Tag Archives: wedding

Perkara Resepsi yang Niatnya Ga Gitu-Gitu Aja

Dari dulu, gua selalu beranggapan resepsi nikahan ya gitu-gitu aja. Undangan bunga-bunga, dekor warna-warni, antrian siomay yang menggila, dan pakaian keluarga yang senada. Datang ke puluhan bahkan ratusan nikahan dengan penampakan yang serupa membentuk persepsi gua. Bahwa resepsi yang baik, ya yang seperti itu.

Yang gitu-gitu aja.

Namun untungnya, gua ketemu dengan pasangan yang mampu menggelitik kotak imajinasi dalam otak gua. Semua ide nakal nan binal melompat-lompat kegirangan saat tau bahwa si pacar sangat terbuka untuk segala jenis kemungkinan dalam menyiapkan sebuah resepsi pernikahan.

Setelah melakukan photo prewedding dengan tidak menunjuk langit, gua dan si pacar nekad untuk menggunakan konsep yang berbeda pada resepsi pernikahan kami.

Well, konsepnya ga se-ekstrim nikah sambil jalan di atas bara api atau menyediakan makanan berupa daging babi rusa buruan cromagnon. Tapi kami mencoba sedikit berbeda agar bisa memuaskan hasrat imajinasi kami berdua.

Konsep yang kami pilih sederhana. Sama seperti konsep prewedding photoshot, kami memilih film Up. Saking cintanya sama film ini, gua berhasil membujuk si pacar untuk menggunakan film Up sebagai tema besar resepsi kami nanti.

Sampai sini, mungkin banyak yang bertanya-tanya, “orang tua marah ga tuh?”, atau “mahal ga sih?”. Jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah “ga kok”. Itu karena ornamen resepsi yang disesuaikan ga macem-macem banget. Sepertinya masih dalam koridor pemakluman orang tua, dan masih dalam budget yang telah gua tetapkan. Yang gua dan si pacar sesuaikan hanya aspek-aspek kecil. Aspek-aspek yang mungkin aja ga disadari oleh orang-orang yang bukan penikmat film atau pecinta Disney.

Nah, di postingan kali ini gua mau cerita beberapa ornamen resepsi yang sedikit kami bedakan dari resepsi kebanyakan agar bisa sesuai dengan konsep film Up. Semoga postingan ini bisa mengasah ide binal kalian. Selain itu, lewat postingan ini gua juga ingin berbagi semangat bahwa kita bisa kok bikin resepsi yang sesuai dengan imajinasi kita.

So, here we go.

1. Undangan

Let’s start with the invitation. Undangan jadi salah satu ornamen resepsi yang paling gampang untuk disesuaikan dengan konsep gua dan si pacar. Dari awal, kami memang ga mau design undangan dengan bunga-bunga atau ukiran-ukiran yang banyak ditemukan di resepsi orang lain.

Kami mau beda.

Maka, kami men-design undangan berbentuk tiket nonton pertunjukan teater. Iya, kayak tiket nonton bioskop. Lengkap dengan waktu, lokasi (teater), dan judul acara (film). Lalu di mana unsur film Up-nya?

Di bagian paling atas tiket, ada tulisan “adventure is out there”, sebuah jargon yang menjadi pembuka dari film Up. Seperti halnya pada film, kami ingin jargon itu menjadi pembuka atau sambutan bagi mereka yang menerima undangan kami. Selain itu, di bagian kiri bawah, ada icon film Up: dua sofa milik Carl & Ellie.

Undangan ini di-design dengan ciamik oleh temen designer yang memang udah sering men-design undangan nikah. Namanya Jennifer Widjaja. Kalo berminat bikin undangan yang unik, kalian bisa contact dia di jenny.widjaja@yahoo.com.

Continue reading

Advertisements

Tanggal Baik

kata sarah

Lahir dari keluarga Chinese, bikin gue dan Roy nggak bisa tutup mata terhadap rentang umur pasangan. Dalam kepercayaan Cina kuno, perbedaan umur sering jadi pertimbangan dalam menentukan pasangan hidup.

Konon katanya, pasangan dengan jarak umur 4 tahun adalah yang paling ideal. Empat tahun diibaratkan sebagai empat kaki meja yang akan berdiri kuat dan kokoh. Harapannya, pernikahan pasangan dengan jarak umur 4 bisa sekuat dan sekokoh meja.

Sedangkan pasangan yang berbeda umur 3 tahun dan 6 tahun harus dihindari. Karena jarak ini mengundang ketidakcocokan (atau disebut ciong). Tiga tahun artinya ciong kecil, sedangkan 6 tahun artinya ciong besar. Dan selisih umur gua dan Roy… tepat 6 tahun.

Actually, gue dan Roy nggak percaya sih sama takhayul macem itu. Lha wong yang bedanya empat tahun banyak yang cerai juga kan?

Tapi kan, kalo bisa main aman, kenapa enggak? Toh kami nggak nyari tanggal baik. Menurut himbauan orang tua, kami cuma musti menghindari bulan buruk, yang mana udah berakhir beberapa hari sebelum ulang tahun gue di tahun depan. Dengan kata lain, nikahnya mah kapan aja bebas, asal nggak di dalem area bulan buruk itu.

Jadilah gue mengusulkan sebuah tanggal di antara ulang tahun gue dan Roy. Tujuannya tentu saja ngakalin perbedaan umur tadi. Karena kalo gue udah ulang tahun dan Roy belum, otomatis selisih umur kami jadi… LIMA TAHUN!

Pinter kan?

Enggak.

Iiih!

Anyway, palu akhirnya diketuk. Ultah gue 24 Agustus, sedangkan ultah Roy 14 September. Kami berdua dan keluarga udah sepakat resepsi akan digelar di tanggal 5 September. Letaknya bener-bener persis di tengah. Tanpa ragu, kami booking gedung tanggal segitu, lalu bayar DP sebagai tanda jadi.

calendar1

Namun, beberapa hari kemudian, tiba-tiba kami berdua dapet kabar kalo tanggal 5 September 2015 itu masih termasuk bulan Cit Gwee.

Cit Gwee itu apa sih?

Continue reading