Menulis Kembali

Seperti yang pernah gua ceritain di sini, sejak tahun 2014 gua memutuskan untuk berhenti berkarya lewat buku.

Hasil yang ga sepadan dengan usaha jadi alasan utama mengapa waktu itu gua enggan menulis buku kembali. Rasanya segala sumber daya yang gua punya lebih layak untuk difokuskan ke hal-hal lain. Hal-hal selain menulis buku.

Bekerja kantoran, mengurus usaha sampingan, membangun keluarga yang harmonis, serta hal-hal lain dalam hidup yang sepertinya lebih pantas untuk gua prioritaskan. Bagi gua, menulis jadi urutan ke sekian dalam beberapa tahun terakhir.

Buktinya terlihat dari blog yang makin jarang di-update. Dulu, sebulan bisa 10 postingan. Nge-blog udah kayak ngapel pacar, seminggu dua kali. Nulis kayak kesurupan. Apa aja bisa jadi bahan postingan. Ngeliat motor ngepot aja jadi ide cerita. Sekarang, sebulan sekali aja udah puji syukur ke hadirat yang Maha Kuasa.

What happened? Life happened.

Kesibukan, kemalasan, keenakan, begitu tumpang tindih. Entah mana alasan utama yang coba gua sodorkan pada hidup. Hanya tumpukan pembenaran kalo gua udah enggan menulis buku.

But life always surprise you when you least expect it.

Di saat gua sedang menikmati rutinitas, hidup membalas alasan gua dengan satu hal. Yang terus mengganggu sejak tahun lalu. Yang mengusik hati hampir setiap hari. Yang lalu kian matang seiring isu sosial yang terus berkembang.

Sebuah hal bernama keresahan.

Continue reading

Pindah

Empat bulan terakhir ini hidup gua gonjang-ganjing.

Sejak akhir tahun lalu, gua dan Sarah harus pandai-pandai mengatur keuangan dan menata kembali ritme hidup. Semua bermula ketika gua memutuskan untuk berpindah kerja. Kantor baru, artinya tantangan baru, lingkungan baru, lokasi gedung yang baru, dan hal-hal baru lainnya.

Semua kayak isi bensin. Dimulai dari nol lagi.

Ga ada lagi wajah-wajah lama yang udah tau kerja gua kayak apa. Ga ada kantin kantor yang gua tau kapan kosongnya. Ga ada lagi rute pulang yang gua tau gimana selanya. Kenapa macet bangetnya, jam berapa agak lenggang, dan kapan gua mesti mulai bangun tenda di lobby kantor.

But I have to start this new journey.

Belajar lagi untuk tau apa yang bos mau. Melatih diri ngadepin bos divisi sebelah yang kalo meeting mukanya asem banget. Mencoba memahami apa hukuman sosial bagi mereka yang suka pulang tenggo. Apakah dicambuk, diarak massa, atau diminta baca komen detik.com satu per satu?

Ketika gua mulai menemukan pace di kantor yang baru, semesta berkehendak lain. Di bulan Maret kemarin, gua memutuskan untuk berpindah kantor lagi. Yes, I changed job in 3 months time. Didorong oleh ketidaknyamanan dan diajak oleh atasan yang lama untuk bekerja sama kembali, membuat gua mengiyakan tawaran berpindah dengan lumayan cepat.

Penyesuaian yang satu belum selesai, mulai lagi penyesuaian baru.

Pekerjaan baru, bisa dipelajari. Teman baru, dapat dicari. Yang paling membuat gua pusing dengan perpindahan-perpindahan ini adalah rute transportasi yang harus gua tempuh setiap hari.

Masih dengan semangat #YukNgangkotYuk, gua tetap memutuskan untuk ga bawa mobil ke kantor. Rasanya jalanan Jakarta udah cukup penuh untuk ditambah satu mobil lagi. Demi kewarasan, gua memilih untuk naik kendaraan umum atau transportasi online. Menghindari macet yang sering terlihat bak parkir massal di jalan raya.

Apalagi lokasi kantor gua yang sekarang terletak di salah satu lubang neraka Jakarta. Jalan Doktor Satrio. Yes, that so called segitiga emas Doktor Satrio. Continue reading

Menelusuri Keindahan Sulawesi Dengan Trigana Air

Meski belum pernah ke sana, gua meyakini kalo Sulawesi memiliki banyak pesona alam yang sayang jika dilewatkan. Ga salah jika perlahan, wisata di Sulawesi semakin terkenal tak hanya di dalam negeri, tapi juga sampai ke mancanegara.

Meski begitu, destinasi wisatanya belum sebanyak Bali. Namun beberapa di antaranya udah jadi salah satu tujuan impain para traveler dunia, seperti Bunaken, Wakatobi dan Toraja.

Ada beberapa maskapai yang memiliki rute ke tempat ini, salah satunya adalah Trigana Air. Berbasis di bandara Soekarno Hatta, Trigana Air melayani ke 20 destinasi di nusantara. Bahkan, Trigana melayani rute ke Papua dengan harga terjangkau. Dengan Slogannya “We Serve You Here, There, and Everywhere”. Maskapai milik swasta ini menjanjikan pelayanan yang maksimal untuk penumpangnya di semua rute.

Trigana pun mempermudah kalian yang ingin berlibur ke Sulawesi dengan menyediakan rute penerbangan ke sana. Dan sebagai pertimbangan, berikut beberapa spot wisata Sulawesi berskala internasional yang bisa kalian kunjungi.

