Pesan Lewat OTA Lebih Untung?

Belakangan ini, banyak banget aplikasi yang biasa kita gunakan di ponsel. Tujuannya ya untuk semakin memudahkan kita untuk melakukan apa pun. Iya, apa pun. Kita bisa pesan driver kendaraan secara online, pesan makanan, kirim barang, atau laundry. Sebagai pelancong gadungan, ada dua aplikasi yang rutin gua cek setiap minggunya: tiket pesawat dan sewa hotel melalui OTA (Online Travel Agent).

Coba aja dicek, ada berapa banyak aplikasi sewa hotel yang ada di ponsel lu? Banyak aplikasi sewa hotel bisa kita temukan di Google Playstore (untuk pengguna Android). Makin hari makin banyak aplikasi sewa hotel dengan berbagai gimmick serta keuntungan untuk kita.

Meski begitu, ternyata masih lumayan banyak yang belum mau pesan hotel secara online. Alasannya macem-macem, mulai dari males, ribet, ga ngerti, bingung, atau ada perasaan takut dikibulin. Padahal ada banyak banget keuntungan kalau kita pesan hotel melalui OTA. Kalo kata gua mah, mesti nyoba dulu sekali. Lagian, yang kayak gua bilang di atas, pesan kamar melalui OTA itu lebih menguntungkan.

Nah, di postingan kali ini gua mau jabarin lima alasan kenapa pesan kamar via OTA itu enak. Dan seperti yang biasa gua bilang kalo bikin postingan model begini, semoga postingan ini berguna bagi nusa dan bangsa.

Here we go.

1. Praktis dan Hemat Waktu

Dengan pesan lewat OTA, kita mengehemat waktu cukup banyak. Mencari hotel lewat OTA bisa dilakukan di mana dan kapan aja. Kita bisa browsing sambil makan, bebenah, atau ngupil. Meski dapat membuat layar lengket, browsing hotel via OTA sambil ngupil dipercaya dapat membuat sistem pernapasan lebih lega.

Anyway,

Hal ini beda sama pesan langsung kan? Kalo pesan langsung, kita mesti datang ke hotelnya satu-satu. Udah makan waktu untuk ke sana, keluar uang untuk bayar kendaraan, lalu saat pesan, kadang hotel ga selalu kosong yang akhirnya bikin kita harus cari tempat penginapan lain.

Kalo gitu kan mendingan pesan lewat OTA. Ya ga sih? Praktis. Hemat waktu. Hemat uang juga. Continue reading

Porsi

Salah satu mimpi terbesar gua adalah bisa dikenal lewat karya tulisan. Bermimpi kalo suatu hari gua bisa diwawancara infotainment di televisi dengan pertanyaan, “Memangnya Roy sejak kapan udah suka nulis?”

Jika ditanya demikian, maka jawaban gua adalah, “Sejak SD. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya memang suka mengarang, khususnya saat keadaan tertekan.”

Setiap ada tugas yang mengharuskan gua untuk mengarang cerita, gua bisa minta kertas lebih saat teman yang lain masih berkutat dengan kalimat ‘pada suatu hari’. Bercerita lewat tulisan seperti manifestasi bagi otak bawel gua yang terjebak dalam sikap pemalu.

Iya, gua memang pemalu. Gua lebih banyak terdiam kalo sedang dalam keramaian. Pun jika menjadi pusat perhatian, gua bisa menjadi sangat ga nyaman dengan diri gua sendiri. Menulis jadi seperti terapi buat otak gua yang penuh akan kata-kata yang ga sempat dilontarkan lewat percakapan.

So I thought at that time, writing would fit for me just well. I told to myself that writing was meant for me.

Kegemaran gua akan menulis berlanjut sampai ke jenjang SMA. Gua sempat menulis cerita bersambung tentang Josh, seorang anak band SMA yang ganteng dan istiqomah. Cerita ini digandrungi oleh teman sekelas gua yang selalu menagih seri berikutnya. Dukungan dan dorongan ini yang terus membuat gua melaju di jalan ini.

Begitupun saat kuliah. Gua masih rutin berbagi cerita lewat mailing list teman-teman seangkatan. Cerita keseharian gua yang dibalut komedi jadi santapan renyah yang banyak ditunggu. Dan di saat kuliah ini pula gua berkenalan dengan novel-novel Indonesia yang gua jadikan referensi serta acuan saat menulis.

