Tag Archives: uang

Selalu Punya Pilihan

Waktu kecil, rasanya pengen cepet gede biar tau apa itu jatuh cinta. Saat mulai ngerasain cinta monyet, penasaran gimana rasanya pacaran yang serius. Waktu udah ketemu pacar yang mau diajak serius, ngebet banget pengen kawin.

Setiap langkah di fase tadi bak kotak misterius buat gua. Kotak yang baru belum tentu lebih baik dari yang lama, meski yang dulu pasti akan lewat masanya dan seperti memaksa kita untuk membuka kotak yang baru. Kotak yang ada di depan mata, yang begitu menggoda untuk dibuka.

Khususnya, kotak menikah.

kotak

Rasa gembira, gelisah, khawatir, semua campur aduk jadi satu saat gua dihadapkan dengan kotak menikah. Gembira karena gua akan membuka lembaran baru dari buku kehidupan ini. Gelisah karena lembaran-lembaran baru yang gua buka tadi belum tentu sebaik lembaran sebelumnya. Dan tentunya, ada rasa khawatir yang datang hanya karena satu kata. Biaya.

Nikah itu ga murah, bro.

Sebagai suami, gua diberikan tanggung jawab untuk menghidupi satu manusia. Menurut gua, itu sebuah tugas mulia dan berat di saat yang bersamaan.

Pendapatan bulanan yang biasanya ada sisa buat beli pulau (cailah, Roy), kini harus dialokasikan untuk kebutuhan bersama. Yang dulu ada jatah untuk makan-makan ganteng di malam minggu, berubah jadi dana untuk beli beras dan minyak. Yang sebelumnya uang untuk beli pengharum badan, jadi budget untuk pengharum ruangan dan kamper kamar mandi.

Bahkan nikah udah bikin pusing sejak kita ingin masuk ke dalam jenjang tersebut. Karena resepsi nikah itu juga ga murah, bro.

Contohnya, resepsi nikah gua kemarin yang menguras tabungan gua dan Sarah. Ibaratnya, kalo kami ga menerima angpao yang cukup, bisa dipastikan besoknya kami makan nasi aking dan anak kami nantinya jadi pelacur.

Continue reading

Advertisements

#JalanJapan: 3 Cara Traveling Hemat ke Jepang

Awal November kemarin, gua, Tirta, dan Siti melakukan #JalanJapan selama 7 hari. Total pengeluaran gua selama di sana sekitar 4.1 juta atau kurang lebih 600 ribu per harinya. Ini udah termasuk makan, jajan, penginapan, dan beberapa transportasi (di luar oleh-oleh).

Menurut gua, jumlah di atas tadi masih under budget. Karena dari yang gua pernah denger dan baca, biaya hidup di Jepang bisa mencapai 1 juta per harinya. Tapi total biaya hidup selama
7 hari gua kemarin itu hanya setengahnya lebih dikit. Empat jutaan. Nominalnya mirip dengan 7 kali malam mingguan anak Jakarta. Jadi, sepulang dari sana, skip aja 7 kali malam minggu biar bisa balik modal. Untuk para jomblo, tentu hal ini bukanlah suatu masalah. Laptop dan lotion cukup untuk mengisi sepinya malam. Namun untuk yang pacaran, tinggal mengganti nongkrong di mall dengan duduk-duduk manis di sofa ruang tamu sambil nyemil chiki bareng pacar. Meski menggunakan laptop dan lotion juga bukan suatu pantangan.

Nah, di postingan kali ini gua mau ngasih kiat-kiat gimana berhemat selama traveling di Jepang. Tiga kiat di bawah ini udah gua coba sendiri selama di sana. Maklum, namanya juga pelancong kere.

Semoga tips-tips ini bisa bermanfaat buat kalian yang lagi bersiap traveling ke negara Sakura ini. Dan seperti yang biasa gua tulis tiap bikin postingan model begini, anggap aja kiat-kiat di bawah ini sebagai sumbangsih gua buat bangsa dan negara.

Auwo.

1. Bento, Bento, Bento! Asik!

Siapa yang membaca kalimat di atas dengan nada lagu Iwan Fals? Anyone? Anyone? No?

So, anywaaay, kata temen gua yang pernah ke sana, biaya sekali makan (plus minum) selama di Jepang itu sebesar 1,000 yen, atau sekitar 100 ribu rupiah. Jumlah yang sama akhirnya gua tulis di budget plan dan itinerary. Namun kenyataannya berkata lain. Gua bisa menghemat 50% lebih dari budget makan.

Semua berkat frozen bento!

