Tag Archives: traveloveing

#JalanJapan: Pengalaman Pertama

Selalu ada cerita dari sebuah pengalaman pertama. Begitu pun dengan pengalaman pertama gua menginjakkan kaki di Tokyo, Jepang.

Bulan lalu, kebetulan gua ada rejeki lebih untuk bisa jalan-jalan ke Jepang. Traveling kali ini masih bareng Tirta yang pernah berkelana bareng gua juga ke Filipina akhir tahun lalu. Rencananya kami akan berkunjung ke 5 kota selama 7 hari. Ekspres banget.

Bicara tentang pengalaman pertama, di postingan kali ini gua akan berbagi salah satu pengalaman pertama paling berkesan selama gua traveling ke Tokyo. Yaitu, pengalaman pertama boker di Jepang.

Iya, iya. Ini cerita tentang gua buang hajat di negara orang.

Awalnya gua sempet parno dengan toilet-toilet Jepang. Gua curiga toilet di Jepang ini berjenis toilet kering, toilet yang ketika mau cebok cuma dikasih tisu. Toilet jenis ini selalu membuat gua berpikir, “Kok cuma dikasi tisu? Ini mau cebok apa mau nangis?”

Sebagai orang Indonesia, gua paling ga bisa berhadapan dengan toilet model begini. Gua lebih suka toilet basah yang menyediakan air untuk membasuh bokong yang telah selesai menunaikan tugas. Toilet basah membuat gua lebih leluasa dan jauh dari rasa khawatir. Memang, kadang toilet basah mirip-mirip sama cicilan bunga 0%.

Untungnya, kecurigaan gua salah. Toilet Jepang ga berjenis toilet kering. Itu terbukti saat gua boker di bandara internasional Haneda.

Penerbangan yang memakan waktu 7 jam sukses bikin perut gua mules ga karuan. Menahan hasrat untuk buang hajat selama beberapa jam membuat pramugari yang bohai jadi terlihat seperti demit. Boker di pesawat jelas ga gua lakukan karena ga pewe. Dengan tubuh yang besar dan ukuran toilet yang minimalis, mobilisasi gua saat ngeden bisa terganggu. Meski gua naik Air Asia X yang memiliki badan ekstra panjang, tapi toilet di pesawat ini berjenis Y. Y U NO GEDEIN TOILETNYA?

Makanya, begitu turun dari pesawat, gua langsung ngibrit. Ngebut nyari toilet terdekat. Sepuluh menit setelah kaki menginjak tanah Jepang, pantat gua udah ga sabar mau ikutan eksis. Dia mau boker di Tokyo.

Begitu sampai di area terminal, jauh sebelum masuk imigrasi, gua berhasil menemukan toilet. Perasaan gua bahagia banget, mungkin sebahagia Alexander Graham Bell waktu menemukan telepon. Buru-buru gua melangkah masuk ke dalam ruang yang berlogo manusia biru tanpa rok yang sedang berdiri.

Kesan pertama gua terhadap toilet Haneda: bersih banget! Continue reading

Advertisements

Sendal Jepit Hitam

Setiap kali traveling, gua pasti pake sendal jepit yang sama. Sendal jepit warna hitam yang gua beli sekitar tahun 2009. Ga cuma waktu traveling, sendal ini udah gua pake mirip lagu “Tak Gendong”-nya Alm. Mbah Surip. Ke mana-mana. Waktu main ke mall, saat kebanjiran, bahkan untuk pacaran. Ke mana-mana.

Sendalnya sendal jepit biasa. Bukan sendal ergonomi yang mahal-mahal gitu. Harganya cuma 40ribu rupiah. Sendal karet biasa namun rasanya nyaman banget di kaki. Mungkin karena udah butut, jadi alasnya udah ngikutin bentuk kaki gua. Ergonomi dengan sendirinya.

Bagi yang udah baca Trave(love)ing, mungkin masih inget dengan sendal jepit ini. Ada satu bagian di mana sendal jepit hitam butut jalan-jalan sama sepatu teplek warna merah muda di taman. Adegan ini bahkan pernah dibuatkan film pendek-nya sama Oldeboi (terima kasih!). Buat yang belum pernah baca novelnya, ini dia petikannya:

Dulu, kaki ini sering berjalan berdampingan dengan dia. Nonton, makan, atau sekedar jalan tanpa tujuan.