Menyelam dan Nikmati Surga Bawah Laut Taman Nasional Wakatobi

sulawesi1

Indonesia memiliki banyak Taman Nasional, salah satunya adalah Wakatobi. Banyak penyelam yang menyebutnya Surga bawah laut. Bahkan sebuah ekspedisi dari Inggris pun dilakukan untuk meneliti jumlah spesies terumbu karang di Wakatobi. Dan hasilnya adalah 750 dari 850 jenis spesies di dunia ada di Taman Nasional Wakatobi ini. Negeri ini kaya luar biasa bukan? Continue reading

Oh No Shanghai Metro

Kereta adalah moda transportasi favorit gua saat berkelana di negera orang. Jika ada, maka kereta lah yang pasti gua pilih untuk wara-wiri selama di kota destinasi. Kalo kereta ga ada, maka pilihan akan bergulir dari bus, taksi, dan pilihan terakhir, ojek gendong.

Begitupun saat gua dan Sarah jalan-jalan ke Shanghai, November tahun lalu. Kami berdua selalu naik kereta selama berada di kota terpadat dan tersibuk di Tiongkok itu. Jika di Singapura namanya MRT, Metro adalah nama yang disematkan untuk moda transportasi yang ga akan kena macet itu.

Shanghai Metro adalah rapid transit system dengan rute terpanjang di dunia, yakni sekitar 588 kilometer. Kalo naik go-jek, udah pasti ga dapet promo dan dijamin ga ada driver yang mau ambil. Selain itu, Shanghai Metro berada di peringkat kedua -setelah New York- untuk jumlah stasiun terbanyak dengan 364 stasiun. Shanghai Metro juga berada di peringkat kedua untuk jumlah penumpang dengan total 3 milyar penumpang setiap tahunnya.

Jadi, bisa dibayangin betapa besar dan pentingnya Shanghai Metro bagi warga lokal dan juga bagi turis yang suka berkereta macam gua ini.

Namun pengalaman berkereta gua di Shanghai jauh berbeda dengan kota-kota lain yang pernah gua kunjungin. Gua terkejut-kejut, terkaget-kaget, tercengang, tersentak, terperangah, terperanjat, dan terheran-heran.

Nah di postingan kali ini gua mau cerita beberapa kejadian yang bikin pengalaman berkereta gua di Shanghai jadi catatan tersendiri.

1. It’s time to rumble!

Berbeda 180 derajat dengan Tokyo yang rapih jali saat naik turun penumpang, berkereta di Shanghai bak perang kolosal. Ada beberapa faktor yang membuat perang saat berkereta ini bisa terjadi. Pertama, penumpang yang sedang menunggu kereta, ga mau ngantri. Mereka berjubel di depan pintu, tanpa memberi celah bagi penumpang yang nantinya akan turun dari kereta.

Hal ini berimbas ke faktor berikutnya: mereka ga membiarkan penumpang yang akan turun untuk keluar duluan. Kebayang kan betapa chaos-nya?

Begitu pintu kereta terbuka, genderang perang ditabuh. Penumpang yang akan masuk dan keluar jadi dua kubu yang saling berhadapan. Yang ingin naik, bergegas melangkahkan kaki sesaat pintu terbuka, entah karena didorong orang di belakangnya atau berharap dapat tempat duduk karena perjalanannya yang jauh. Yang ingin turun, menerobos kawanan orang-orang ga sabaran sebelum pintu tertutup dan kelewatan stasiun tujuannya.

Jika dalam gerakan slow motion, proses perpindahan penumpang ini terlihat seperti perang kolosal. Kebayang kan? Continue reading

Ngasong Anak di People’s Park

Kata orang, jodoh ada di tangan Tuhan. Tapi di Shanghai, jodoh ada di tangan Tuhan dan orang-orang tua yang nongkrong di People’s Park.

Shanghai, salah satu kota terbesar dan termodern di Asia, memiliki tradisi yang sangat unik dalam mencari pasangan hidup. Ketika gua dan Sarah traveling ke sana November lalu, kami menjadi saksi dari tradisi unik ini.

Semua bermula ketika seorang teman, yang pernah lama tinggal di Shanghai, menyarankan agar kami memasukkan People’s Park ke dalam itinerary. Awalnya, gua mengira ini hanya taman biasa. Cuma hamparan rumput luas dengan pohon rimbun di kanan kiri. Sebuah pemandangan yang ada dalam taraf “ya oke lah”.

Namun, katanya, ada tradisi menarik yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Sebuah tradisi yang cukup jomplang jika dibandingkan dengan kemajuan infrastruktur kotanya. Tradisinya adalah… menjodohkan anak.

Eits, keunikannya ga hanya berhenti sampai di situ. Karena proses perjodohannya bukan hanya dengan hi-apa-kabar lalu nanya anak-situ-udah-ngebet-kawin-juga-apa-kagak. Tapi si ibu atau bapak kudu ngasong anak mereka, di taman pula. Itu anak apa cangcimen?

Setiap hari Minggu sore, sang ibu atau bapak akan duduk di satu spot dalam taman, lalu majang biodata lengkap si anak. Nama, umur, tinggi badan, kata mutiara, dan mungkin, sampai makes dan mikes. Makanan kesukaan dan minuman kesukaan.

Kertas data diri tadi akan ditempel pada payung yang dijemur di pinggir jalan. Lalu orang-orang tua tersebut akan berjalan berkeliling taman, melihat data diri dari anak-anak lain yang sedang diasong. Mana kala cocok, maka orang tua tersebut akan bertukar nomor handphone untuk membicarakan lebih lanjut tentang hubungan anak mereka..

Epic bukan?

Kalo Ted Mosby orang Shanghai, maka niscaya, serial How I Met Your Mother ga akan sepanjang itu. Continue reading