Frozen bento adalah nasi kotak yang disajikan lengkap dengan lauk dan sayur. Biasanya, bento-bento dingin kayak gini bisa kita temuin di minimarket-minimarket kesayangan kita semua: Lawson, Seven Eleven, atau Family Mart. Tapi abis beli bento, jangan jongkok depan Lawson sambil berdebat apa warna langit. Di sana, Lawson dan teman-temannya itu minimarket, bukan tempat nongkrong.

Karena ini frozen (sebenernya ga beku kok, cuma dingin aja), jangan lupa untuk minta diangetin dulu. Bilangnya gimana? Gampang! Petugas minimarket di sana memang ga lazim berbahasa Inggris, jadi langsung tunjuk-tunjuk aja microwave yang biasanya ga jauh dari mesin kasir.

Harga frozen bento di 3 minimarket ini berkisar di antara 350-500 yen, atau sekitar 35-50 ribu. Apa? Masih kurang murah?

Kalo budget sekali makan lu cuma di angka 300 yen, belilah frozen bento di tempat-tempat berikut: Daily-in atau Heart-in. Dua nama tadi bukan minimarket, tapi kios-kios yang tersebar hampir di seluruh stasiun besar di kota-kota utama Jepang. Dengan menu dan rasa yang hampir mirip, kita bisa dapet frozen bento dengan harga 250-300 yen doang!

Bener kata Iwan Fals. Ternyata bento itu… asik!

Continue reading

7 Barang yang Jangan Diselipin di dalam Lemari

Gimana judul di atas? Udah kayak acara-acara yang courtesy of Youtube belom?

Anyway,

Gua percaya lemari itu merupakan tempat persembunyian favorit. Selain karena emang dicap sebagai tempat pribadi, lemari juga punya banyak celah untuk ngumpetin barang-barang pribadi yang ga ingin diungkap ke publik. Bisa diumpetin di laci, diselip di antara tumpukan baju, atau disembunyiin di ruangan rahasia dalam lemari.

Nah, di postingan kali ini, gua akan berbagi tentang hal-hal yang sebaiknya jangan diselipin di lemari. Gua ulang ya, hal-hal yang sebaiknya JANGAN diselipin di lemari. Dan seperti setiap kali gua memberi tips model begini, maka gua akan mengklaim bahwa ini adalah bentuk sumbangsih gua buat negara. Hiduplah Indonesia Raya.

Auwo

1. DVD-nya sih boleh

Seorang pria normal pasti memiliki fase sebagai berikut: bayi – balita – anak nakal – ngebokep – remaja – ngebokep banget – dewasa – akhirnya bisa ngebokep secara legal dengan objek peraga – tua. Maka udah seyogyanya, seorang pria normal pernah ngumpetin DVD bokep di antara tumpukan baju.

Anak jaman sekarang sih lebih asik ya. Bokep bisa disimpen dalam flashdisk kecil yang ketika diselipin, bakal sulit dicari. Lah anak jaman dulu gimana coba? Ya masa ngumpetin laser disc yang segede gaban di tumpukan kolor? Apalagi yang sempet ngalamin video betamax! Susah bener itu ngumpetinnya!

CD, DVD, atau hard disk bokep sih boleh aja diumpetin di antara tumpukan baju. Yang jangan diselipin itu bintang bokep-nya. Kecuali sang bintang bokep gemar yoga dan bisa melipat diri untuk menyesuaikan bentuk tubuh dengan wadah.

Belum lagi nanti Mama bakal nanya kenapa kita suka bawa nasi lebih ke dalam kamar dan taro di depan lemari. Dikiranya kita miara kucing kampung. Mendingan jangan deh.

2. Cadangan

Salah satu kebiasaan gua adalah menaruh kunci cadangan di laci lemari. Biasanya, semua kunci-kunci itu gua gabungin dalam satu bandulan. Bisa cadangan kunci mobil, cadangan kunci rumah, atau cadangan dari cadangan kunci lemari itu sendiri. Cadangan-ception.

Tujuannya ya biar kalo hilang atau ketinggalan bisa ditanggulangi dengan segera. Namun ga boleh ada yang tau. Karena kalo ilang bisa berabe banget. Pencurinya bisa mengakses ke seluruh ruang pribadi. Makanya mesti disembunyiin serapat mungkin.

Meski berbau-bau cadangan juga, kita jangan pernah, sekali lagi gua ulangi, jangan pernah nyelipin Fernando Torres!

Iya, gua tau, dia sering duduk di bangku cadangan Chelsea. Tapi bukan berarti dia boleh kita selipin di antara kolor. Ntar kalo pelatihnya nyariin gimana? Kita mesti bilang apa coba?

“Maaf, Pak. Penyerang yang Anda cari sedang berada di luar jangkauan, di luar service area, atau di luar kemampuan terbaiknya. Cobalah untuk mencari beberapa saat lagi”. Gitu? 

you mad, bro?

You mad, Bro? Continue reading