Mimpi dikenal lewat karya terus gua pupuk. Disuburkan dengan latihan dan referensi yang semakin banyak di pasaran.

Hal ini juga dipicu oleh semakin banyak lahirnya penerbit baru. Gua pun melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang udah lama tertanam. Di tahun 2008, gua nekad mengajukan naskah berjudul “Kancut” ke sebuah penerbit. Long story short, naskah itu rilis dengan judul “The Maling of Kolor” di tahun yang sama.

Waktu buku itu rilis, gua seneng banget. Rasanya pengen gua ngabarin ke seluruh dunia kalo buku gua udah terbit. Gua semangat abis. Karena sepertinya gua berada dalam jalan yang tepat untuk menggapai mimpi gua dulu. Jawaban ‘saya-menulis-sejak-SD’ kini seperti makin dekat untuk diucapkan.

Continue reading

Halloween Horror Nights 6: Berani?

Tahun lalu, sekitar 2 minggu sebelum hari resepsi pernikahan, gua dan Sarah dapet rejeki diundang ke Halloween Horror Night 5 (HHN) di Resort World Sentosa, Singapura.

Di tengah pusingnya nyiapin resepsi, gua dan Sarah memutuskan untuk ikut dalam rombongan media Indonesia. Kami bertugas untuk meliput dan menceritakan pengalaman bermain-main di acara Halloween yang udah menangin banyak penghargaan di Asia Tenggara ini.

Kalo kalian pernah mampir ke HHN, pasti ga akan heran kenapa HHN terus ada sampai edisi ke-enamnya di tahun 2016 ini. Itu karena penggarapannya yang super serius dengan tema yang selalu berbeda setiap tahunnya.

Di tahun 2016 ini, tim Resort World Sentosa masih mengangkat urban legend biar dekat dengan penduduk lokal. Di lain sisi, juga menyodorkan cerita horor yang mendunia agar menarik minat turis internasional. Sebagai bukti, di beberapa tahun sebelumnya, sempat ada cerita tentang Kuntilanak. Setan tipe ini tentu familiar buat kita, warga Indonesia yang taat lapor pajak dan yang suka bilang permisi kalo lewat kuburan.

HHN 5 kemarin adalah pengalaman pertama gua ikut event ini. Waktu mendapat undangannya, gua awalnya khawatir. Gua khawatir bakal mencret di tengah wahana yang bisa menganggu kenyamanan pengunjung lain. Biarlah objek lembek yang mengusik perasaan pengunjung hanyalah yang tertempel dalam komestik para karakternya, bukan yang keluar dari celana tanpa aba-aba.

Karena sesungguhnya, horor dan gua bukanlah dua kata yang biasa berdampingan dengan tentram. Sebagai orang yang gampang kaget, masuk ke wahana rumah hantu baru akan gua pilih kalo opsi lainnya adalah jogging santai bareng hyena.

Namun didorong rasa penasaran yang kuat, gua akhirnya mengiyakan undangan itu.

Melewati 3 haunted house dan 2 scare zone, gua kembali ke hotel dengan frekuensi mengeluarkan keringat yang lebih banyak daripada kegigit rawit dalem lontong. Jantung yang berdetak kencang, rahang yang lelah berteriak, namun senyum yang terus mengembang. Di balik kengeriannya, gua mendapat kesempatan untuk menguji nyali dalam wahana yang digarap dengan serius dan kedetailan yang bikin kagum. Continue reading

Wawancaur: The Freaky Teppy

Rejeki bisa datang dari mana aja, salah satunya dengan menjadi buzzer di social media. Bukan hanya via Twitter atau Instagram, blog pun masih punya penikmat setianya sehingga tetap digemari oleh brand untuk menjadi channel komunikasi mereka.

Salah satu blogger yang namanya udah malang melintang di dunia per-blog-an dan per-buzzer-an adalah Stephany Josephine atau yang biasa kita kenal dengan nama Teppy. Cewe Aries ini dikenal dengan tulisannya yang lepas, binal, namun ga jarang, bikin kita berkontemplasi tentang hidup.

Kolom “Movie Review Suka-Suka” lah yang membuat gua pertama kali mampir dan akhirnya jatuh cinta dengan blognya: thefreakyteppy.com. Kini, kolom Teppy’s Coffee Shop List dan cerita travelingnya yang bikin gua bolak-balik mampir ke sana.

