang sangat unik dalam mencari pasangan hidup. Ketika gua dan Sarah traveling ke sana November lalu, kami menjadi saksi dari tradisi unik ini.

Semua bermula ketika seorang teman, yang pernah lama tinggal di Shanghai, menyarankan agar kami memasukkan People’s Park ke dalam itinerary. Awalnya, gua mengira ini hanya taman biasa. Cuma hamparan rumput luas dengan pohon rimbun di kanan kiri. Sebuah pemandangan yang ada dalam taraf “ya oke lah”.

Namun, katanya, ada tradisi menarik yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Sebuah tradisi yang cukup jomplang jika dibandingkan dengan kemajuan infrastruktur kotanya. Tradisinya adalah… menjodohkan anak.

Eits, keunikannya ga hanya berhenti sampai di situ. Karena proses perjodohannya bukan hanya dengan hi-apa-kabar lalu nanya anak-situ-udah-ngebet-kawin-juga-apa-kagak. Tapi si ibu atau bapak kudu ngasong anak mereka, di taman pula. Itu anak apa cangcimen?

Setiap hari Minggu sore, sang ibu atau bapak akan duduk di satu spot dalam taman, lalu majang biodata lengkap si anak. Nama, umur, tinggi badan, kata mutiara, dan mungkin, sampai makes dan mikes. Makanan kesukaan dan minuman kesukaan.

Kertas data diri tadi akan ditempel pada payung yang dijemur di pinggir jalan. Lalu orang-orang tua tersebut akan berjalan berkeliling taman, melihat data diri dari anak-anak lain yang sedang diasong. Mana kala cocok, maka orang tua tersebut akan bertukar nomor handphone untuk membicarakan lebih lanjut tentang hubungan anak mereka..

Epic bukan?

Kalo Ted Mosby orang Shanghai, maka niscaya, serial How I Met Your Mother ga akan sepanjang itu.

Continue reading