Tag Archives: wirausaha

Jawaban Bokap Pagi Itu

Banyak yang ga tau, kalo gua adalah satu-satunya di keluarga yang memilih untuk menjadi seorang pegawai kantoran. Bukan, bukan, yang lain bukan meniti karier sebagai superhero. Tapi bokap, nyokap, dan kakak gua adalah seorang wirausahawan.

Nyokap punya usaha jahit kecil-kecilan yang mengkhususkan diri di pakaian pesta pernikahan. Mulai dari pesta pernikahan modern sampai yang tradisional, bisa nyokap kerjain semua. Yang ga bisa cuma pesta narkoba aja kayaknya.

Setali tiga uang dengan nyokap, kakak gua juga berwirausaha. Dia seorang pedagang pakaian yang dijajakan dari bazzar ke bazzar. Pakaian yang dijual bervariasi, mulai dari baju anak sampai baju remaja perempuan kayak cardigan atau oversized blouse.

Bokap gua apalagi. Udah 40 tahun lebih bokap mendedikasikan diri sebagai pedagang di salah satu pusat perbelanjaan tradisional di Jakarta Timur. Barang yang bokap jajakan ga jauh-jauh dari sarung, kain batik, seprai, dan kain-kain lainnya. Yang ga dijual kayaknya cuma kain help falling in love with you.

guys? Ini ceritanya baru mulai ini. Kok udah nyetopin bajaj gitu? Guys?

Anyway, kesimpulannya, gua adalah satu-satunya di keluarga yang bekerja di belakang meja, di dalam taman cubicle. Gua satu-satunya yang terima slip gaji di setiap akhir bulan. Gua satu-satunya yang masih bisa tiduran di hari Sabtu, saat bokap, nyokap, dan kakak gua harus bangun pagi untuk membuka usahanya.

Perbedaan ini juga yang selalu jadi pertanyaan kalo gua lagi diwawancara kerja. Setelah tau bahwa keluarga gua kebanyakan jadi pedagang, biasanya mereka akan bertanya, “Kenapa kamu ga mengikuti jejak orang tua dan kakak jadi pedagang?”

“Karena saya…”

“Ya?”

“…berjiwa rebelious.”

Jika wawancaranya dilakukan via Whatsapp, udah pasti gua akan menambahkan emot (‘-‘)9 di akhir kalimat… yang bisa saja dibalas oleh si pewawancara dengan emoticon eek.

Meski berbeda dari keluarga, setidaknya gua masih membawa darah bercanda dari bokap. Pernah suatu hari, bokap cerita bahwa di tokonya ada seorang pembeli yang menanyakan seprai mana yang bisa membuat kasurnya terasa adem dan dingin. Bokap ga langsung menjawab, hening sejenak, malah kemudian bertanya balik.

“Bu,” panggil bokap gua.

“Ya, Pak?”

“Ibu di kamarnya pake AC ga?”

“Belum, Pak.”

“Percuma, Bu. Mau seprai 4 juta juga, kalo ga ada AC mah tetep gerah.”

Jika ini telenovela, mungkin si ibu udah berlari pulang ke rumah, lalu menangis di bawah pancuran.

Continue reading

Advertisements

Membantu Sesama

Dear teman-teman pembaca saputraroy.com,

Siapa di sini yang udah atau baru mulai berwirausaha?

Siapa di sini yang usaha sendiri terus sering bingung karena duit omset kecampur sama duit pribadi? Atau siapa di sini yang usahanya barengan sama temen, terus sempet bersitegang karena ga transparan dan bagi untungnya membingungkan?

Atau ada yang udah menjalankan usaha sekian lama namun kesulitan bikin usahanya lebih besar lagi? Atau usaha kalian sedang tercekik ongkos produksi yang semakin tinggi dan butuh solusi gimana menurunkannya?

Sekarang kalian ga perlu khawatir lagi. Jawaban atas kegelisahan kalian kini udah hadir dan siap mengatasi pertanyaan-pertanyaan di atas. Ijinkan gua untuk menjawabnya lewat cerita seperti ini.

Semua bermula di tahun 2010, saat gua masih bekerja sebagai internal consultant dari sebuah bank swasta, unit kerja yang merupakan jelmaan mini dari kantor konsultan multinasional yang dipekerjakan oleh bank tersebut sebelumnya. Biar gampang ngebayangin, kerjaan unit kerja gua itu kayak dokter. Unit kerja yang “sakit” akan datang dan menceritakan “keluhannya”. Tugas unit kerja gua adalah “menyembuhkan” keluhan tadi.

Di sebuah malam, seorang rekan dari unit kerja yang sama, tiba-tiba mengajukan sebuah ide usaha. Dia membeberkan pemikirannya saat gua dibonceng naik motor olehnya sepulang kerja, nyaris tengah malam. Memang, waktu itu jam pulang ngantor gua udah kayak siaran Liga Champion. Dini hari.

“Gimana ide bisnis gue?”

Waktu itu gua bilang aja idenya menarik namun harus diuji terlebih dahulu ke pasar. Tadinya ingin langsung bilang kurang oke, tapi gua ngeri diturunin di tengah jalan. Mana udah malem, dingin pula. Jadi ada baiknya gua iyain aja dulu idenya. Biar cepet.

Tiap hari temen gua selalu meyakinkan gua tentang idenya. Pelan-pelan, gua pun melihat titik cerah dan mulai yakin juga. Lalu dia mengajak gua dan satu orang teman lagi untuk ngopi bareng dan membahas ide usaha ini lebih lanjut. We talked about how we’ll manage the business, how we’ll work, and the most important thing: how we’ll sell.

Di sebuah sore yang baik, akhirnya kami mengetuk palu.

Continue reading