Blognya bukan hanya digemari oleh pembaca setianya tapi juga brand-brand kenamaan. Review produk dengan halus Teppy selipkan di antara cerita kesehariannya atau pemikirannya yang kadang random, kadang bikin mikir.

Bertepatan dengan ulang tahun blog-nya yang ke-9, gua mau nanya-nanya Teppy tentang blog dan rejeki yang datang dari situ. Daripada berpanjang lebar lagi, mari kita mulai wawancaur bulan ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Teppy benar-benar dilakukan via email. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

teppy

Hi, Tep! Langsung aja ya kita mulai. Ceritain dong awal mula lu bisa kenal blog!

Pertama kali tau keberadaan blog itu dari bukunya Raditya Dika yang pertama, yang judulnya “Kambing Jantan”, yang ceritanya diambil dari blog pribadinya. Cuma waktu itu gue sekadar tau aja, nggak ngulik blog lebih lanjut.

Terus awal tahun 2007, temen gue minjemin bukunya Miund yang judulnya “Gokil!”, yang cerita-ceritanya juga diambil dari blognya dia. Terus main ke blognya Miund, lalu berdua temen gue tadi, kita jadi tertarik bikin blog juga. Waktu itu, gue bikin blog pertama gue di blogdrive, tepat hari ini, 9 tahun yang lalu. Namanya thejosephines.blogdrive.com.

Awalnya sih iseng aja. Gue anggep blog gue kayak catatan harian atau sekadar “pelarian” kalau lagi suntuk. Dulu jaman kuliah kan gue belum traveling atau nyoba ngopi/makan sini situ, jadi blognya emang beneran kayak catatan harian dan pengamatan, terutama kalo ngalamin kejadian aneh/lucu.

Kenapa nama blog lu The Freaky Teppy?

Alasannya bodoh, sih. Dulu vocab Bahasa Inggris gue kan terbatas, hahaha… Gue cuma mikir kata apa yang rhyming sama Teppy, yang menggambarkan karakter gue dan tulisan gue, gampang diinget, dan sekalian bisa buat personal branding. Setelah 3 tahun ngeblog, pembaca dan temen-temen blog lama gue sering bilang kalo gue sarap, gila, nyeleneh, otaknya geser, dan sebagainya, jadi ya udah gue pilih kata “freaky” (gila, aneh, eksentrik) aja. Not exactly a positive term, tapi ya udahlah udah tanggung. HAHAHAHA.

Biasanya seorang Teppy dapet ide atau inspirasi nulis postingan dari mana sih? Continue reading

Agustus 2016!

Setelah sempet rutin menulis, di bulan Juli kemarin akhirnya ritme gua terantuk kembali. Penjahatnya apalagi kalo bukan kesibukan, baik itu di kantor, maupun di usaha sampingan.

FMB Consultant baru aja resmi pindahan ke kantor baru di Graha Mandiri, yang ditandai dengan selametan kecil-kecilan antara tim inti dengan para rekan yang selama ini udah banyak membantu. Klien terus berdatangan, yang ga jarang bikin kami kewalahan. Kerjaan makin banyak, tim makin nambah, yang artinya tanggung jawab juga makin besar.

Jadi maafkan gua yang kembali lelet dalam meng-update blog bulan kemarin. Janji mau cerita soal kehidupan awal berumah tangga malah bubar jalan. Semoga bisa gua tebus kapan-kapan ya.

Oke, kembali ke inti dari postingan awal bulan. Seperti biasa, gua akan cerita kira-kira tema apa yang akan gua angkat di bulan ini. Cerita tentang jalan-jalan ke Hong Kong masih pengen gua simpan untuk bulan-bulan mendatang, jadi sepertinya gua akan berbagi hal lain dulu bulan ini.

Belakangan ini, gua lagi kepikiran tentang rejeki. Gua ga pernah nyangka biaya berumah tangga itu gede banget. Pendapatan tetap gua dari gaji kantor banyak yang harus disisihin untuk keperluan sehari-hari. Tapi anehnya, tabungannya ada aja. Kadang ada aja pendapatan tambahan yang bikin gua dan Sarah ga tenggelam oleh tagihan. Continue reading