“Kita mau ke mana?” tanya gue waktu itu.
“Terserah. Yang penting sama kamu,” jawabnya sambil tersenyum manis.

Di hari itu, akhirnya kita hanya berjalan kaki. Hanya itu. Terdiam dan berjalan. Namun rasanya seperti sudah berbincang lama dan terpuaskan. Gue masih ingat dengan jelas. Hari itu, gua memakai sendal jepit butut warna hitam, sementara ia mengenakan sepatu teplek merah muda. Di bangku taman, kita beristirahat.

Sambil melekatkan kaki kanannya ke kaki kiri gue, ia bilang, “Sepatu sayang sendal.”

Sambil tersenyum, gue pun membalas, “Sendal sayang sepatu.”

Sekarang, kaki yang sama sedang berada ratusan kilometer jauhnya. Saat ini, kita terpisah, dan berbeda. Gue sibuk memperbaiki hati, sementara dia sedang menikmati cinta yang baru. Karena itu, kita harus terpisah.

Separasi, untuk reparasi pada hati.

Selain ke Singapura dan Kuala Lumpur dalam rangka move on itu, sendal jepit ini juga gua pake saat #JalanJalanKemiskinan edisi Belitung, #1DayInBangkok, serta outing kantor ke Kuala Lumpur (lagi). Yang terakhir, sendal itu gua pake waktu #PinoyTrip Desember kemarin. Di sebuah malam saat #PinoyTrip lah, ada sebuah cerita tentang si sendal jepit hitam.

Di malam kedua, saat gua lagi duduk santai di cafe, sendal jepit itu… Continue reading

2013!

HAPPY NEW YEAR!

kembang api!

Tahun 2012 adalah tahun yang sangat mengesankan bagi gua. Banyak teman, pengalaman, serta pembelajaran baru di tahun kemarin.

Tahun 2012 menjadi tahun paling produktif berkarya sejauh ini. 3 buku berhasil gua tuntaskan; Trave(love)ing, Kasih Tau Gak Yaa?, dan Rasa Cinta. Sebuah novela perjalanan, buku semibiografi, dan kumpulan tulisan bersama teman-teman penggiat Twitter. Banyak hal baru yang bisa gua pelajari saat menulis 3 buku yang berbeda jenis itu. Sebuah pengalaman yang baru nan seru.

Di tahun yang sama dapat kesempatan untuk berkenalan lebih jauh dengan teman-teman yang bergerak di dunia sosial media. Dapat penghasilan tambahan dari hobi ngetwit yang akhirnya memberanikan gua untuk membeli sebuah barang yang sudah lama gua cita-citakan: cajon. Sebuah langkah awal untuk menyeriusi hobi bermusik gua.

2012 juga menjadi tahun traveling paling banyak. Tercatat #JalanJalanKemiskinan edisi Jogja (Maret), outing kantor ke Kuala Lumpur (September), #1DayInBangkok (Oktober), dan #PinoyTrip (Desember). Belum ditambah dengan #RasaCintaKeBandung dan “#Traveloveing and friends ke Bandung”. Masing-masing ada cerita serunya sendiri.

I think 2012 is one of my best years. But I believe there’s still more to come.

2012 berlalu, datanglah 2013. Continue reading

Trave(love)ing 2 Begins!

Akhirnya!

Gua udah mendapatkan 3 orang yang akan menulis Trave(love)ing 2! Tanpa panjang lebar lagi, ini dia para penulisnya!

1. Tirta Prayudha

Atau lebih dikenal dengan nickname Romeo Gadungan. Blogger aktif yang tulisannya udah berhasil membuat pembacanya ngikik. Termasuk gua. Ga cuma handal dalam bikin orang ketawa, Tirta juga bisa menaruh perasaan di tulisannya. Itu terbukti di postingan berjudul ‘Dompet’ yang sampai saat ini menjadi salah satu postingan blog favorit gua sepanjang tahun 2012.

2. Eliysha Saputra

Waktu melakukan perjalanan galaunya, Eliysha berkomunikasi secara intensif dengan gua. Ketika project Trave(love)ing 2 ini bergulir namanya lah yang pertama melintas di kepala. Gua sudah mengenal Eliysha dari jaman blog masih jaya dan kemampuannya untuk menulis ga gua ragukan lagi. Tulisan-tulisannya yang sangat muda dan girly bisa jadi warna tersendiri di Trave(love)ing 2.

3. Diar Trihastuti

Jatuh cinta dengan tulisan Diar di beberapa cerpen yang sempat ia kirimkan. “Sangat cewe”, itu kesan pertama yang gua dapat. Diar dan gua sempat galau bersama meski untuk alasan yang berbeda. Serunya, Diar juga traveling untuk menyelesaikan keresahan batinnya. Berdasarkan kedekatan itulah, gua ga ragu untuk mengajak Diar di jilid kedua ini.
Continue reading

Wawancaur: Trave(love)ing

Masih terkait dengan post sebelumnya dan dalam rangka menunggu hasil pencarian bibit-bibit baru penulis Trave(love)ing 2, maka gua akan mewawancarai para penulis Trav(love)ing jilid pertama. Karena wawancaranya awur-awuran, maka kita sebut aja prosesi ini dengan nama wawancaur. Gua di sini akan berperan sebagai wartawan dari majalah papan atas, sebut saja majalah Populor. Sementara Dendi, Grahita, dan Mia akan berperan sebagai dirinya sendiri.

Proses wawancaur ini benar-benar dilakukan via grup WhatsApp. Saat wawancaur ini dilakukan, Roy (R) sedang menunggu macet terurai seperti yang dijanjikan Foke dahulu kala, Dendi (D) masih di kantor bekerja bersama setan nona Belanda, Grahita (G) lagi di perjalanan pulang bertemu kucing-kucing peliharannya, dan Mia (M) sedang makan bersama ehem-ehem. Untuk mempermudah ngata-ngatain Mia ke depannya, kita sebut saja ehem-ehem itu sebagai koper.

Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar di bawah diambil dari sini. Terima kasih, Dani.

traveloveing

R: Hai, hai. Kita langsung mulai aja ya wawancaur-nya. Cerita dikit dong, gimana awal mula Trave(love)ing ini?

G: Awalnya kita berempat suka main #rhyme di Twitter. Thanks to that hashtag, kita jadi kenal satu sama lain. Terus suatu hari, Mia ngepost semacam note perjalanannya ke Dubai. Dendi jauh hari sebelumnya pernah membuat kisah The Nekad Traveler. Berawal dari sanalah, Roy kayaknya tiba-tiba kerasukan arwah ide. Dia menghubungi kami bertiga dan… voila! Jadi deh.

R: Oh jadi ini berawal dari main Twitter ya. Selain mempertemukan kalian, peran Twitter apa lagi di buku Trave(love)ing ini?

D: Peran Twitter besar banget, karena kami berempat itu #TwitterOD. Semua promosi kebanyakan dilakuin lewat Twitter.

M: Berperan banget terutama untuk mengakrabkan kami berempat.

R: Kembali ke Trave(love)ing. Tokohnya kan menggunakan nama-nama asli tuh. Apakah ceritanya asli juga?

D: Kami lebih sreg menyebutnya novel yang inspired by true story. Karena untuk kepentingan buku, ga semuanya benar-benar terjadi. Ya karena ini memang bukan personal literature.

G: Mia, mana Mia…

R: Bedanya antara based on sama inspired by apa sih?

M: Gue lagi makan sama salah satu tokoh di buku Trave(love)ing. Maaf ya.

D: Bedanya kalo based on itu bener-bener kejadian kemudian diceritakan ulang dengan sangat persis. Kalo inspired by cerita yang terjadi bisa saja agak berbeda dengan yang ditulis tapi tanpa mengurangi esensi ceritanya. Ini sih in my sotoy opinion.

R: Apa kalian ga merasa risih menceritakan pengalaman pribadi ke publik?

G: Awalnya sih cuek-cuek aja, tapi lama-lama risih juga kalo orang-orang mulai kepo ini itu.

D: Gue sih lebih risih kalo disuruh pake rok mini di pinggir jalan.

M: Asik-asik aja.

R: Memang pembaca pada kepo? Bagian yang mana? Continue reading